Posted by: fadilarahim | April 30, 2010

JIHAD TANPA IMAM 3

Karena itu barang siapa mensyaratkan adanya khalifah umum untuk menghidupkan faridzah jihad, berarti  konskuensinya ia membatalkan akad jual beli yang telah terjadi di antara Allah dan hamba-hamba-Nya ini…selama rentang masa tidak adanya khalifah selama puluhan tahun yang mengakibatkan binasanya beberapa generasi secara keseluruhan sperti kondisi zaman kita sekartang ini!!!

Dengan hak atau kekuasaan apa dikatakan kepada generasi-generasi umat Islam (saat ini),” Kalian termasuk pengecualian dari jual beli ini selama masa tidak adanya khalifah, yang kadang berlanjut lebih dari seratus tahun ???

* Dalam hadits :

سلمة بن نفيل الكندي، قال: كنت جالساً عند رسول الله r، فقال رجل: يا رسول الله، أزال الناس الخيل، ووضعوا السلاح، وقالوا: لا جهاد، قد وضعت الحرب أوزارها‍‍‍‍! فأقبل رسول الله r بوجهه وقال :” كذبوا! الآن، الآن جاء القتال، ولا يزال من أمتي أمة يقاتلون على الحق، ويزيغ الله لهم قلوب أقوام ويرزقهم منهم، حتى تقوم الساعة، وحتى يأتي وعد الله، والخيل معقود في نواصيها الخير إلى يوم القيامة “[[1]].

Dari Salamah bin Nufail Al Kindi ia berkata,’ Saya duduk di sisi Nabi, maka seorang laki-laki berkata,” Ya Rasulullah, manusia telah meninggalkan kuda perang dan menaruh senjata. Mereka mengatakan,” Tidak ada jihad lagi, perang telah selesai.” Maka Rasulullah menghadapkan wajahnya dan besabda,” Mereka berdusta !!! Sekarang, sekarang, perang telah tiba. Akan senantiasa ada dari umatku, umat yang berperang di atas kebenaran. Allah menyesatkan hati-hati sebagian manusia dan memberi rizki umat tersebut dari hamba-hambanya yang tersesat (ghanimah). Begitulah sampai tegaknya kiyamat, dan sampai datangya janji Allah. Kebaikan senantiasa tertambat dalam ubun-ubun kuda perang sampai hari kiamat.”[2]

Beliau juga bersabda:

لا تزال طائفة من أمتي يُقاتلون على الحق ظاهرين إلى يوم القيامة

” Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka menang sampai hari kiamat.” [HR. Muslim].

Kata “thoifah /kelompok/golongan” dipakai untuk satu orang atau lebih, seperti firman Allah :

إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ  (التوبة:66. )

“Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” [QS. At Taubah :66].

Imam Ath Thabari mengatakan,” Disebutkan bahwa yang dimaksud dengan thoifah (kelompok) dalam tempat ini adalah seorang laki-laki. Ibnu Ishaq mengatakan,’ Yang dimaksud dengan ayat ini menurut berita yang sampai kepadaku adalah Makhsiy bin Humayyir Al Asyja’I, sekutu Bbani Salamah. Ia dimaafkan karena mengingkari sebagian yang ia dengar. Muhammad bin Ka’ab mengatakan,” Ath Thoifah adalah seorang laki-laki.”[3]

Dalam tafsirnya imam Al Qurthubi mengatakan,” Dikatakan bahwa mereka berjumlah tiga orang. Dua orang mengejek dan seorang lagi hanya tertawa. Yang dimaafkan adalah seorang yang tertawa dan tidak berkata.”[4]

Kelompok yang dimaafkan hanya beranggotakan seorang saja, dan kita telah menyaksikan jihad tetap berjalan meski pelakunya hanya seorang saja. Seorang dengan kesendiriannya disebut thoifah (kelompok). Jika memang demikian, maka bagaimana mungkin adanya seorang kholifah menjadi syarat berjalannya jihad ??? Rasulullah bersabda :

وقال r:” لن يبرح هذا الدين قائماً يُقاتل عليه عصابةٌ من المسلمين حتى تقوم الساعة ” مسلم.

“ Dien ini akan senantiasa tegak, sekelompok umat Islam berperang di atas dien ini sampai tegaknya hari kiamat.” [HR. Muslim].

Kata ‘Ishobah (kelompok) disebutkan untuk menunjukkan jumlah tiga dan seterusnya, jika perang membela dien dan kehormatan dien ini terlaksana dengan kelompok yang beranggotakan tiga orang atau lebih, maka bagaimana mungkin adanya seorang kholifah menjadi syarat terlaksananya jihad ? Bagaimana mungkin adanya seorang kholifah menjadi syarat dilaksankaannya jihad padahal jihad tetap terlaksana oleh seorang, oleh tiga orang atau lebih, sebagaimana disebutkan oleh hadits-hadits ini ? Rasulullah bersabda :

وقال r:” الخيل معقود بنواصيها الخير إلى يوم القيامة؛ الأجر والغنيمة ” مسلم.

Kuda itu tertambat pada ubun-ubunnya kebaikan hingga hari kiamat : pahala dan ghonimah.” [HR. Muslim]. Hadits ini berlaku untuk zaman ada kholifah dan zaman tidak ada kholifah, tak ada sesuatu hal pun yang bisa menghentikannya.

وقال r:” إن الهجرة لا تنقطع ما كان الجهاد “[. وفي رواية:” لا تنقطع الهجرة ما جوهد العدو “.

Beliau juga bersabda,” Hijrah tak akan berhenti selama masih ada jihad.”[5] Dalam riwayat lain,” Hijrah tak akan berhenti selama musuh masih diperangi.” Sebaliknya, beliau juga bersabda:

” لا تنقطع الهجرة حتى تنقطع التوبة، ولا تنقطع التوبة حتى تطلع الشمس من مغربها “.

“ Hijrah tak akan berhenti sampai taubat terhenti. Taubat tak akan terhenti sampai matahari terbit dari barat.”[6]

Ini menguatkan bahwa jihad tak akan berhenti sampai taubat berhenti, sementara taubat tak akan berhenti sampai matahari terbit dari barat, hari di mana “ iman seseorang tidak memberinya  manfaat karena sebelumnya ia tidak beriman” [Qs. Al An’am :158]. Karena hijrah akan senantiasa ada selama jihad masih ada berdasar dilalah nash. Jika kita nyatakan jihad terhenti dengan tidak adanya kholifah, maka konskuensinya hijrah juga terhenti, konskuensi selanjutnya taubat juga terhenti. Pendapat ini jelas tidak boleh karena menyelisihi dalil-dalil yang shorih (tegas) dan ijma’ umat.

Adapun dilalah mafhum nash, As sunah menunjukkan adanya mujahidin —yang merupakan thoifah manshurah—dan keberadaan mereka yang akan terus berlangsung sampai hari kiamat. Eksistensi mujahidin sampai hari kiamat ini mengandung konskuensi terus berlangsungnya jihad—salah satu sifat thaoifah manshurah—tanpa terhenti. Jika secara dhohir jihad, yang ada adalah i’dad untuk jihad dan i’dad merupakan bagian dari jihad. Kewajiban i’dad sama dengan kewajiban jihad karena jihad tak akan sempurna tanpa i’dad, sementara qaidah menyatakan “ Suatu kewajiban bila tidak sempurna kecuali dengan sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain itu hukumnya juga wajib.” Seorang muslim hanya mempunyai dua pilihan; antara berjihad fi sabilillah atau beri’dad untuk jihad saat kewajiban jihad gugur karena kelemahan (tidak ada kemampuan)…Ia tidak mempunyai pilihan ketiga.

* Sunah[7] menunjukkan wajibnya melawan kholifah yang telah kafir dan wajibnya mengangkat kholifah muslim yang baru. Jika jihad harus bersama kholifah, sementara kholifahnya telah kafir ; maka bagaimana cara jihad melawan dan menjatuhkan kholifah yang kafir tersebut ? Siapa yang berjihad melawan dan menjatuhkan kholifah yang kafir tersebut ? Kholifah –padahal dia telah kafir—ataukah umat Islam tanpa bersama kholifah yang kafir ? Tentu saja umat Islam tanpa bersama kholifah yang kafir tersebut.”[8]

Syaikh Ibrahim Al Khudry berkata,” Jika ada yang bertanya,” Jihad hanya boleh diserukan oleh seorang Imam ( kholifah), sementara pada hari ini kaum muslimin telah terpecah belah, tiap-tiap wilayah dipimpin oleh imam ( penguasa ) masing-masing. Lalu siapakah yang berhak menyerukan panggilan jihad ?.”

Jawabannya:

Al hamdulillah. Jika Imam suatu wilayah telah menyerukan panggilan jihad, wajib bagi wilayah penduduk tersebut berperang melawan kaum kafir. Demikian pula Imam suatu wilayah lain, wajib bagi segenap kaum muslimin untuk menyambut panggilan tersebut. Jika kaum mujahidin dipimpin oleh seorang Amir, lalu Amir tersebut menyerukan panggilan jihad, mereka wajib mentaatinya. Hingga sekarang keamiran seperti itu masih ada dan akan tetap ada sampai akhir zaman. Contohnya di wilayah Afganistan. [9]

Syubhat tidak ada jihad selama tidak ada kholifah merupakan syubhat yang sangat berbahaya.

1-      Syubhat ini sama sekali tidak berdasar dalil baik Al Qur’an, As Sunah, ijma’ salaf maupun perkataan para ulama salaf. Bahkan bertentangan dengan nash-nash tegas Al Qur’an, hadits mutawatir dan ijma’ salaf.

2-      Syubhat ini sebenarnya merupakan aqidah kaum Rafidzah. Imam Ath Thohawi berkata,” Haji dan jihad akan tetap berjalan bersama para pemimpin kaum muslimin, baik pemimpin yang bijaksana maupun yang jahat, tak ada sesuatupun yang bisa membatalkannya.” Imam Ibnu Abil Izz Al Hanafy menjelaskan perkataan ini dengan mengatakan,” Syaikh mengisyaratkan bantahan atas kaum Rofidzah di mana mereka mengatakan,” Tidak ada jihad fi sabilillah sampai keluar ar ridho dari keturunan Nabi Muhammad dan seorang penyeru menyeru dari langit,” Ikutilah dia !” Kebatilan pendapat ini sudah jelas sekali sehingga tak perlu lagi ditunjukkan dalil yang menunjukkan kebatilannya.”[10] Ketika aqidah ini memberatkan mereka sendiri, mereka tidak konskuen dengan aqidah ini, di mana mereka tetap mengadakan revolusi Khomeini dan mengadakan pemerintahan dengan nama “wilayatul Faqih.” Pelopor lain yang menyebarkan syubhat ini adalah Ahmad Ghulam Al Qodiyani, si nabi palsu India yang mengabdi kepada imperialis Inggris.

3-      Yang memetik keuntungan terbesar dari syubhat ini adalah tentara imperialis salibis,  zionis, komunis dan pemerintah-pemerintah sekuler di dunia Islam yang memusuhi Islam dan loyal kepada negara kafir barat.

4-      Syubhat ini berarti mensalahkan dan mencela (jarh) salafush sholih dan para ulama yang tsiqot :

–          Berarti menuduh para shahabat yang berjihad tanpa izin kholifah ketika kholifah ada dengan tuduhan berbuat dosa, berhak mendapat adzab Allah dan bunuh diri. Shahabat yang tertuduh adalah Abu Bashir dan kawan-kawan. Karena saat itu kholifah mengikat gencatan senjata 10 tahun dengan kafir Quraisy.

–          Berarti menuduh Husain bin ali dan Abdullah bin Zubair serta seluruh shahabat dan tabi’in yang membela keduanya sebagai pelaku dosa besar (bunuh diri, maksiat kepada imam), padahal saat itu  tidak ada kholifah syar’i yang umum atas seluruh kaum muslimin.

–          Demikian juga daulah Umawiyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah telah melewati beberapa masa di mana mereka mengadakan jihad padahal kondisi belum pulih sehingga mereka tidak bisa dikatakan sebagai kholifah umum bagi seluruh kaum muslimin. Meski demikian, tak seorang ulama pun yang mengatakan jihad mereka tidak masyru’ dengan alasan jihad mereka tidak berasal dari izin kholifah umum.

–          Berarti menuduh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan pengikut beliau yang berjihad melawan Tartar, serta syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab yang berjihad memberantas kesyirikan di Nejed, sebagai orang-orang berdosa karena berjihad tanpa izin kholifah dan mereka berada di neraka Jahannam karena maksiat kepada kholifah dan melakukan aksi bunuh diri.

–          Berarti menuduh jihad umat Islam yang mengusir imperialis kafir seperti di Palestina, Afghanistan, Chechnya, Moro, Patani, Kashmir dan lain-lain sebagai sebuah perbuatan haram, maksiat dan bunuh diri. Artinya harus menyerahkan tanah air kepada musuh Islam dengan suka rela.

–          Berarti mengajak umat untuk meninggalkan jihad dan tenggelam dengan kenikmatan dunia, sampai nanti datangnya kholifah.


[2] . Shahih Sunan Nasa’i 3333, Silsilah Ahadits Shahihah no. 1991.

[3] .  Jamiul Bayan fi Ta’wili Ayyil Qur’an 6/202.

[4] . Al Jami-u Li Ahkamil Qur’an  8/199.

[5] . HR. Ahmad dan lainnya, Silsilah Ahadits Sshahihah no. 1674.

[6] . HR. Ahmad dan Abu daud, Shahih Jami’ Shaghir no. 7469.

[7] . Hadits shahabat Ubadah bin Shomit serta penjelasan imam Nawawi, Ibnu Hajar dan qadhi ‘Iyadh yang menyatakan ijma’ wajibnya berjihad menjatuhkan kholifah yang kafir. (Telah disebutkan di muka).

[8] . Shifatu Thaoifah Manshurah hal.  40-45, karya Abu Bashir Abdul Mun’im Mushthofa Halimah. Juga buku beliau “At Thoriqu Ila Isti’naafi Hayatin Islamiyatin hal.     .

[9] . Syaikh Al Khudri  hal 16.

[10] . Syarhul Al Aqidati Ath Thohawiyati hal. 387, takhrij ; Syaikh Muhammad Nashirudien Al Albani.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: