Posted by: fadilarahim | May 27, 2010

WASIAT 2

Hendaknya Berbuat Baik Terhadap Kedua Orang Tua.

Dalam al-Qur’an dan hadits, banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan untuk selalu berbuat baik kebada kedua orang tua. Diantaranya adalah:

Firman Allah:

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

“Berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa”.

Yang dimaksusd dengan ihsan kepada kedua orang tua yaitu menyampaikan setiap kebaikan kepada keduanya semampu kita dan bila memungkinkan mencegah gangguan terhadap keduanya. Menurut Ibnu Athiyah, kita wajib juga mentaati keduanya dalam hal-hal yang mubah, harus mengikuti apa-apa yang diperintahkan keduanya dan menjauhi apa-apa yang dilarang.

Firman Allah juga:

وَقَضى رَبُّكَ أَلّا تَعبُدُوا إِلّا إِيّاهُ وَبِالوَلِدَينِ إِحساناً إِمّا يَبلُغَنَّ عِندَكَ الكِبَرَ أَحَدُهُما أَو كِلاهُما فَلا تَقُل لَهُما أُفٍّ وَلا تَنهَرهُما وَقُل لَهُما قَولاً كَريماً وَاِخفِض لَهُما جَناحَ الذُلِّ مِنَ الرَحمَةِ وَقُل رَبِّ اِرحَمهُما كَما رَبَّياني صَغيراً

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia . (QS al-Isra: 23-24).

Ibnu Katsir menerangkan ayat di atas bahwa: “Allah SWT telah mewajibkan kepada semua manusia untuk beribadah hanya kepada Allah saja, tidak menyekutukan dengan yang lain. ‘Qadla’ disini bermakna perintah sebagaimana yang dikatakan Imam Mujahid, wa qadla yakni washa (Allah berwasiat). Kemudian dilanjutkan dengan  ‘Wabil waalidaini ihsana’ hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.”

Di antara hikmah adanya perintah bertauhid  yang selalu diiringi perintah berbakti pada orang tua yaitu: pertama, Allah SWT yang menciptakan dan yang memberikan rizki. Sedangkan kedua orang tua adalah sebab adanya anak. Kedua, Allah SWT telah memberikan semua kenikmatan. Kemudian kedua orang tua yang telah memberikan segala yang kita butuhkan seperti makan, minum, pakaian dan yang lainnya. Ketiga, Allah adalah Rabb manusia yang membina dan mendidik manusia di atas manhaj-Nya, Demikian juga kedua orang tua telah mendidik kita sejak kecil.

Kemudia Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan tentang lebih ditekankannya berbuat baik pada kedua orang tua pada usia lanjut karena :  Pertama: Keadaaan usia lanjut adalah keadaan dimana keduanya membutuhkan perlakuan yang lebih baik karena keadaannya pada saat itu sangat lemah.

Kedua: Semakin tua usia orang tua berarti semakin lama orang tua bersama anak. Hal ini dapat menyebabkan ‘Si Anak’ merasa berat sehingga dikhawatirkan akan berkurang berbuat baiknya, karena segala sesuatunya diurusi oleh anak dan keluarlah perkataan ‘ah’ atau membentak atau dengan ucapan, “Orang tua ini menyusahkan”, atau yang lain. Apalagi apabila orang tuanya sudah pikun, akan membuat anak mudah marah atau benci kepadanya. Oleh karena itu Allah سبحانه و تعالى berwasiat agar manusia selalu ingat untuk berbakti kepada kedua orang tua.

Keutamaan Berbakti pada kedua Orang Tua

Pertama, berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama. Abdullah bin Mas’ud ra meriwayatkan: “Aku bertanya kepada Nabi SAW tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah ? Nabi SAW menjawab, Pertama shalat pada waktunya, kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah” (HR Bukhari Muslim)

Kedua, ridla Allah tergantung kepada keridhaan orang tua. Rasulullah SAW bersabda, “Ridha Allah tergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR Bukhari)

Ketiga, Berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami dengan cara bertawasul dengan amal shahih tersebut, sebagaimana kisah 3 orang yang terkurung dalam gua, lalu salah satu mereka bertawasul dengan amalan baktinya pada rang tua. Kisah ini terdapat dalam Fathul Baari 4/449 No. 2272) dan Muslim (2473) (100) pada Bab Qishshah Ashabil Ghaar Ats Tsalatsah Wat-Tawasul bi Shalihil A’mal.

Keempat, Akan diluaskan rizki dan dipanjangkan umur. Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari Muslim). Dalam silaturahmi, yang harus didahulukan adalah kepada kedua orang tua sebelum kepada yang lain.

Kelima, Manfaat dari berbakti kepada kedua orang tua yaitu akan dimasukkan ke jannah (surga) oleh Allah سبحانه و تعالى. Di dalam hadits Nabi صلی الله عليه وسلم disebutkan bahwa anak yang durhaka tidak akan masuk surga. Maka kebalikan dari hadits tersebut yaitu anak yang berbuat baik kepada kedua orang tua akan dimasukkan oleh Allah سبحانه و تعالى ke jannah (surga).

Banyak hadits yang menyebutkan tentang ruginya seseorang yang tidak berbakti kepada kedua orang tua pada waktu orang tua masih berada di sisi kita. Nabi SAW bersabda: “Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga.” (HR Muslim).

Haramnya Durhaka pada Kedua Orang Tua

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Kitabul Adab dari jalan Abi Bakrah ra, telah bersabda Rasulullah SAW: “Sukakah saya beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang paling besar, tiga kali (beliau ulangi). Sahabat berkata, ‘Baiklah, ya Rasulullah’, bersabda Nabi. “Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua, serta camkanlah, dan saksi palsu dan perkataan bohong”. Maka Nabi selalu mengulangi, “Dan persaksian palsu”, sehingga kami berkata, “semoga Nabi diam.” (HR Bukhari Muslim). Hadits di atas menunjukkan bahwa dosa besar yang paling besar setelah syirik adalah durhaka kepada kedua orang tua.

Kita harus menjauhi dari durhaka pada orang tua karena akibat dari kedurhakaan ini akan dirasakan di dunia. Nabi SAW bersabda:  “Dua perbuatan dosa yang Allah cepatkan siksanya di dunia yaitu berbuat dzalim dan durhaka kepdada orang tua.” (HR Bukhari). Dan seandainya ada seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya lalu mereka mendo’akan kejelekan, maka do’a tersebut bisa dikabulkan oleh Allah SWT. Sebab Nabi  SAW bersabda: “Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah SWT yang pertama yaitu do’a kedua orang tua terhadap anaknya yang kedua do’a orang yang musafir dan yang ketiga do’a orang yang didzalimi.” (HR Bukhari)

Bentuk-Bentuk Berbakti pada Orang tua

Pertama, Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik.

Kedua, berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut.

Ketiga, Tawadhu’ dan tidak sombong apabila sudah meraih kesuksesan.

Keempat, memberikan infak kepada kedua orang tua.

Kelima, Mendo’akan orang tua.

Tahapan-tahapan dan Adab-adab Berdakwah kepada Orang Tua

Banyak dalil yang menjadi landasan disyari’atkannya mendakwahi kedua orang tua, seperti firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS at-Tahrim: 6). Menurut Ibnu Jauzi menjaga diri adalah dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Sedangkan menjaga keluarga adalah dengan memerintahkan mereka untuk melakukan ketaatan dan mencegah merekadari melakukan maksiat (Zadul Masir: 8/312)

Dan juga firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabatmu.” (QS an-Nisa’: 135).

Imam Ghazali berkata: “Yang dimaksud adalah amar ma’ruf kepada kedua orang tua dan kerabat.” (Ihya’ Ulumuddin: 2/307). Ibnu Dawud as-Shalihi berkata: “Ayat ini secara jelas mencakup tentang amar ma’ruf nahi mungkar dan hukumnya wajib, bahkan terhadap orang tua dan kerabat.” (al-Kanzul Akhbar fi Amri bil Ma’ruf wan Nahyi ‘anil Mungkar: 1/47)

Ada beberapa tahapan dan adab-adab dalam berdakwah pada orang tua yang bisa ditempuh oleh seorang anak. Pertama, Seorang anak memulai dengan menjelaskan akibat buruk dari kemungkaran dan dampak yang ditimbulkan. Kedua, Jika dengan cara memberi penjelasan, memberi nasihat dan menakut-nakuti dengan siksa Allah tidak berhasil, maka seorang anak cukup dengan kemungkaran itu sebatas keperluan. Ketiga, Hendaknya seorang anak memperhatikan dampak amar ma’ruf nahi mungkar yang ia lakukan dengan tangan. Jika kerusakan yang timbul lebih besar daripada maslahat yang ingin dicapai, seorang anak tidak boleh mengubah kemungkaran dengan tangannya, bahkan hukumnya haram.

Ibnu Taimiyah menjelaskan tentang kaidah yang hendaknya diperhatikan dalam melakukan amar ma’ruf nahi mungkar: “Sesungguhnya memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, maka kita pertimbangkan dampak akhirnya. Jika sekiranya maslahat yang dikorbankan akan menyebabkan terjadinya kerusakan atau kemudharatan yang lebih besar, maka tidak diperintahkan bahkan hukumnya haram, jika yang terjadi kerusakannya lebih besar dari maslahatnya.” (al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu anil Mungkar: 21)

Selanjutnya kami mengajak kaum muslimin untuk memberi perhatian dalam berdakwah pada orang tua dengan memperhatikan adab-adab islam dan juga kepada orang tua untuk menerima dakwah dari anak-anak mereka dan mendorong mereka untuk terus melakukan kebaikan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: