Posted by: fadilarahim | May 1, 2010

KEMUNGKARAN DAN BID’AH

عن أُمِّ المُؤمِنينَ أُمِّ عَبْدِ الله عائِشَةَ رَضي اللهُ عنها قالَتْ: قالَ رسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: ” مَنْ أَحْدَثَ في أَمْرِنا هذا ما لَيْسَ منهُ فَهُوَ رَدٌّ “. رَواهُ البُخارِيُّ ومُسْلمٌ. وفي رِوايَةٍ لمُسْلمٍ ” : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عليه أَمْرُنا فَهُوَ رَدٌّ “.

Dari ummul mu’minin; ummu abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata: rasulullah bersabda: barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya[1], maka dia tertolak.(HR, Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat muslim disebutkan: Siapa yang melakukan amalan(ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak.

Syarah Hadits

Hadits diatas menerangkan bahwasanya islam itu merupakan ittiba’ bukan ibtida’, karena rasulullah SAW dengan hadits ini menjaga umatnya dari perbuatan guluw dan perubahan terhadap agama ini. Serta hadits ini dikenal dengan jawami’ul kalim, yang mana bersandarkan terhadap ayat-ayat dari al-qur’an, yang keterangannya adalah bahwasanya kebahagiaan dan kesuksesan diraih dengan mengikuti petunjuk rasulullah SAW tanpa mengurangi dan menambahnya.

Sebagaimana firman allah:

قلْ إنْ كُنْتم تحِبُّونَ اللهَ فاتّبعُوني يُحببْكُم الله [آل عمران:31].

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali imran: 31)

Dan juga apa yang diriwayatkan oleh imam muslim bahwasanya rasulullah bersabda dalam khutbahnya:

“خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة”

“Sebaik-baik perkataan adalah kitabullah(al-qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi Muhammad SAW, dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru dan setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah dan setiap perkara bid’ah itu sesat”.

Dalam hadits diatas ada dua macam amalan, amal yang diterima dan amal yang ditolak. Amal yang ditolak adalah sudah jelas dalam hadits dari ‘aisyah tentang suatu perkara yang tidak ada perintah dalam syare’at. Artinya dalam beramal harus berlandaskan pada hokum syar’ie.

Kedua adalah Amal yang diterima, disana ada perkara yang baru yang tidak meniadakan hokum syar’I, akan tetapi ada dalil syar’I dan kaidah yang bisa diambil. Perbuatan ini tidak ditolak bahkan diterima dan dipuji, seperti perbuatan sahabat yang mengumpulkan qur’an pada zaman abu bakar dalam satu mushaf dan menyamakan bacaan pada zaman Utsman bin Affan Radhiallahu Anhu.

Kesimpulannya adalah segala perbuatan baru yang bertentangan dengan syare’at maka akan termasuk perbuatan bid’ah dan tercela, akan tetapi perbuatan yang baru yang tidak bertentangan dengan syare’at maka akan diterima dan perbuatan ini diterima dan dipuji.

Syaikh utsaimin dalam menanggapi hadits ini sebagai berikut: hadits ini menurut ulama’ adalah timbangan amal-amal lahiriyyah, sedangkan hadits umar yang bunyinya “sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niatnya” adalah timbangan amal-amal batin. Karena amalan itu memiliki niat dan memiliki bentuk. Bentuknya adalah perbuatan zahirnya, sedangkan niat adalah perbuatan batinnya.

Landasan amal

Suatu ibadah seseorang tidak termasuk amal shaleh kecuali apabila memenuhi dua syarat, yaitu :

Pertama: Ikhlas
Kedua : Mutaba’ah.

Dan Mutaba’ah tidak akan tercapai kecuali dengan beberapa perkara diantaranya adalah:

Pertama : Sebab.

Jika seseorang melakukan suatu ibadah kepada Allah dengan sebab yang tidak disyari’atkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima (ditolak). Contoh : Ada orang yang melakukan shalat tahajud pada malam dua puluh tujuh bulan Rajab, dengan dalih bahwa malam itu adalah malam Mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dinaikkan ke atas langit). Shalat tahajud adalah ibadah, tetapi karena dikaitkan dengan sebab tersebut menjadi bid’ah. Karena ibadah tadi didasarkan atas sebab yang tidak ditetapkan dalam syari’at. Syarat ini -yaitu : ibadah harus sesuai dengan syari’at dalam sebab – adalah penting, karena dengan demikian dapat diketahui beberapa macam amal yang dianggap termasuk sunnah, namun sebenarnya adalah bid’ah.

Kedua : Jenis.

Artinya : ibadah harus sesuai dengan syari’at dalam jenisnya. Jika tidak, maka tidak diterima. Contoh : Seorang yang menyembelih kuda untuk kurban adalah tidak sah, karena menyalahi ketentuan syari’at dalam jenisnya. Yang boleh dijadikan kurban yaitu unta, sapi dan kambing.

Ketiga : Kadar (Bilangan).

Kalau seseorang yang menambah bilangan raka’at suatu shalat, yang menurutnya hal itu diperintahkan, maka shalat tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima, karena tidak sesuai dengan ketentuan syari’at dalam jumlah bilangan rakaatnya. Jadi, apabila ada orang shalat zhuhur lima raka’at, umpamanya, maka shalatnya tidak sah.

Keempat : Kaifiyah (Cara).

Seandainya ada orang berwudhu dengan cara membasuh tangan, lalu muka, maka tidak sah wudhunya karena tidak sesuai dengan cara yang ditentukan syari’at.

Kelima : Waktu.

Apabila ada orang yang menyembelih binatang kurban pada hari pertama bulan Dzul Hijjah, maka tidak sah, karena waktu melaksanakannya tidak menurut ajaran Islam.

Saya pernah mendengar bahwa ada orang bertaqarub kepada Allah pada bulan Ramadhan dengan menyembelih kambing. Amal seperti ini adalah bid’ah, karena tidak ada sembelihan yang ditujukan untuk bertaqarrub kepada Allah kecuali sebagai kurban, denda haji dan akikah. Adapun menyembelih pada bulan Ramadhan dengan i’tikad mendapat pahala atas sembelihan tersebut sebagaimana dalam Idul Adha adalah bid’ah. Kalau menyembelih hanya untuk memakan dagingnya, boleh saja.

Keenam : Tempat.

Andaikata ada orang beri’tikaf di tempat selain masjid, maka tidak sah i’tikafnya. Sebab tempat i’tikaf hanyalah di masjid. Begitu pula, andaikata ada seorang wanita hendak beri’tikaf di dalam mushalla di rumahnya, maka tidak sah i’tikafnya, karena tempat melakukannya tidak sesuai dengan ketentuan syari’at, Contoh lainnya : Seseorang yang melakukan thawaf di luar Masjid Haram dengan alasan karena di dalam sudah penuh sesak, tahawafnya tidak sah, karena tempat melakukan thawaf adalah dalam Baitullah tersebut, sebagaimana firman Allah Ta’ala.

Pelajaran yang terdapat dalam hadits di atas.

  1. Setiap amal perbuatan yang tidak ada sandarannya dalam dalil syar’ie maka ia tertolak, meskipun niatnya ikhlas.
  2. Larangan dari perbuatan bid’ah yang buruk berdasarkan syare’at.
  3. Islam adalah agama yang berdasarkan ittiba’ (mengikuti berdasarkan dalil) bukan ibtida’(mengada-adakan tanpa dalil) dan Rasulullah SAW telah menjaganya dari sikap yang berlebih-lebihan dan mengada-ada.
  4. Agama islam adalah agama yang sempurna tidak ada kurangnya. Melakukan bidah secara tidak langsung menuduh bahwa ajaran islam masih memiliki kekurangan sehingga perlu ditambah.
  5. Siapa yang melakukan amal shalil, walaupun pada dasarnya disyare’atkan, tetapi amalnya tidak berdasarkan cara


[1] . Maksudnya adalah, perbuatan-perbuatan yang dinilai ibadah tetapi tidak bersumber dari ajaran islam dan tidak memiliki landasan yang jelas, atau yang lebih dikenal dengan istilah bid’ah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: