Posted by: fadilarahim | May 17, 2010

MEREKA MENJAWAB

MEREKA  MENJAWAB

(Menjawab alasan kelompok yang menolak hadits ahad sebagai hujjah dalam aqidah dan amal)

oleh: Fadila Rahim

Artikel ini sengaja kami tulis dari hasil dialog kami dengan salah satu blogger yang menulis sebuah artikel yang berjudul “Kedudukan Khabar Ahad dalam Masalah Aqidah” dalam dialog yang sukup panjang tersebut kami menganalisa jawaban penulis artikel dengan beberapa masalah, diantaranya adalah:

Pertama: berkenaan dengan diutusnya Mu’ad bin jabal ke Negeri Yaman, Rasulullah memerintahkan Mu’ad hendaknya yang pertama kali disampaikan untuk mentauhidkan Allah, apakah ini bukan permasalahan aqidah? Dipandang dari ilmu hadits ini termasuk hadits ahad dikarenakan yang meriwayatkan tidak sampai mutawatir.

Mereka menjawab: ya, itu kan dakwah/tabligh, beda konteks nya. kalau diperpanjang nanti bisa juga org berkata : yang nyampaikan wahyu kan malaikat jibril sendiri, itu kan khabar ahad? wah repot

Ia melanjutkan

Pembahasan mutawatir dan ahad ini kan pembahasan kaum muslimin dalam berdalil. Dalam tabligh, orang yang menerima dakwah juga wajib memverifikasi apakah yang disampaikan mu’adz adalah wahyu (al qur’an/ as sunnah) ataukah ra’yunya muadz, atau bahkan sekedar urusan teknik kehidupan, dll. sehingga umatnya jadi pintar. lagi pula kadang shahabat juga keliru menyampaikan seperti kasus Ibnu Mas’ud r.a, dalam satu fatwanya, ia pernah menyatakan bahwa lelaki yang mengawini wanita lalu menceraikan sebelum jima’, maka ia boleh mengawini ibu wanita itu. Ketika ia berkunjung ke Madinah dan membahas isu itu, selanjutnya ia mengakui telah bersalah dan kemudian membatalkan fatwanya.

Lanjutan

Hemat saya kita semua perlu merujuk kitab – kitab asli yang ditulis ‘ulama terdahulu, sehingga kita tidak mencatut nama mereka untuk menjustifikasi pendapat kita, padahal sebenarnya mereka menyatakan yg lain.

Jawaban

Kita katakan pada mereka, kalau begitu mereka sebebarnya tidak memahami apa itu hadits, pengertian hadits menurut ahli hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad baik itu berupa perkataan, perbuatan, dan pengakuan.

Kembali pada hadits ahad, hadits ditinjau dari sampainya kepada kita itu terbagi dua. Yaitu mutawatir dan ahad. Yang dimaksud dengan mutawati adalah apabila jalur perawi dari setiap thobaqatnya sepuluh atau lebih. Kalau ahad, apabila jalur perawi dari setiap thobaqatnya tidak sampai pada mutawatir. Berkenaan dengan diutusnya Mu’adz, bagaimanapun ini dapat digolongkan pada hadits ahad, dikarenakan jumlah perawinya tidak sampai pada mutawatir.

Jika mereka menyamakan hal ini dengan wahyu yang dibawa oleh mala’ikat jibril, maka ini merupan qiyas yang batil, karena tidak masuk pada konteks di atas.

***

Mereka mengatakan “Dalam tabligh, orang yang menerima dakwah juga wajib memverifikasi apakah yang disampaikan mu’adz adalah wahyu (al qur’an/ as sunnah) ataukah ra’yunya muadz, atau bahkan sekedar urusan teknik kehidupan, dll.” Kita katakan bahwa yang disampaikan mu’ad adalah wahyu, karena datang dari rasulullah. Setiap apa yang diucapkan oleh rasulullah itu merupakan wahyu, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى * إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quraan) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)

***

Mereka mengatakan “Hemat saya kita semua perlu merujuk kitab – kitab asli yang ditulis ‘ulama terdahulu, sehingga kita tidak mencatut nama mereka untuk menjustifikasi pendapat kita, padahal sebenarnya mereka menyatakan yg lain” kita katakan pada mereka, mana kitab asli yang ditulis ‘ulama terdahulu? Sejak kapan ulama’ salaf berbeda dalam hal ini?

Yang kami ketahui, yang pertama kali mensyaratkan bahwa aqidah itu harus dibangun dengan sesuatu yang yakin(mutawati) itu adalah kalangan mu’tazilah, dali kalangan salaf tidak ada yang mensyaratkan demikian, bisa baca buku tarikh tadwinul aqidah as-salafiyah disana ada lebih dari tiga ratus ulama’ yang membahas tentang aqidah. Kita tanyakan pada mereka adakah diantara mereka yang mensyaratkan sebgaimana yang mereka syaratkan?

Kemudian dari ulama’ hadits juga demikian, ulama’ hadits yang mana yang mensyaratkan demikian?

***

Hal ini sengaja kami ungkap pada artikel ini dikarenakan kami tidak mendapatkan jawaban sejak adu argumen dari mereka.

Kedua: Di dalam Kitab Shohih Bukhari paling tidak terdapat 58 hadist dalam kitab Iman. Adapun dalam Shohih Muslim terdapat paling tidak 287 hadist dalam kitab Keimanan. Kebanyakan hadits- hadits tersebut adalah Ahad. Kalau kita hanya mengakui hadist mutawatir dalam masalah keyakinan, berarti sebagian hadist dalam kedua buku tersebut tertolak dan tidak bisa di pakai. Dan ini menyelesihi kesepakatan kaum muslimin semenjak 13 abad yang lalu.

Mereka menjawab: pada tulisan diatas sudah saya katakan bahwa pendapat terkuat menyatakan khabar ahad yufiidudz dzan (berfaedah dzan), dan aqidah tidak boleh dibangun diatas landasan yang tidak yaqin. namun bukan berarti khabar ahad harus ditolak. dzon itu dugaan kuat namun tidak sampai taraf yaqin, jadi juga harus tetap dipercaya dengan taraf kepercayaan yg dzon juga, artinya kalau ada perbedaan pendapat dalam masalah ini tidak akan mengeluarkan yg berbeda tersebut dari keimanan, walaupun untuk menolakjuga harus punya dalil yang lebih kuat dari dzon tadi, bukan sembarang tolak. dzon kalau shahih atau hasan kan sangat/cukup kuat untuk dipercaya.

Jawaban

Kita katakan pada mereka, tidak semua hadits ahad berfaedah dzan, akan tetapi ada juga hadits ahad yang berfaedah yakin, apabila ada qara’in yang menyertainya. Kita ambil contoh saja hadits dari Umar bin Khaththab yang berbunyi “sesungguhnya amalan itu tergantung pada niat” hadits ini tergolong hadits ahad, namun dengan demikian kita mengetahui bahwa ini perkataan rasulullah. Inilah yang ditetapkan oleh Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Hajar al-Atsqolani, dan  lainya.

Kemudian jawaban diatas sangat ironis sekali, yang kami ungkapkan diatas hadits-hadits yang bermasalah tentang iman. Sedangkan arti iman itu sendiri sebagaimana yang sudah disepakati oleh ahlus sunnah wal jama’ah, menyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan, sedangkan perkataan mereka diatas “namun bukan berarti khabar ahad harus ditolak. dzon itu dugaan kuat namun tidak sampai taraf yaqin, jadi juga harus tetap dipercaya dengan taraf kepercayaan yg dzon juga” timbul pertanyaan dalam benak kita, apakah mungkin sesuatu yang kita imani itu dapat dipercaya dengan taraf kepercayaan yang dzon juga? Kalau begitu emang mereka mengartikan iman bagaimana? Ini tentu sangat bertentangan dengan arti iman yang telah disepakati oleh Alhus Sunnah Wal Jama’ah.

***

Kemudian bacaan dalam sholat ada juga yang dari hadits ahad, seperti:

اللهم إني أعوذ بك من عذاب القبر وأعوذ بك من فتنة المسيح الدجال وأعوذ بك من فتنة المحيا وفتنة الممات ( رواه البخارى

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur dan aku berlindung kepadamu dari fitnah Masih Dajjal dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian.“ (HR. Bukhari )

Terus apakah kita bisa berdo’a kepada Allah kemudian mempercayainya dengan taraf dzon? Sungguh ini sangat ironis sekali, dan tidak ada dari kalangan salaf yang menyatakan demikian. Wallahu A’lam Bish Showab.

Bekasi, 17-05-2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: