Posted by: fadilarahim | April 25, 2010

SIFAT SEORANG DA’I

حدّثنا عبد الله بن أبي شيبة : حدّثنا أبو أسامة : حدّثنا هشام، عن أبيه، عن عائشة رضي الله عنها . قالت: « “توفّي رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم وما في بيتي من شيء يأكله ذو كبد، إلّا شطر شعير في رف لي، فأكلت منه حتّى طال علي، فكلته، ففني”

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Abi Syaibah telah bercerita kepada kami Abu Usamah telah bercerita kepada kami Hisyam dari bapaknya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anhu berkata; “(Ketika) Rasulullah Shallallahu’alaiwasallam wafat tidak ada sesuatupun di rumahku yang dapat dimakan oleh makhluq yang punya nyawa (manusia atau hewan) kecuali sedikit gandum yang ada pada Rak makanan milikku, lalu aku memakannya sebagian hingga beberapa lama kemudian aku timbang lalu rusak (habis) “.

Takhrij al-Hadits

(Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari No. 3097, ujung kitab Roqo’iq, bab Keutamaan Fakir, VII/229, No. 6451, dan juga pada Muslim dalam kitab Zuhud dan Raqo’iq IV/2283, No. 2973.)

Rowi a’la

Rowi a’la dalam hadits ini adalah A’isyah, kunyah beliau adalah Ummu Abdillah, beliau tinggal di madinah dan wafat pada tahun 58 H.

Sekilas Tentang Hadits Di Atas

Dalam mengomentari hadits ini, ulama’ mengambil pelajaran dari berbagai sudut pandang yang berbeda-beda. Diantaranya ada yang mengatakan hadits ini sebagai hujjah bahwasanya kita dianjurkan untuk miskin, ada juga yang mengatakan bahwa barokahnya makanan itu terletak pada yang sedikit, ini sebagai bukti bahwa hadits ini memiliki banyak faidah yang bisa kita pelajari dan amalkan.

Pada kesempatan ini kami ingin membatasi pembahasan ini terkhusus hanya pelajaran yang dapat diambil bagi seorang da’i demi meneladani Rasulullah SAW, beserta orang yang mengikuti jejak beliau, dalam hal ini perawi hadits.

Kita telah mengetahui bersama bahwa keberadaan seorang da’I dihadapan mad’unya adalah sekaligus berstatus sebagai pemimpin. Oleh sebab itu dengan status sebagai pemimpin seorang da’i dituntut setidak-tidaknya memahami kepemimpinan dan bagaimana seharusnya bersifat dan akhlaq seorang pemimpin.

Hadits di atas sangat bermanfaat terkhusus pada seorang da’i, dalam berakhlak hendaknya meniru Rasulullah SAW, karena tidak ada panutan yang lebih selamat daripada Rasulullah SAW.

Berikut ini beberapa pelajaran yang bisa kita ambil terkhusus bagi seorang da’i, diantaranya adalah:

  1. 1. Anjuran para salaf untuk mengajarkan anak-anaknya.

Para salafush sholeh mereka sangat menjaga anak-anaknya dan keluarga terdekatnya untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat, sebagai contoh dalam sanad hadits ini Urwah bin Zubair bin ‘Awwam beliau mengajarkan sebuah hadits pada anaknya Hisyam, sebagaimana hadits ‘Aisyah ra di atas.

Oleh karena itu dianjurkan kepada para da’i untuk mengajarkan anak-anaknya dan keluarganya apa yang bermanfaat bagi mereka, karena inilah nanti akan menjadikan amalan kita mengalir. Sebagaimana sabda Nabi SAW yang bunyinya:

إِذَا مَاتَ اِبْن آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ

“Apabila anak adam meninggal dunia terputuslah amal-amalnya kecuali hanya tiga hal, shodakah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakannya.[1]

Imam al-Hafidz Zauniddin Abdur Ra’uf al Manawi berkata yang dimaksud dengan ilmu yang bermanfaat disini adalah seperti mengajar dan menulis, dan Taj As Subki berkata, adapun menulis lebih kuat dikarenakan lebih lama waktunya.[2]

  1. 2. Diantara Salah Satu Sifat Da’i Adalah, Zuhud

A. Menurut bahasa zuhud adalah

1. Lawan kata dari menyenangi, [3]

2.Berpaling dari sesuatu untuk membebaskannya, menghinakannya, dan mengangkat keinginan    darinya [4]

B. Menurut istilah adalah tak tergantungnya keinginan hati dan jiwa dengan kenikmatan kehidupan dunia, kegemerlapannya dan keindahannya.[5]

C.   Dalil disyare’atkannya zuhud

A. Al Qur’an

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا {16} وَاْلأَخِرَةُ خَيْرُُوَأَبْقَى {17}

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al-A’la :16-17)

B. Al Hadits:

عَنِ الْمُسْتَوْرِدِ بْنِ شَدَّادٍ أَخِي بَنِي فِهْرٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ .

“Dari al Mustaurid bin Saddad alfahri berkata, bersabda Rasulullah saw. : ”Tidaklah dunia dibanding dengan akherat kecuali seperti salah seorang darimu mencelupkan jarinya dilaut maka lihatlah apa yang tersisa”.[6]

C. perkataan salaf:

Berkata Abu Muslim Al Khaulani,: Bukanlah kezuhudan di dunia itu dengan mengharamkan yang halal, dan membuang harta akan tetapi kezuhudan di dunia itu jika apa yang ada ditangan Allah lebih diyakini dari pada apa yang ada ditangannya, dan jika kamu terkena musibah kamu lebih berharap kepada pahalanya dan simpanan modal musibah itu.”[7]

Zuhud adalah salah satu sifat yang terpuji yang menghiasi bagi setiap muslim yang mempunyai sifat tersebut. Dalam hadits di atas sangat nampak sekali tentang kezuhudan Nabi SAW di dunia, sebagaimana kata ‘Aisyah ra:

“توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم وما في بيتي من شيء يأكله ذو كبد إلا شطر شعير في رفّ لي

“Rasulullah SAW meninggal sedangkan di dalam rumahku tidak ada yang bisa dimakan untuk mengenyangkan perut, kecuali hanya sepotong gandum yang disimpan di laciku”. [8]

Rasulullah juga membersihkan hati para pengikutnya dengan zuhud, sebagaimana firmannya:

“انظروا إلى من أسفل منكم، ولا تنظروا إلى من هو فوقكم، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

”lihatlah kepada orang di bawah kalian, dan jangan melihat pada orang yang berada di atas kalian, maka itu lebih utama(baik) agar kalian tidak mencela(mengkufuri) nikmat Allah.(HR. Bukhari)

  1. 3. Diantara sifat da’I juga, sabar dengan ujian dan cobaan yang menimpanya.

A. Secara Bahasa

Asal kata sabar adalah al Man’u (menahan) dan al Habsu (Mencegah) jadi sabar adalah  menahan jiwa dari cemas, lisan dari mengeluh, dan organ tubuh dari menampar pipi, merobek-robek baju, dan  lain sebagainya.[9] Allah ta’ala berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ … {28}

“ Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang yang menyeru tuhannya.”(Qs. Al Kahfi : 28)

B. Menurut Ulama’ salaf

1. Al Junaid bin Muhammad pernah ditanya tentang sabar, ia menjawab sabar ialah meneguk sesuatu yang pahit tanpa memberengut.

2.  Dzun Nun berkata: “Sabar ialah menjahui larangan, tenang ketika menenggak.

Pada hadits di atas sangat nampak sekali, bahwasanya diantara sifat da’I adalah sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan. Dan ini telah dicontohkan oleh nabi saw dalam kehidupannya beliau bersabar meskipun mengalami kesempitan dalam hidupnya. Sepeninggal beliau juga tidak ada sesuatu yang ditinggal untuk diwariskan kepada keluarganya, sebagaimana kata ‘aisyah:

توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم وما في بيتي من شيء يأكله ذو كبد إلا شطر شعير”.

Rasulullah SAW meninggal sedangkan di dalam rumahku tidak ada yang bisa dimakan untuk mengenyangkan perut, kecuali hanya sepotong gandum. (HR. Bukhari)

Oleh karena itu hendaknya bagi setiap muslim, terkhusus pada da’I untuk bersabar terhadap ujian yang menimpanya baik dalam keadaan bahagia atau sedih, dalam keadaan mudah atau sulit.

Tentunya kesabaran yang harus dimiliki oleh seorang da’I adalah sebagaimana yang dikatakan oleh ibnu Qudamah, bahwa sabar itu mempunyai dua gambaran:

  1. Sabar yang berkaitan dengan fisik. Contohnya adalah ketabahan memikul beban yang berat dengan badan, melakukan amalan yang berat dari berbagai macam ibadah atau lain-lainnya.
  2. Sabar yang berkaitan dengan psikis dalam menghadapi hal-hal yang dimintai dengan tabi’at dan Nafsu. Gambaran kesabaran dalam menghadapi nafsu perut dan nafsu kemaluan disebut iffah (menjaga diri dari hal-hal yang hina). Sabar dalam peperangan disebut Syaja’ah (keberanian). Sabar dalam menahan amarah disebut hilm (kemurahan hati). Sabar dalam menghadapi kasus yang mengguncangkan sa’atu shadrin (lapang dada). Sabar dalam menyimpan sesuatu disebut kitmatu sirrin (menyembunyikan rahasia). Sabar dalam urusan kelebihan penghidupan disebut zuhud (menahan diri dari keduniaan). Sabar dalam menerima bagian yang sedikit disebut qona’ah (kepuasan).[10]

  1. 4. Pentingnya tawakkal kepada Allah SWT.

Pada hadits di atas kita bisa memahami bahwa tawakkal kepada Allah merupakan susuatu yang sangat urgen dan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti tawakkalnya ‘Aisyah ra beliau hanya memakan sedikit dari gandum yang sudah lama tersimpan di laci.

  1. A. Definisi Tawakkal

  1. Definisi tawakkal secara bahasa;

Menurut Ibnu Mandhur[11] tentang definisi tawakkal dalam lisanul arab ia berkata “dapat dikatakan tawakkal terhadap suatu perkara bila telah diadakan usaha terhadapnya” jika dikatakan “wakakkaltu amri ila fulan” makna adalah aku menyerahkan urusanku kepada fulan dan aku bersandar kepadanya. Dan fulan bertawakkal kepada fulan jika ia merasa cukup dengannya karena kelemahannya untuk melakukan perkara itu sendiri”.Ar-Rozi berkata dalam mukhtaru shohah bahwa yang dimaksud dengan tawakkal adalah menampakkan kelemahan dan bersandar kepada selainnya.[12] sedangkan dalam mu’jamul wasith yaitu harus dilakukan usaha terlebih dahulu. Tawakkal kepada Allah artinya menyerahkan kepadanya.[13]

  1. definisi tawakkal secara istilah

banyak sekali ulama yang mendefinisikan tawakkal diantaranya sebagai berikut:

–          Syeikh Shalih Al Fauzan dalam kitab “Qoulu Al-mufid” mendefinisikan tawakkal adalah : bersandar kepada Allah dalam memenuhi segala kebutuhan dan menghadapi kesusahan.

–          Ibnu Rajab mendefenisikan tawakkal yaitu : bersandarnya hati dengan sebenar-benarnya kepada Allah ‘azza Wajalla dalam memperoleh kebaikan dan menolak kemudharatan  baik dalam urusan dunia dan akhirat.[14]

–          Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata: tawakkal adalah bersandar kepada Allah subhanahu Wa ta’ala dalam memenuhi kebutuhan dan menghilangkan segala hal yan dibenci dengan melakukan sebab. Inilah yang yang paling mendekati kepada ta’rif.

Hal ini harus memenuhi dua perkara sebagai berikut:

Pertama: bersandar kepada Allah dengan sebenar-benar penyandaran.

Kedua   : melakukan sebab yang mendukung kepadanya.

  1. B. Dalil-Dalil Tentang Tawakkal Dari Al-Qur’an Dan As-Sunnah

Dalil dari Al-Qur’an

Banyak ayat-ayat al-qur’an yang menerangkan tentang tawakkal salah satunya;

Allah berfiman :

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

Dalil dari As-Sunnah

Rosululloh r bersabda :

لو توكلواعلى الله حق توكل لرزقكم كما يرزق الطير،يغدوا حماصاوطروح بطانا

“Seandainya engkau bertawakkal dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah akan memberi rizki kepadammu rizki sebagaimana ia memberi rizki pada seekor burung,pergi diwaktu pagi dalam keadaan lapar, pulang disore hari dalam keadaan kenyang“.( HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Perkataan salaf

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah berkata : Sungguh telah jelas bahwa tawakkal merupakan asas bagi seluruh bangunan keimanan dan ihsan, asas bagi semua amal-amal. Kedudukannya sebagaimana kedudukan kepala atas badan. Tidaklah tgak badan yang tidak memiliki kepala, begitu pula keimanan tidak akan tegak pada diri seseorang tanpa dibangun diatasnya tawakkal[15].

Ia menambahkan bahwa tawakkal adalah separuh dari keimanan sedang separuhnya lagi adalah inabah. Kedudukan tawakkal dalam dien ini lebih luas di bandingkan seluruhnya dikarenakan ketergantungan yang lain kepadanya.

Mungkin ini saja yang dapat kami paparkan pada kesempatan ini, semuga penulis dan pembaca makalah ini dapat mengambil faedah kemudian sama-sama merealisasikan dalam kehidupan masing-masing.


[1] HR. Bukhari dan Muslim

[2] Zainuddin Abdur Rauf al-Munawi, Taisir bisyarhil jami’ as shogir, (Riyad: Maktabah Imam Syafi’I, 1408 H), cet. III, juz. I   hal.225.

[3] Ahmad bin Muhammad Ali Al Fayumi Al Mukri, Kitab Misbahul Munir, (Beirut: Maktabah Ilmiyah), juz. I,  hal.  98

[4] DR Ahmad Farid, Kitab Tazkiyatun Nufs, (Iskandariyah: Maktabah ‘Ashriyah, 1426 H), cet. I,  hal.  65

[5] DR Abdurrohman Hasan Habanakah Al Maidany, Kitab Al Akhlaq Al Islamiyah, juz. II, hal. 528

[6] HR. Muslim

[7] Ibnu Rajab al Hambali, Jamiul Ulum Wal Hikam, II/180

[8] HR. Muslim

[9] Muhammad bin Abi Bakar Ayyub az Zar’i, Uddatus Shobirin wa Dzakirotus Syakirin, (Beirut:Daar al-Kutub al-Ilmiyah), hal. 15

[10] Ibnu Qudamah, Minhajul Qashidin, (Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar, 2003 M), cet. VII, hal. 343.

[11] Lisanul arab :Ibnu Mandzur. XXX/387

[12] Mukhtaru Shohah bagian “وكل”

[13]Ibrahim Musthafa, Ahmad ziyat, hamid abdul qodir, Muhammad Najjar, Mu’jamul Wasith : bab wau

[14] Ibnu Rajab, Tazkiyatun Nafs : hal 98, dan dalam “Jami’ul ulum wal hikam” hal 497.

[15] Tafsir ‘Azizil hamid fi syarh Attauhid : 497


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: