Posted by: fadilarahim | May 11, 2010

Pluralisme Antara Pembaharu Dan Suatu Yang Baru

إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها دينها. رواه أبو داود

Sesungguhnya Allah senantiasa akan membangkitkan untuk umat ini pada setiap akhir seratus tahun (satu abad), orang yang akan memperbarui agamanya.”

(HR. Abu Daud)

Definisi Pembaharu

Seorang “pembaharu” bukanlah seorang Nabi, dan ini pasti tidak diragukan. Akan tetapi karakter dan sepak terjangnya mendekati karakter dan sepak terjang yang dimiliki para Nabi. Beberapa ciri yang pasti harus dimiliki oleh seorang pembaharu dalam Islam adalah: Pikiran yang jernih, wawasan yang luas, sikap yang konsisten, kemampuan menganalisa hal-hal mana yang melampaui batas dan mana yang akan mengantarkan pada tujuan, mampu memelihara keseimbangan; memiliki kekuatan berpikir yang sama sekali tidak terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat rendah dan primordial yang terus berjalan sepanjang masa; berani dan pantang mundur dalam menghadapi tantangan zaman; memiliki kemampuan memimpin; kemampuan ijtihad, membangun dan membina masyarakat.

Di atas itu semua ia harus seorang Muslim yang memiliki keimanan, pandangan, pemahaman, dan perasaan yang benar tertang Islam, yang dengan itu ia mampu membedakan antara Islam dan jahiliyah, sampai pada hal yang bersifat parsial sekalipun. Ia juga haruslah seorang yang mampu menjelaskan kebenaran dan memisahkannya dari segala yang menodai sepanjang sejarah perjalanan Islam. Itulah ciri-ciri khusus yang harus dimiliki oleh seorang pembaharu, karakter semacam ini dalam skala yang lebih besar merupakan sifat-sifat para Nabi dan Rasul.

menurut kitab  Mafhuum Tajdiidid Dien oleh Busthami Muhammad Said, pembaharuan yang dimaksud dalam istilah tajdid itu adalah mengembalikan Islam seperti awal mulanya. Abu Sahl Ash-Sha’luki mendefinisikan tajdid dengan menyatakan,         “Tajdiduddin ialah mengembalikan Islam seperti pada zaman salaf yang pertama.”[1] Atau menghidupkan sunnah dalam Islam yang sudah mati di masyarakat.  Jadi bukannya mengadakan pemahaman-pemahaman baru apalagi yang aneh-aneh yang tak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan adapun menyimpulkan hukum sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah mengenai hal-hal baru, itu namanya ijtihad. Jadi yang diperlukan dalam Islam adalah tajdid dan ijtihad, bukan pembaharuan dalam arti mengakomodasi Barat ataupun adat sesuai selera tanpa memperhatikan landasan Islam.

Perbedaan Pembaharu Dengan Suatu Yang Baru

Pada saat ini, hampir semua orang tidak bisa membedakan antara membuat sesuatu yang baru (tajaddud) dengan pembaharu (tajdid), sehingga dengan begitu saja mereka memberikan sebutan “pembaharu” kepada setiap orang yang membuat suatu yang baru, dengan anggapan bahwa barangsiapa yang menciptakan bentuk baru lalu memperjuangkannya dengan penuh semangat dan tak kenal lelah, dia adalah seorang “pembaharu”.

Prediakat ini mereka berikan terutama kepada orang-orang yang melakukan perbaikan kondisi ummat Islam dalam bidang fisik, apabila dalam bidang ini mereka lihat adanya kebobrokan. Orang mereka sebut “pembaharu” itu, berusaha menyelamatkan ummat dari libatan tradisi jahiliyah, namun ternyata ia hanya sekedar mengubahnya menjadi bentuk baru berupa sinkretisme antara islam dengan jahiliyyah, lalu memberi corak kehidupan masyarakat dengan warna-warna yang betul jahiliyyah, sehingga dengan demikian, hakikatnya “pembaharu” semacam ini bukanlah pembaharu, melainkan seorang pembuat sesuatu yang baru. Tujuan mereka bukannya memperbaiki aspek-aspek agama, melainkan membuat sesuatu yang baru dalam agama.

Disini jelas terdapat satu perbedaan yang amat tajam. Pembaharuan adalah merupakan suatu karya pembebasan dari tradisi jahiliyyah dengan mempergunakan berbagai sarana yang ada, dan bukan diartikan sebagai karya sinkretis dalam bentuk baru yang bukan merupakan perpanduan antara islam dan jahiliyyah. Bahkan hakekatnya pembaharuan adalah memurnikan islam dari unsur-unsur jahiliyyah, lalu sesudah itu berusaha memelihara kelangsungan ajarannya yang murni. Di sini terlihat bahwa seorang pembaharu pasti berdiri amat jauh di luar garis kepentingan jahiliyyah, dan ia sama sekali tidak mau melihat adanya pengaruh jahiliyyah dalam semua aspek islam, sekalipun hanya dalam wujud yang amat kecil.[2]

Kedudukan Pluralis?

Sering kita dengar dari tokoh para para pengusung pluralisme bahwa tindakan yang ia bawa adalah berupa pembaharu, dan juga tidak sedikit dari masyarat yang menyakini bahwa faham ini merupakan pembaharuan dari faham sebelumnya.

Setelah kita mengerti perbedaan antara pembaharu dengan suatu yang baru, kita akan mudah mengalokasikan, masuk pada sisi yang mana sebuah teologi pluralis? Apakah paham ini membawa pada kemurnian Islam dan membebaskan dari tradisi jahiliyah? Atau para pengusungnya adalah orang yang benar benar memelihara keimanannya? Tentunya hal ini akan bertolak belakang. Justru paham Pluralis adalah sebuah paham yang merusak aqidah ummat dan membawa ummat pada kekufuran berfikir, dan pengusungnya boleh dibilang penjahat agama, karena mereka telah berdusta pada Allah dan RasullNya serta pada kaum muslimin yang terjerat pada paham ini.

Hendaknya kaum muslimin tidak mudah percaya dengan tipu denga propaganda musuh-musuh islam, dan senantiasa belajar agama islam ini dengan benar, serta tidak mudah ikut-ikutan pada ucapan atau pendapat yang tidak bertanggung jawab.

Bukankah Allah telah berfirman:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran: 85)

Terus alasan apalagi yang harus mereka kemukakan..? apakah mereka menjamin, kalau yang berpemahaman pluralisme itu bisa mendatangkan pada yang lebih baik, dan pengusungnya dibilang pembaharu?..

Ini tidak lain dan tidak bukan hanya ingin memurtadkan orang islam sehingga mereka tidak lagi istiqomah atau konsisten dengan agamanya. Oleh hendak itu hendaknya kaum muslimin berwaspada, Allah sudah mengabarkan dalam firman-Nya yang berbunyi:

وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya . Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Bekasi: 11-05-10


[1] Busthami Muhammad Sa’id, Mafhum Tajdiduddin, terjemahan Ibnu Marjan dan Ibadurrahman, Gerakan Pembaruan Agama: Antara Modernisme dan Tajdiduddin, PT Wacana Lazuardi Amanah, Bekasi, cetakan pertama, 1416H/ 1995M, hal  15.

[2] Abu A’la al-Maududi, Langkah-Langkah Pembaharuan Islam, terj. Dadang Kahmad, afif Mohammad, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1984), cet. Ke-1, hal. 41-42


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: