Posted by: fadilarahim | April 25, 2010

ALLAH TERTAWA KEPADA KEDUA LELAKI YANG SALING MEMBUNUH DAN AKHIRNYA KEDUANYA MASUK SURGA 2

Ketiga : Menghindari Keputus asaan dari rahmat Allah Ta’ala

Sudah tidak diragukan lagi bahwa Allah Ta’ala akan menerima taubat bagi orang yang bertaubat kepada-Nya. Dan orang kafir jika bertaubat dari kekafirannya niscaya Allah Ta’ala akan menerima taubatnya, walaupun ia telah membunuh orang Islam, taubatnya akan diterima, karena perbuatan syirik adalah dosa yang amat besar, maka dengan ia masuk Islam dosanya telah terhapus.

Perlu diketahui bahwa dosa syirik yang begitu besar saja bisa diampuni apalagi dosa selain syirik, maka lebih mudah lagi bagi Allah Ta’ala menghapusnya, justrunya ia harus masuk Islam terlebih dahulu kemudian bertaubat dan tidak mengulanginya lagi. Dengan demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda pada hadits diatas :

ثم يتوب اللّه على القاتل فيستشهد…

“Kemudian ia bertaubat kepada Allah karena telah membunuh, kemudian ia berperang dan mati syahid…

Maka diharuskan bagi yang bertaubat menghilangkan keputus asaan dari rahmat Allah Ta’ala dan juga putus harapan dari rahmatnya juga. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“…dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala hanyalah orang-orang yang kafir.[1]

Penjelasan daripada ayat ini maksudnya adalah janganlah memutus harapan dari kelapangan Allah Ta’ala dan itulah penyebab dilarangnya berputus asa, kecuali orang kafir, mereka selalu berputus asa.

Ya’qub berkata, “Wahai anak-anakku kembalilah ke Mesir lalu carilah berita-berita Yusuf dan saudaranya dan janganlah kalian berputus asa terhadap harapan kalian dari rahmat Allah Ta’ala, sesungguhnya tidak ada pemisah dari rahmat Allah Ta’ala kecuali orang yang menentang ketentuan-Nya yaitu orang yang kafir terhadap Allah Ta’ala[2].

Imam at-Thahawi menyatakan bahwa putus asa adalah jalannya orang-orang kafir dan ini adalah perkataan Allah Ta’ala terhadap orang kafir yang putus asa.

إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الكَافِرُونَ

“…Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala hanyalah orang-orang yang kafir.”[3]

Dan sudah jelas bahwa Allah Ta’ala melarang semua itu dan juga penyebab dari semua itu adalah karena kebiasaan orang-orang kafir dan mereka merasa aman dari makar Allah Ta’ala, dan orang yang merasa aman dari makar Allah Ta’ala adalah jalannya orang-orang yang memenuhi hawa nafsunya yang mana mereka tidak menjaga Allah dan juga tidak menjaga sifat-sifat Allah Ta’ala.

Dan perlu digaris bawahi bahwa orang yang merasa aman dari makar Allah Ta’ala adalah suatu kekufuran dan juga orang yang berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala adalah suatu kekufuran juga, sebagaimana dikatakan oleh Imam at-Thahawi, “Aman dari makar Allah Ta’ala dan putus asa dari rahmat-Nya dapat menyebabkan keluar dari Agama Islam, karena Allah Ta’ala menyifati orang-orang kafir dan orang-orang yang merugi adalah dengan siksaan dan adzab, karena mereka telah merasa aman dari makar Allah Ta’ala dan sekaligus mereka telah putus asa dari rahmat Allah Ta’ala.

Adapun kalangan Ahlu sunnah wal Jama’ah mereka adalah orang yang tidak merasa aman dari siskasa-Nya, bahkan mereka takut terhadap dosa yang mereka lakukan dan takut terhadap siksa-Nya, kemudian para Malaikat juga takut terhadap Rabb-Nya, padahal Malaikat adalah makhluk yang paling terdekat disisi-Nya dan juga mereka suci dari dosa-dosa, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).”[4]

Kemudian dalam firman lainnya :

إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Apabila Telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka Berkata “Apakah yang Telah difirmankan oleh Tuhan-mu?” mereka menjawab: (Perkataan) yang benar”, dan Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.”[5]

Dan semua ini semua kembali kepada orang yang melakukan kebenaran dan mengamalkan sunnah Rasul-Nya, mereka mengharapkan rahmat dari Allah Ta’ala dan takut akan adzab yang akan menimpa diri mereka, sebagaimana  Allah Ta’ala sifatkan kepada wali-wali-Nya dalam ayat :

وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka[857] siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.”[6]

Dan inilah sifat-sifat orang yang bertakwa kepada  Allah Ta’ala. Begitu juga dalam ayat lainnya :

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”[7]

Maka terkumpulah sudah bagi mereka antara rasa cinta dan takut kepada Rabb-Nya. Dan jika diperjelas kembali bahwa rasa aman dari siksa-Nya dan putus asa atas rahmat-Nya adalah bentuk perbuatan yang menyebabkan pelakunya bisa keluar dari agama Islam, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam at-Thahawi { ينقلان عن ملة الإسلام } “Keduanya dapat menyebabkan keluar dari Agama (Islam).” Tetapi jika terdapat dalam dirinya itu ada rasa putus asa dan ada rasa harap, maka ia tidak keluar dari Agama Islam

Keempat : Rasa Cinta

Hadits ini juga menunjukkan rasa cinta kita kepada Islam dan rasa cinta terhadap jihad di jalan Allah Ta’ala dan rasa harapan taubat kita terhadap semua dosa yang telah kita lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan pada hadits tersebut mengenai seorang pembunuh yang bertaubat kepada Allah Ta’ala (masuk Islam), kemudian ia berperang di jalan Allah Ta’ala lalu terbunuh, maka ia masuk Surga.

Makna pada hadits ini menurut pandangan ulama, bahwa pembunuh yang pertama tadi dahulunya ia kafir, taubatnya telah disebutkan dalam hadits ini (keislamannaya).

Allah shubhanahu wa ta’ala berfirman :

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu[8]: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi[9], Sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu”. [10]

Maksud dari ayat ini adalah, bahwa mereka dahulu kafir dan bermusuhan kemudian mereka masuk Islam dan melaksanakan ketaatan dan bertaubat dari perbuatan mereka yang dahulu dilakukan, dan Allah Ta’ala mengampuni perbuatan mereka yang telah lalu yaitu kekafiran mereka, perbuatan dosa mereka dan kesalahan mereka, sebagaimana dalam hadits shahih yang ketika itu sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah kami dikenai sangsi terhadap amalan kami diwaktu jahiliyyah?. Kemudian beliau bersabda :

مَنْ أَحْسَنَ فِي الْإِسْلَامِ لَمْ يُؤَاخَذْ بِمَا عَمِلَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَمَنْ أَسَاءَ فِي الْإِسْلَامِ أُخِذَ بِالْأَوَّلِ وَالْآخِرِ

“Bagi siapa yang memperbaiki dirinya ke dalam Islam, maka ia tidak dimintai sangsi terhadap amalannya diwaktu ia masih Jahiliyyah dan bagi siapa yang berbuat keburukan didalamnya, maka ia dimintai pertanggung jawaban terhadap perbuatan yang ia lakukan dari awal hingga akhir”. [HR. Muslim].[11]

Dalam shahih Bukhari, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الإسلام يَجُبُّ ما قبله والتوبة تجب ما كان قبلها

“Islam itu menghilangkan kesalahan sebelumnya dan taubat itu menghilangkan kesalahan sebelum ia bertaubat”.

Apabila mereka kembali lagi kedalam kekafiran mereka, maka sudah menjadi ketetapan atas mereka adzab sebagaimana orang-orang sebelum mereka, bahwa mereka berbohong dan ditambah lagi terhadap kedurhakaan mereka, kemudian Allah Ta’ala menyegerakan kepada mereka adzab dan siksaan.[12]

Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata tentang faidah pada hadits ini, yaitu bahwa hadits ini menunjukkan bagi siapa yang  mati dalam keadaan berperang di jalan Allah, maka ia masuk Surga (insyaAllah) begitu pula bagi yang berperang dalam rangka menegakkan kalimat Allah Ta’ala ia masuk Surga.

Maka diharuskan bagi seorang da’i  yang menyeru kepada jalan Allah Azza wa jalla agar memberikan kepada manusia rasa cinta terhadap Islam dan menyuruh mereka agar selalu bertaubat dari kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat.

Makalah ini ditulis dengan akhi Fauzan al-Banjari


[1] QS. Yusuf : 87.

[2] “at-Tafsiir al-Muyassar.” Hal: 187.

[3] QS. Yusuf : 87.

[4] QS. An-Nahl : 50.

[5] QS. Saba’ : 23.

[6] QS. Al-Isra’ : 57.

[7] QS. Al-Anbiya’ : 90.

[8] Yaitu Abu Sufyan dan sahabat-sahabatnya.

[9] Jika mereka kembali kafir lagi dan kembali memerangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[10] QS. Al-Anfal : 38.

[11] “Shahih Muslim”. Jilid : II, hal : 317.

[12] “Tafsir al-Qur’an al-Azhim”. Jilid : II, Hal : 407.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: