Posted by: fadilarahim | May 11, 2010

Pluralisme Dalam Islam

Banyak masyarakat yang menanyakan hal ini terhadat lajnah daimah, dan juga permasalahan ini sudah menyebar di media massa, baik dari tulisan dan lain sebagainya dengan tujuan menyeru kepada keyakinannya (Pluralisme), menyatukan antara agama Islam, Yahudi, Nasrani, dan lainnya.

Setelah diperhatikan dan dipelajari, lajnah da’imah menekankan bahwa:

  1. Bahwasanya diantara pokoh keyakinan dalam islam adalah Ma’lumat minaddin biddarurah (sesuatu yang sudah sudah jelas dalam agama), yang telah disepakati oleh kaum muslimin, bahwasanya tidak ada di bumi ini agama yang haq kecuali agama Islam, agama Islam merupakan agama terakhir dan penghapus semua agama dan syare’at sebelumnya, dan tidak ada dalam bumi ini agama yang beribadah kepada Allah kecuali agama Islam. Allah berfirman:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran: 85)

Adapun Islam setelah diutusnya Nabi Muhammad, ia hanya diutus untuknya dan tidak pada agama yang lain.

  1. Diantara salah satu pokok  aqidah dalam islam, bahwasanya kitab Allah yang berupa Al-Qu’an adalah kitab terakhir turun dan ia penghapus semua kitab yang diturunkan sebelumnya yang berupa taurat, injil, zabur, dan lainnya. Dan tidak ada satu kitabpun yang diturunkan oleh Allah dalam rangka ibadah padaNya kecuali Al-Qu’an. Sebagaimana firman Allah:

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِناً عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ عَمَّا جَاءكَ مِنَ الْحَقِّ

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (QS. Al-Maidah: 48)

  1. Wajib beriman Bahwa Taurat dan Injil telah dihapus oleh Al-Qur’an. Dikarenakan keduanya telah dirubah dan diganti dengan penambahan dan pengurangan, hal ini sebagaimana hal sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an yang bunyinya:

فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَاقَهُمْ لَعنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ وَنَسُواْ حَظّاً مِّمَّا ذُكِّرُواْ بِهِ وَلاَ تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىَ خَآئِنَةٍ مِّنْهُمْ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنْهُمُ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya , dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ma’idah: 13)

Dan firmanNya juga:

فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَـذَا مِنْ عِندِ اللّهِ لِيَشْتَرُواْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُونَ

Maka kecelakaan yAng besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 79)

Dan firmanNya juga:

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقاً يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُم بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran: 78)

Dengan ini meskipun ia benar maka akan terhapus dengan Islam, selainnya sudah dirubah dan diganti. Telah ditetapkan oleh Nabi, bahwasanya ia marah ketika melihat Umar memegang taurat, kemudian ia berkata: “”Bukankah isinya hanya orang-orang yang bodoh Wahai Ibnu Khottob?. Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, saya datang kepada kalian dengan membawa cahaya yang terang. Janganlah kalian bertanya kepada mereka tentang sesuatu! Bagaimana jika mereka mengabari kalian kebenaran lalu kalian mendustakannya atau mereka (menyampaikan) kebatilan lalu kalian membenarkannya?. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa alaihissalam hidup maka tidak ada jalan lain selain dia mengikutiku.”

  1. Diantara pokok keyakinan dalam islam, bahwasanya Nabi kita dan Rasul kita Muhammad SAW, beliau sebagai penutup para Nabi dan Rasul, sebagaimana firman Allah:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu , tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab: 40)

Maka tidak ada satu rasulpun yang wajib diikuti kecuali Nabi Muhammad SAW, meskipun ada dari para Nabi Allah atau rasulNya yang hidup, mereka akan mengikuti ajaran Nabi Muhammad, dikarenakan ia tidak berhak untuk diikutinya, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

وَإِذْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّيْنَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُواْ أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُواْ وَأَنَاْ مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya” . Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (QS. Ali Imran: 81)

Adapun Nabi Isa apabila ia turun pada akhir zaman, niscaya ia akan mengikuti Nabi Muhammad SAW, dan akan berhukum dengan syare’atnya, sebagaimana firman Allah:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأَغْلاَلَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُواْ بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُواْ النُّورَ الَّذِيَ أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka . Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al A’raf: 157)

Sebagaiman pokok seyakinan dalam Islam adalah diutusnya Nabi Muhammad SAW kepada seluruh manusia, Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيراً وَنَذِيراً وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba’: 28)

Dan firman-Nya juga:

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua. (QS. Al A’raf: 158)

  1. Diantara pokok Islam adalah wajib meyakini setiap yang orang yang tidak masuk Islam dari kalangan Yahudi dan Nasrani dan lainnya, serta menamakan mereka dengan kafir, dikarenakan mereka itu musuh Allah dan RasulNya serta kaum Mukminin, dan mereka itu penduduk Neraka, sebagaimana firman Allah:

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

“Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata. (QS. Al Bayyinah: 1)

Dan firmanNya juga:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS. Al-Bayyinah: 6)

Dalam Hadits Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka.”[1]

Oleh karena itu barangsiapayang tidak mengkafirkan orang Yahudi dan Nashrani maka ia kafir, sebagaimana dalam sebuah kaidah (Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang yang kafir maka ia kafir).

  1. Perlu diketahui bahwa pokok dari penyeru pada faham pluralisme itu adalah dengan tujuan ingin mencampur adukkan antara yang haq dan bathil, mereka ingin menghancurkan islam, mereka ingin merobohkan tiangnya, dan akan membawa pemeluknya pada pemurtadan secara menyeluruh, benarlah apa yang difirmankan oleh Allah:

وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. (QS. Al-Baqarah: 217)

Dan firmanNya juga:

وَدُّواْ لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُواْ فَتَكُونُونَ سَوَاء فَلاَ تَتَّخِذُواْ مِنْهُمْ أَوْلِيَاء حَتَّىَ يُهَاجِرُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدتَّمُوهُمْ وَلاَ تَتَّخِذُواْ مِنْهُمْ وَلِيّاً وَلاَ نَصِيراً

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling , tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.(QS. An Nisa’:89)

  1. Diantara dampak penyeru kesesatan ini adalah ingin meniadakan perbedaan antara Islam dan Kafir, yang hak dan yang batil, yang benar dan mungkar, menghilangkan kebencian diantara orang muslim dan kafir, meniadakan al-Wala’ dan Bara’, dan meniadakan jihad, berperang dijalan Allah untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini, Allah berfirman:

قَاتِلُواْ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَلاَ يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُواْ الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (QS. At-Taubah: 29)

Dan firmanNya juga:

وَقَاتِلُواْ الْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS. At-Taubah: 36)

  1. Apabila penyeru pada paham pluralisme itu orang muslim, maka ia dinyatakan keluar dari Islam (secara jelas), karena ia bertentangan dengan pokok keyakinan serta ridho terhadap kekafiran kepada Allah SWT. Mereka mengingkari kebenaran Al-Qur’an yang mana ia menghapus kitab-kitab sebelumnya, dan ia mengingkari agama islam yang telah menghapus syare’at dan agama sebelumnya. Oleh karena itu, maka faham ini ditolak secara syar’I, diharamkan secara qoth’I dengan dalil-dalil syar’I dalam islam dari al-Qur’an, sunnah dan ijma’ ulama’.
  2. Untuk memperkuat penjelasan sebelumnya, perlu kita ketahui beberapa hal dibawah ini:
    1. Tidak boleh bagi seorang muslim yang beriman dengan Allah sebagai Rabb, dan Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi dan rasul, untuk menyerukan pada pemahaman yang menyesatkan ini.
    2. Tidak boleh bagi seorang muslim mencetak Taurat dan Injil menjadi satu, maka bagaimana jika dicetak dengan al-Qur’an menjadi satu!! Maka barangsiapa yang melakukannya atau menyeru kepadanya, niscaya ia akan berada dalam kesesatan yang amat jauh, karena ia menggabungkan antara yang haq(al-Qur’an) dan sesuatu yang telah dirubah dan dihapus (Taurat dan Injil).
    3. Begitu juga kaum muslimin tidak boleh mendatangi undangan(untuk pembangunan masjid, dan gereja, dan tempat ibadah lain) dalam satu tempat, karena seperti itu merupakan bentuk pengakuan padanya.

10.  Yang wajib kita ketahui bahwasanya menyeru(berdakwah) kepada orang-orang kafir secara umum dan ahli kitab secara khusus adalah wajib bagi kaum muslimin, dalam nash-nash yang ada dalam al-Qur’an dan sunnah, akan tetapi hal seperti itu tidak akan tercapai kecuali dengan cara penjelasan dan dialog secara benar.


[1] HR. Muslim. No. 218


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: