Posted by: fadilarahim | May 2, 2010

Hukum Shalat Dibelakang Ahli Kiblat (Orang Islam) Yang Baik Dan yang Jahat

Makalah ini sebuah penjelasan dari matan aqidah ath-Thohawiyah yang berbunyi sebagai berikut:

قوله: (وَنَرَى الصلاة خَلْفَ كُلِّ بَرٍّ وَفَاجِرٍ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَة، وعلى مَنْ مَاتَ مِنْهُمْ).

Pernyataan penulis:Diperbolehkan shalat dibelakang ahli kiblat (orang islam) yang baik maupun yang jahat, dan yang meninggal diantara mereka”.

Dalam permasalahan ini syekh sholeh bin fauzan membagikan menjadi dua bagian, diantaranya adalah:

Pertama: Bahwasanya shalat adalah sebuah amal dan kebaikan, maka apabila seseorang melaksanakannya khususnya dibelakang penguasa, maka mereka telah melaksanakan kebaikan, dan meninggalkan shalat dibelakangnya merupakan perkara yang sangat berbahaya, dan pelakunya telah bermaksiat.

Sebagaimana sabda Nabi yang berbunyi:

Dari Abdullah bin Umar t, bahwa Rasulullah r bersabda, “Shalatlah kalian di belakang siapa yang mengatakan “Laa ilahaa illallah” dan shalatkanlah siapa yang meninggal dari ahli “Laa ilaaha illallah”.[1]

Hadits ini merupakan perkara yang umum, adapun bagaimana kalau penguasanya pelaku maksiat dan bukan orang yang taat? Dalam hal ini ahlus sunnah wal jama’ah berpendapat, hendaklah shalat berjama’ah di belakang mereka dan berjihad bersama mereka (baik itu orang yang baik atau pelaku maksiat) selama belum keluar dari islam.

Inilah usul ahlis sunnah wal jama’ah, dari zaman shahabah sampai para imam yang empat dan juga pendapat keumuman kaum muslimin.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

«الصلاة وَاجِبَة عَلَيْكُمْ مَعَ كُلِّ مُسْلِمٍ، بَرّا كان أَوْ فَاجِرا، وَإِنْ عَمِلَ بِالْكَبَائِرِ، وَالْجِهَادُ وَاجِبٌ عَلَيْكُمْ مَعَ كُلِّ أَمِيرٍ، بَرا كان أَوْ فَاجِرا، وَإِنْ عَمِلَ الْكَبَائِرَ»

“Wajib bagi kalian shalat bersama orang muslim yang jahat maupun yang baik sekalipun dia melakukan dosa besar. Dan wajib bagi kalian berjihad bersama amir yang jahat maupun yang baik sekalipun dia melakukan dosa besar.” (HR. Abu Dawud)

Dan di dalam Shahih al-Bukhari, Bahwa Ibnu Umar shalat di belakang al-Hajaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, dan begitu juga Anas bin Malik. Padahal Hajjaj adalah seorang fasik lagi dzalim.

Rasullullah SAW tetap membolehkan untuk kita shalat di belakang orang seperti ini, jika dia benar maka kebaikan (pahala) itu bagi kita dan dia, tapi jika salah, kebaikan bagi kita sedangkan dosa bagi dia.

Shalat Dibelakang Orang Yang Jati Dirinya Belum Jelas

Berdasarkan kesepakatan para Imam, seseorang boleh shalat di belakang orang yang tidak diketahui jati dirinya, apakah ia seorang ahli bid’ah atau orang fasik. Dan bukanlah termasuk syarat berimam, seorang makmum harus mengetahui aqidah imamnya dan tidak perlu menanyakan aqidah imamnya, seperti mengatakan aqidahmu apa? Akan tetapi diperintahkan kalian shalat dibelakangnya meskipun seorang ahlu bid’ah yang mengajak kepada bid’ahnya dan orang fasik yang tanpak kefasikannya, dikarenakan dia merupakan imam tetap yang tidak memungkinkan shalat kecuali dibelakangnya seperti imam jum’at dan ie’dain serta imam dikala haji di arafah dan lain sebagainnya.

Barang siapa yang meninggalkan shalat jum’at dibelakang pelaku dosa maka dia termasuk pelaku bid’ah menurut kebanyakan ulama’. Yang benar hendaknya dia shalat dan tidak mengulanginya. Begitulah yang dilaksanakan oleh kebanyakan shahabat seperti Abdullah bin Umar beliau shalat dibelakang Hajjaj bin Yusuf, begitu juga Anas radiallahu ‘anhu.

Shalat Di Belakang Pelaku Bid’ah Dan Orang Fasik

Seorang ahli bid’ah dan orang fasik shalatnya tetap syah, dan apabila seorang makmum shalat di belakangnya, shalatnya tidak batal. Akan tetapi makruh bagi orang yang tidak suka shalat di belakangnya, karena amar ma’ruf dan nahi munkar adalah wajib.

Orang yang menampakkan kebid’ahan dan kejahatan tidak boleh menjadi imam bagi kaum muslimin. Dia harus di ta’zir (dihukum) sehingga bertaubat. Dan bila memungkinkan untuk mengasingkannya sampai bertaubat itu lebih baik.

Apabila meninggalkan shalat di belakangnya (bermakmum) sehingga meninggalkan shalat Jumu’ah dan shalat Jama’ah, maka orang yang meninggalkannya telah melakukan kebid’ahan.

Apabila imam ditunjuk oleh pemimpin kaum muslimin, dan meninggalkan shalat di belakangnya tidak ada maslahat yang syar’i, tidak boleh meninggalkan shalat di belakangnya, bahkan shalat di belakangnya lebih utama.

Tapi kalau memungkinkan shalat Jumu’ah dan Jam’ah di belakang orang yang baik, ini lebih utama dari pada shalat di belakang imam yang fajir. Dalam keadaan seperti ini, bila tetap shalat di belakang imam yang fajir tanpa ada udzur, menurut sebagian ulama harus mengulangi shalatnya, pendapat sebagian yang lain tidak perlu mengulanginya.

Apabila imam lupa atau salah sedangkan makmum tidak mengetahui keadaan imam, maka makmum tidak perlu mengulangi shalatnya. Umar bin Khathab pernah shalat berjama’ah dalam keadaan junub,lupa mandi janabat, lalu ia mengulangi shalatnya dan tidak memerintahkan kepada para makmum untuk mengulanginya.

Namun, ketika sudah selesai shalat, lalu makmum mengetahui bahwa imamnya shalat dalam keadaan tidak suci, menurut Abu Hanifah ia mengulangi shalatnya. Sedangkan menurut Imam Malik dan asy-Syafi’i  dan Ahmad tidak mengulanginya.

Ketika makmum mengetahui bahwa imamnya shalat tanpa wudlu (tidak suci) tidak boleh shalat di belakangnya karena ia main-main.

Taat Dalam Masalah Ijtihad

Nash al-Qur’an dan as-Sunnah serta ijma’ para kaum salaf menunjukkan bahwa pemimpin, imam shalat, hakim, panglima perang dan amil shadaqah ditaati dalam masalah-masalah ijtihad. Bagi rakyat untuk menaatinya dan meninggalkan pendapat mereka. Karena maslahat bersama dan bahaya perselisihan dan perpecahan lebih besar dari pada masalah-masalah cabang. Oleh karena itu bagi hakim tidak boleh menghapus hukum sebagian mereka (ijtihadnya) dengan yang lainnya.

Apabila imam meninggalkan sesuatu yang diyakini oleh makmum sebagai suatu kewajiban (dalam shalat) maka tidak sah mengikutinya.

Orang yang menampakkan keislaman ada dua: mukmin atau munafik. Apabila seseorang telah diketahui kenifakannya tidak boelh menshalatkannya dan memintakan ampun (istighfar) untuknya. Adapun orang yang tidak diketahui kenifakannya tetap dishalatkan. Apabila seseorang mengetahui kenifakan orang lain ia tidak boleh menshalatkannya, tapi orang yang tidak mengetahuinya tetap menshalatkannya. Umar bin Khaththab tidak menshalatkan orang yang tidak dishalati oleh Hudzaifah, karena pada perang tabuk dia mengetahui orang-orang munafik dan Allah Ta’ala Ta’ala melarang Rasul-Nya untuk menshalatkan mereka dan tidak akan mengampuni mereka dengan istighfarnya.

Barangsiapa yang beriman kepada Allah I dan Rasul-Nya, tidak dilarang untuk menshalatinya walaupun ia adalah seorang yang mempunyai dosa keyakinan bid’ah, atau amalan lalim. Allah I telah memerintahkan untuk memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman: Qs.Muhammad: 19.

وقوله:”وعلى مَنْ مَاتَ مِنْهُمْ”

Adapun perkataan penulis “Dan terhadap yang meninggal diantara mereka”.

Kedua : Menshalatkan jenazah orang muslim yang fasik, selama tidak keluar dari islam. Akan tetapi kalau telah keluar dari islam maka tidak diperbolehkan shalat dibelakangnya, karena pada dasarnya mereka buka orang islam, dalam hal tidak semua kaum muslimin diperkenankan untuk menghukumi perorangan dengan murtadz, meskipun niatnya adalah baik dan tujuannya bagus, akan tetapi yang berhak untuk menghukumi permasalahan ini adalah Ahlul Ilmi dan orang yang memiliki pengetahuan sesuai dengan kaidah yang dipegang oleh ahlus sunnah wal jama’ah.

Kami berpendapat orang baik maupun jahat yang meninggal tetap dishalatkan, walaupun ada beberapa yang dikecualikan yaitu para pemberontak, penyamun dan orang yang bunuh diri dan orang yang mati syahid.

¨             Tiga pertama yang dikecualikan tetap dimandikan dan dishalatkan. Apabila wali amr (pemimpin negara) tidak menshalatkannya untuk sebagai pelajaran bagi yang lainnya, ini adalah baik. Nabi n tidak mau menshalatkan orang yang mati bunuh diri dan orang yang curang (dalam mengambil ghanimah), tapi beliau tetap memerintahkan para sahabatnya untuk emnshalatkannya.

¨             Adapun orang yang mati syahid, sunnah untuk tidak dishalatkan, karena Nabi n tidak menshalatkan syuhada’ Uhud.


[1] . Dikeluarkan oleh Daru Quthni dari berbagai jalan dan ia mendha’ifkannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: