Posted by: fadilarahim | December 9, 2011

Ummat Membutuhkan Generasi

Membangun Generasi Harapan Ummat

Oleh: Fadila Rahim

            Remaja adalah tulang punggung masyarakat, mereka sebagai aset untuk meneruskan stafet perjuangan suatu bangsa. Baik dan buruknya suatu bangsa bisa dilihat dari remajanya, jika remajanya baik, baik pula nasib sebuah bangsa tersebut dan begitulah sebaliknya.

Bagaimana dengan negara kita? menurut temuan survei lembaga pemerintah Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) membuat hati terenyuh, menunduk lemas sembari menggelengkan kepala. Kita benar-benar ‘’shock’’ dibuat data yang menunjukkan perubahan signifikan dalam kehidupan remaja kita yang semakin permisif, tidak tabu lagi berzina, merusak moral dan mengancam masa depan bangsa jika tidak disikapi dengan serius.

Survei tersebut menunjukkan, 52 persen remaja Medan sudah melakukan hubungan seks pranikah (seks bebas) mengejutkan warga Medan. Masalahnya, di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) saja persentase kenakalan remajanya hanya 51 persen. Berarti, kenakalan remaja Medan dalam urusan seks sudah melebihi Jakarta dan wilayah di sekitarnya yang selama ini dianggap menganut kehidupan modern, serba bebas melakukan apa saja asalkan suka sama suka tanpa memikirkan risiko. Medan hanya dikalahkan Surabaya. Remaja di sana (Arek-arek Suroboyo) lebih tinggi sedikit angkanya, mencapai 54 persen di mana remajanya melakukan seks pranikah, Bandung 47 persen dan Yogyakata serta sejumlah kota lainnya di peringkat bawah.

Terkait dengan kehamilan yang tidak diinginkan, menurut hasil penelitian di Yogya dari 1.160 mahasiswa, sekitar 37 persen mengalami kehamilan sebelum menikah. Sudah barang tentu sebagian besar akhirnya digugurkan karena merasa malu, belum punya pekerjaan dan alasan lainnya. Sedangkan data penelitian penyalahgunaan narkoba menunjukkan, dari 3,2 juta jiwa yang ketagihan narkoba, 78 persennya adalah remaja. Sedangkan penderita HIV/AIDS terus meningkat setiap tahunnya dari kalangan remaja dan orang tua. Semua data itu menunjukkan perubahan zaman, sudah semakin ‘’edan’’. (waspadamedan.com)

Belum melihat data-data yang lain, seperti kasus pencurian, pembunuhan, minuman keras, tawuran, dan lainnya. Meskipun demikian kita tidak meniadakan adanya remaja-remaja yang berprestasi, namun keadaannya sangatlah tidak imbang dengan yang masih akrab pada kehancuran, Jumlahnya sangat sedikit.

Siapa yang bertanggung jawab?

Dengan fenomena diatas, mungkin terbesit dalam hati kita, siapa yang bertanggung jawab dengan beberapa kasus diatas? Apakah itu tugasnya hakim, orang tua, guru, atau merupakan tanggung jawab kita semua?

Jika kita sisir satu persatu, tugas hakim adalah memfonis hukuman yang dituntut oleh jaksa, sedang ia tidak tau perkembangan remaja, baik itu dirumah, sekolah, pergaulan atau ditempat lain. jadi ruang lingkup untuk menghambat kerusakan remaja sangat tidaklah cukup. Jika itu dibebankan pada orang tua, tugas orang tua hanyalah mendidik anak-anaknya dirumah, ia hanya bisa memperhatikan anak-anaknya dirumah, itupun kalau tidak disibukkan dengan pekerjaan yang lain, tentu pengawasan pada anak-anak sangat kurang, apalagi ia tidak mengetahui pergaulan anak-anaknya di sekolah atau tempat lain. Jadi untuk menjadi solusi bagi remaja sangat tidak cukup. Bagaimana dengan guru? Tugas guru hanyalah mengajar disekolah, ia hanya fokus pada pelajarannya, tidak pada yang lain, seperti mentarbiyah, mendidik akhlak dan prilakunya serta yang lain, kemungkinan itu sangatlah kecil. Walhasil guru bukanlah satu-satunya untuk menanggulangi kerusakan remaja. Lantas siapa yang bertanggung jawab dengan ini semua???

Masih ada satu anternatif, apakah ini kewajiban kita semua untuk memperbaiki? Tentu ini adalah jawaban yang pas untuk situasi dan kondisi saat ini. Dalam hal ini kita harus bahu membahu untuk menanggulanginya. Bagi seorang hakim, supaya mempertegas hukuman siapa yang melanggar, tidak mudah untuk menerima sogok, akhirnya tidak jauh beda sama sebelumnya bahkan pelanggarannya lebih dahsyat lagi. Bagi orang tua, agar mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang islami, menjaga pergaulan anak, menyekolahkan anak di sekolah yang memperhatikan tarbiyah dan akhlak anak. Begitu juga dengan guru, hendaknya memperbanyak memotivasi pada anak akan pentingnya akhlak yang baik, tentu seorang guru memulai terlebih dahulu agar dicontoh oleh murid-muridnya.

Adakah peluang bagi remaja dan orang tua?

Belum terlambat, pintu itu masih terbuka lebar-lebar, bagi para remaja yang senantiasa ingin memperbaiki akhlak atau prilakunya dengan baik, mendapatkan kesuksesan di dunia maupun di akhirat, ingin menjadi dambaan dan harapan orang tua di hari kelak, sebagaimana sabda Rasulullah r.

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية أوعلم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له ) ابن ماجه(

            Jika anak adam telah meninggal, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal, shodaqah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang selalu mendo’akannya. (HR. ibnu Majah)

Hadis diatas juga sebagai motifasi bagi orang tua, agar mengarahkan dan mendidik anak-anaknya supaya menjadi anak yang sholeh, karena ia merupakan tabungan amal baginya, yang mana pada saat itu semua amal waktu di dunia sudah terputus, bertepatan dengan terputusnya ruh dari badan. Motifasilah anak agar menuntut ilmu, sebagaimana wasiatnya Sulaiman bin Malik pada anaknya, Wahai anakku, belajarlah ilmu, karena dengan ilmu orang rendah akan menjadi mulia, orang yang malas akan menjadi pintar dan budak-budak akan melebihi derajat raja.”

Peluang yang ada diantaranya, masih adanya pondok-pondok pesantren yang siap membina dan mentarbiyah santri-santrinya dengan bina’an dan tarbiyah islamiyah. Pendidikan di pesantren berbeda dengan disekolah lain, yang mana antara pelajaran dan tarbiyah diseimbangkan, dengan tarbiyah tersebut akan meluluhkan hatinya untuk mengacu pada Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana pemahaman salafus shalih. Memiliki jiwa ikhlas, ukhuwah yang kokoh, meneladani para ulama’, taat kepada pemimpin, hidup sederhana, mandiri dan siap berkorban untuk kepentikan islam dan kaum muslimin. Memang tidak ada jaminan orang yang masuk pesantren menjadi baik semua, akan tetapi setidaknya ada usaha yang keras untuk mendidik dengan akhlak yang baik dan mempelajari ilmu dien sesuai dengan pemahaman salaf.

Jiwa inilah yang akan mengurangi angka dari setiap kasus atau kerusakan pada remaja, karena ia akan terjaga dengan ilmu yang ia pelajari, dan diterbiasakan dengan pendidikan yang islami.

Menjadi generasi harapan Ummat

Jika ada kesadaran untuk itu, ada harapan besar bagi Ummat kepada para remaja. Mereka sudah lama menunggu generasi yang akan menyelamatkan bangsa dan agamanya dari kehinaan dan keterpurukan. Ada rasa bangga dalam tubuh ummat jika perubahan itu semakin hari semakin baik. Dari yang awalnya sangat akrab dengan musik, beruban menjadi akrab dengan al-Qur’an yang akan menjadikan hatinya semakin lunak dan taat, dari yang awalnya suka ngebut ketempat maksiat, berubah ngebut mendatangi pengajian, dari yang awalnya sering membangkang pada orang tua berubah menjadi berbakti pada orang tua, mengajak keluarganya dan yang disekitarnya untuk taat pada aturan
Allah dan Rasul-Nya, menegur kerluaganya yang melanggar aturan Allah U dan RasulNya, begitulah selanjutnya hingga terbangun sebuah ummat yang dicap oleh Allah U menjadi umat yang terbaik.

Allah U berfirman:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ

            Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.      (QS. Ali Imran: 110)

Wallahu a’lam bish showab


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: