Posted by: fadilarahim | April 25, 2010

ALLAH TERTAWA KEPADA KEDUA LELAKI YANG SALING MEMBUNUH DAN AKHIRNYA KEDUANYA MASUK SURGA 1

حَدَّثَنَا عَبْد اللّهِ بْن يوسفَ : أَخْبَرَنَا مَالِك، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عنِ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هرَيْرَةَ. رضي الله عنه أَنَّ رَسولَ اللّهِ – صلى الله عليه وسلم – قالَ : « يَضْحَك اللّه إِلى رجلَينِ يَقتل أَحَدهمَا الآخرَ يَدخلانِ الجَنَّةَ ، يقَاتِل هَذَا فِي سَبِيلِ اللّهِ فيقْتَل ، ثم يَتوب اللّه عَلَى القَاتِلِ فَيسْتَشْهَد »

Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu az-Zinad dari al-A’raj dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah tertawa terhadap dua orang dimana yang satu membunuh yang lainnya namun yang satu berperang di jalan Allah hingga terbunuh. Kemudian Allah menerima taubat orang yang membunuhnya lalu diapun (berperang) hingga mati syahid”. [HR. Bukhari].

Penjelasan rawi a’la

Rowi a’la dalam hadits di atas adalah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Nama beliau : Dalam penamaan beliau para ulama’ berbeda pendapat, ada yang mengatakan Abdurrahman bin Shokhr, sebagian lain ada yang mengatakan, Ibnu Ghonam, ada yang mengatakan nama aslinya adalah Abdus Syams atau Abdullah, ada yang mengatakan Sakin, ada yang mengatakan Amir, ada yang mengatakan Barir, ada yang mengatakan Abdullah bin Ghonam, ada yang mengatakan Amru, ada yang mengatakan Sa’id. Demikianlah beberapa bendapat dalam penamaan bapaknya.[1]

Adapun nama beliau ketika jahiliyah adalah: Abdus Syams, Abu Aswad, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menamainya Abdullah dan laqobnya Abu Hurairah.

Sebab penamaan Abu Hurairah

Beliau adalah seorang yang fakih, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namanya yang sudah terkenal adalah Abdurrahman bin Shokhr, adapun nama pada masa jahiliyyahnya adalah Abdus Syams, beliau mengatakan, bapakku menyebutku Abu Hurairah dikarenakan suatu ketika aku mengembala kambing, kemudian aku menemukan anak kucing, ketika aku melihat dan mendengarkan suaranya aku mengabari bapakku, kemudian ia berkata: kamu Abu Hurrah (pemilik kucing), padahal namaku Abdus Syams.[2]

Kelebihannya dalam Hafalan dan Ingatan

Abu Hurairah ra termasuk salah seorang sahabat Nabi yang mempunyai bakat-bakat istimewa. Beliau ra mempunyai kemampuan dan kekuatan yang luar biasa dalam hal hafalan dan ingatan. Kelebihan yang dimilikinya bisa menangkap apa yang didengarnya sedang ingatannya sangat kuat untuk menghafal dan menyimpan. Didengarnya, ditampungnya lalu terpatri dalam ingatannya hingga dihafalnya, hampir tak pernah dia melupakan apa yang telah didengarnya, sekalipun usianya semakin bertambah. Itu terjadi setelah Allah mengabulkan do’a Rosulullah saw untuk Abu Hurairah ra supaya diberi kelebihan dalam menghafal.

Walaupun demikian, dulunya Abu Hurairah ra mempunyai ingatan yang lemah lalu beliau mengadu kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah saw mendoakan agar Abu Hurairah ra diberkati dengan daya ingatan yang kuat. Semenjak hari itulah Abu Hurairah dikaruniai dengan daya ingatan yang kuat yang membolehkan beliau meriwayatkan jumlah hadis terbanyak di kalangan para sahabat.

Mengapa Abu Hurairah ra termasuk Sahabat yang paling banyak meriwayatkan Hadits

Abu Hurairah ra berjaya meriwayatkan banyak hadits disebabkan beliau sentiasa berdampingan dengan Rasulullah selama tiga/empat tahun, selepas memeluk Islam. Ini sebagaimana yang di riwayatkan olehnya :

“… sesungguhnya saudara kami dari golongan Muhajirin sibuk dengan urusan mereka di pasar sedangkan  orang-orang Ansar sibuk bekerja di ladang mereka sementara aku seorang yang miskin sentiasa bersama Rasulullah saw ‘Ala Mil’i Batni. Aku hadir di majlis yang mereka tidak hadir dan aku hafal pada masa mereka lupa.” (Al-Bukhari)

Pelajaran Hadits

Pertama : Menetapkan Sifat-Sifat Sempurna Bagi Allah Ta’ala

Hadit ini menunjukkan bahwa penetapan sifat-sifat bagi Allah Ta’ala adalah termasuk pokok pembicaraan dakwah, dengan demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai hadits :

يَضْحَك اللّه إِلى رجلَينِ يَقتل أَحَدهمَا الآخرَ يَدخلانِ الجَنَّةَ

“Allah tertawa kepada dua orang yang salah satunya membunuh yang lainnya sehingga kedua-duanya masuk Surga”.

Dan ini menunjukkan penetapan bahwa Allah Ta’ala tertawa. Dan tidak diragukan lagi bahwa bagi seorang da’i harus menjelaskan kepada mad’unya mengenai sifat Allah Ta’ala yang sempurna. Allah Ta’ala menyifati diri-Nya dengan ketentuan-Nya dan dengan apa yang telah disifati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa tahrif dan ta’thil dan juga tanpa takyif dan tamtsil. Al-Walid bin Muslim rahimahullah mengatakan, “Aku bertanya kepada al-Auza’i, kepada Sufyan at-Tsauri kepada Malik bin Anas dan juga kepada al-Laits bin Sa’ad mengenai hadits ini, bahwa mereka mengatakan tidak menggunakan takyif, bukankah Allah Ta’ala menyifati dirinya? atau yang telah disifati oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang yang menyerupakan diri-Nya dengan suatu benda lain adalah mereka yang menyembah patung, kemudian dengan orang atheis mereka menyembah yang tidak ada, kemudian ahli tauhid menyembah ilah yang satu (yaitu Allah Ta’ala).

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat”.[3]

Allah Ta’ala telah memberikan pengingkaran kepada orang musyrik yang menjadikan sesembahan selain Allah Ta’ala dan dikabar pula bahwa Allah lah yang berhak disembah, tidak ada sesembahan selain-Nya, sesungguhnya Allah lah yang Maha kuasa terhadap kehidupan dan kematian.[4]

Sudah menjadi keharusan bagi seorang da’i menjelaskan kepada mad’unya dengan hikmah, bahwa kalam pada sifat seperti kalam pada dzat, maka bagaimana kita menetapkan bagi Allah Ta’ala dengan suatu dzat dan tidak menyerupakan-Nya dengan dzat yang lainnya?, maka dengan itu dikatakan bahwa janganlah menyerupai sifat-Nya dengan yang lainnya, dan tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya baik dzat-Nya, sifat-Nya, asma’-Nya maupun perbuatn-Nya dan janganlah menyerupai sifat-Nya dengan makhluk-Nya.

Bagi seorang da’i juga harus menjelaskan kepada mad’unya bahwa sifat-sifat Allah Ta’ala terbagi menjadi dua bagian :

Pertama : sifat-sifat dzatiyah tentang Allah Ta’ala yang tidak hilang, artinya tidak akan lenyap dan senantiasa disifati dengan-Nya, seperti al-Ilmu, al-Hayah, al-Qudrah, as-Sam’u, al-Basharu, al-Ghani, al-Kiram, al-‘Uzhmah, al-Kibriya’, al-‘Izzah, al-‘Uluw dan yang lainnya yang termasuk kesempurnaan bagi sifat-sifat Allah Ta’ala.

Kedua    :  sifat-sifat fi’liyah Allah Ta’ala, yaitu yang berkaitan dengan masyiah dan qudrah Allah Ta’ala, seperti istiwa’ Allah Ta’ala, nuzul-Nya, datang-Nya, tertawa-Nya, ridha-Nya, murka-Nya, kehidupan-Nya, kegembiraan-Nya cinta-Nya dan yang lainnya yang termasuk kesempurnaan bagi sifat-sifat Allah Ta’ala, dan inilah sifat-sifat Allah Ta’ala yang berkaitan dengan masyiah-Nya.

Iman kepada  seluruh sifat-sifat-Nya adalah termasuk dari kewajiban, macam-macam sifat Allah Ta’ala tidak ada yang mengetahuinya, dengan demikian Imam Malik bin Anas rahimahullah ditanya tentang bagaimana istiwa’nya Allah Ta’ala, ia menjawab, “istiwa’nya Allah Ta’ala maklum (diketahui) dan membagaimanakannya adalah suatu kebodohan dan iman kepada-Nya adalah wajib, dan mempertanyakan-Nya adalah kebid’ahan, dengan demikian semua sifat diterapkan seperti penjelasan tadi.

Allah Ta’ala berfirman :

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً

“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga…”[5]

Imam al-Lalika’i rahimahullah berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berada di langit dan ilmunya meliputi semua tempat dari bumi dan langit-Nya.

Dan bagi seorang da’i juga harus menerangkan kepada mad’unya tentang masalah aqidah ini sebagaimana di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.[6]

Kedua : Anjuran Bertaubat

Dosa itu merupakan tabir yang menutupi apa yang terhalangi. Sementara menghindar dari hal-hal yang bisa menjaukan diri dari apa yang terhalangi itu wajib. Hal ini bisa terwujud dengan ilmu, penyesalan dan hasrat. Selagi seseorang tidak tahu bahwa dosa merupakan sebab yang menjauhkan dari apa yang terhalangi itu, maka dia tidak akan merasa menyesal melakukan dosa dan tidak merana karena berjalan menjauh. Jika tidak merasa merana, berarti dia tidak akan kembali.

Pada hadits ini juga menunjukkan akan keharusan seseorang bertaubat dan taubat sendiri termasuk dari dakwah, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثم يتوب اللّه على القاتل فيستشهد…

“Kemudian ia bertaubat kepada Allah karena telah membunuh, kemudian ia berperang dan mati syahid…

Pada penjelasan hadits ini bahwa Islam meleburkan kesalahan sebelumnya, adapun taubat dapat mengahapuskan kesalahan sebelum ia bertaubat, maka diharuskan bagi seorang da’i yang menyeru kepada Allah Ta’ala agar menganjurkan kepada mad’unya bertaubat dan menjelaskan kepadanya bahwa Allah Ta’ala telah menyuruh demikian, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa…”[7].

Kemudian dalam firman lainnya :

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“…dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.[8]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, karena aku bertaubat seratus kali dalam sehari.’ “[9]

Syarat Taubat

diantara syarat-syarat taubat adalah: menyesal dari perbuatan yang telah dilakukan, meminta ampun kepada Allah Ta’ala dari perbuatan dosa tersebut, berkeyakinan tidak akan kembali lagi kepada jalan keburukan itu dan mengembalikan barang yang ia zhalimi (kalau itu bentuk barang) dan jika bukan barang, seperti orangnya, maka ia harus minta maaf kepadanya. Oleh karena itu orang yang bertaubat dari perbuatan dosa bagaikan orang yang tidak mempunyai dosa.

Pernah Umar bin Khathab ditanya mengenai taubat nasuha, ia menjawab, “Hendaklah orang itu bertaubat dari perbuatan yang buruk, kemudian janganlah ia kembali lagi kejalan  yang buruk selamanya.

Kemudian Ibnu Jarir dari Ibnu ‘Abbas mengatakan makna  توبة نصوحاًadalah ia bertaubat dan tidak mengulanginya kembali, kemudian Abdu bin Humaid dan Ibnu al-Mundzir dari Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Yang dimaksud kalimat توبة نصوحاً adalah taubat dengan tulus murni dan jujur.[10]

Allah SAW menjanjikan bahwa apabila seseorang itu bertaubat, maka dosanya akan diampuni oleh Allah sebagaimana sebelumnya, hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya:

Firman Allah:

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (asy-Syura: 25)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Amru bin al-‘Ash :

أما علمت أنّ الإِسلام يهدم ما كان قبله، وأن الهجرة تهدم ما كان قبلها ، وأن الحج يهدم ما كان قبله

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Islam telah menghapuskan dosa dan hijrah menghapuskan (kesalahan) sebelumnya pula, kemudian haji dapat menghapuskan (kesalahan) sebelumnya pula, begitu juga dengan taubat dapat menghapuskan (kesalahan) yang sebelumnya yang ia lakukan”.[11]

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla akan menerima taubat seorang hamba, selagi ia belum sakaratul maut.”[12]

Namun bagaimana kondisi orang yang bertaubat nanti di akhirat apakah ia termasuk dalam firman Allah yang berbunyi:

لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ

“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (QS. Qoof: 22)

Ibnu katsir dalam tafsirnya menjelaskan tentang ayat di atas, bahwa ada berbedaan di kalangan ulama’ mengenai permasalahan ini. Dintaranya adalah:

Pertama: Bahwasanya yang dimaksud ayat ini adalah orang kafir. Hal ini berdasarkan riwayat Ali bin Abi Tholhah, dari Ibnu Abbas, dengannya juga berkata Dhohhak bin Muzahim dan sholeh bin kisan.

Kedua: Setiap seseorang baik yang berbuat baik maupun yang berbuat kejelekan, dikarenakan akhirat bila dibandingkan dengan dunia adalah ibarat orang yang bangun dari tidurnya. Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir dan dinukil dari Husen bin Abdillah bin Ubaidillah bin Abbas.

Ketiga: Bahwasanya lawan bicara dalam konteks ini adalah Nabi SAW. Yang berbendapat seperti ini adalah Zaid bin Aslam dan anaknya.[13]

Bersambung…………


[1] “Siyaru a’lami an-Nubala’, jilid. IV, hal. 170

[2] “Tadzkiratul Huffadz”, jilid : I, hal : 32.

[3] QS. Asy-Syura : 11.

[4] “Tafsir al-Qur’an al-Azhim”. Jilid : IV, Hal : 138.

[5] QS. Al-An’am : 61.

[6] “Fiqhu ad-Da’wah fie as-Shahih al-Imam al-Bukahri”. Hal : 386.

[7] QS. At-Tahrim : 8.

[8] QS. An-Nuur : 31.

[9] HR. Muslim dan Bukhari dalam adzabul mufrad dan Bagawi.

[10] “ad-Durrul Mantsur”. Hal : 187

[11] HR. Muslim.

[12] HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Baghawi.

[13] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim, (Damaskus: Maktabah Daar al-fiiha’, 1418 H/1998), cet. II, juz. IV, hal. 288.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: