Posted by: fadilarahim | April 23, 2010

SYAHADAT (لا إله إلاّ الله)

Kalimat tauhid adalah suatu kalimat yang mana seluruh rasul menyeru kepadanya, dazn pada kesempatan ini kami ingin menjelaskan sejenak mengenai makna yang terkandung dengannya.

A. Makna Syahadat (لآإله إلا هو)

Makna syahadat لا إله إلاّ الله adalah beri’tiqad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah, mentaati hal tersebut dan mengamalkannya.

Ada orang yang menafsiri kalimat لا إله إلاّ الله dengan penafsiran yang batil diantaranya adalah :

  1. Tidak ada sesembahan kecuali Allah. Ini adalah batil, karena maknanya sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang haq maupun yang batil, itu adalah Allah.
  2. tidak ada pencipta kecuali Allah, ini adalah sebagian dari makna tersebut, akan tetapi bukan ini yang dimaksud karena arti ini hanya mengakui tauhid rububiyah saja, dan itu belum cukup.
  3. tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah. Ini juga sebagian dari makna kalimat  لا إله إلاّ الله, tapi bukan itu yang dimaksud, karena makna tersebut belum cukup.

Semua tafsiran diatas adalah batil, dan yang benar adalah tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah.

Bentuk Khabar Dalam Kalimat  “La Ilaha Illallah “

Menurut AL-Hasan bin Shafi Abu Nazar, Tidak ada Ilah dalam wujud kecuali Allah Ta’ala, Maknanya meniadakan wujud Ilah. Menurut Syaikh Abu Abdillah al-Murisyi dan didukung oleh Syaikh bin Bazz, bahwa  penetapan khabar “Fil Wujud”tidak benar, karena Tuhan tuhan yang diibadahi selain Allah Ta’ala jumlahnya sangat banyak sekali.

Penetapan khabar dengan kalimat haq, (berbeda dengan para ahli nahwu), untuk menjelaskan keagungan kalimat tauhid ini, yaitu membatalkan segala macam bentuk tuhan yang dimiliki orang-orang musyrik dan peribadahan mereka dan menmjelaskan bahwa Ilah yang haq, yang haq  dibadahi adalah Allah Ta’ala semata. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim serta ulama yang lainnya.

B. Rukun Syahadat (لآإله إلا هو)

Rukun لا إله إلاّ الله ada dua yaitu :

  1. Nafyu atau peniadaan لا إله   membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah kecuali Allah.
  2. Al-itsbat atau penetapan إلاّ الله menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.

Sedangkan maksud dari peniadaan dan penetapan diatas ada masing-masing ada empat hal yang perlu ditiadakan dan ditetapkan[1], diantaranya adalah sebagaiberikut:

v  Yang ditiadakan:

  1. الآلهة (Sesembahan), sesuatu hal yang kalian anggap mendatangkan maslahat dan mudhorat, kemudian menyembahnya.
  2. الطواغيت (Thogut), yaitu sesuatu yang diibadahi selain Allah sedangkan ia ridho dengannya.
  3. الأنداد (Tandingan), yaitu sesuatu yang membuat tandingan terhadap agama islam ini baik itu berupa keluarga, tempat tinggal, atau harta.
  4. الأرباب (Sesembahan), yaitu seseorang yang berfatwa yang menyelisihi kebenaran, kemudian dita’ati.

v  Yang ditetapkan:

  1. القصد (Tujuan), maksud dari tujuan disini adalah hanya ditujukan kepada Allah.
  2. التعظيم والمحبة (Pengagungan dan kecintaan), hanya kepada Allah semata, sebagaimana firman Allah:

وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلّهِ [سورة البقرة:165]

“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah”.

  1. الخوف والرجاء (Rasa takut dan harapan) hanya kepada Allah: sebagaimana firman Allah:

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, Maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Yunus : 107)

  1. التقوى (Taqwa) adalah, takut terhadap kemarahan dan adzab Allah dengan meninggalkan kesyirikan dan maksiat kepada Allah, dan mengihlaskan ibadah hanya kepada Allah.

C. Syarat-Syarat Syahadat (لآإله إلا هو)

Syarat-syarat لا إله إلاّ الله

bersaksi dengan لا إله إلاّ الله harus memenuhi tujuh syarat, yang tanpa syarat-syarat ini syahadat tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya. Syarat-syarat itu adalah:

  1. Ilmu yang menafikan jahl (kebodohan )

Maksudnya orang yang bersaksi dengan لا إله إلاّ الله harus memahami dengan hati apa  yang diikrarkan oleh lisannya. Seandainya ia mengucapkannya, tetapi tidak mengerti apa maksudnya, maka persaksian itu tidak sah dan tidak berguna.

  1. Yaqin yang menafikan syakk (keraguan)

Orang yang mengikrarkannya harus meyakini kandungan syahadat itu. Manakala ia meragukannya maka sia-sia belaka persaksian itu.

Allah berfirman : sesungguhnya orang-orang yang  beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulnya kemudian mereka tidak ragu-ragu. (al-hujurat : 15)

  1. Qabul (menerima) yang menafikan radd (penolakan)

Menerima kandungan dan konsekuensi dari syahadat, menyembah Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selainnya. Siapa yang mengucapkannya, tetapi tidak menerima dan mentaati, maka ia termasuk orang yang menyombongkan diri, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat ash-shaffat : 35-36.

  1. Inqiyad (patuh) yang menafikan tark (meninggalkan)

Maksudnya adalah tunduk dan patuh dengan kandungan makna syahadat

(luqman : 22).

  1. Ikhlas yang menafikan syirik

Yaitu membersihkan amal dari segala debu-debu syirik, dengan jalan tidak mengucapkannya karena mengingkari isi dunia, riya’ atau sum’ah.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

فإنّ الله حرّم على النّار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله

Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illaallah karena mgninginkan ridha Allah (HR.Bukhari dan Muslim)

  1. Shidq (jujur) yang menafikan kadzib (dusta)

Yaitu mengucapkan kalimat ini dan hatinya juga membenarkannya. Manakala lisannya mengucapkan, tetapi hatinya mendustakan, maka ia adalah munafiq.

  1. Mahabbah (kecintaan) yang menafikan baghdha’ (kebencian)

Mencintai kalimat ini serta isinya, juga mencintai orang yang mengamalkan konsekuensinya.

D. Yang membatalkan (لآإله إلا هو)

  1. syirik dalam beribadah kepada Allah.
  2. Orang yang menjadikan antara dirinya dan Allah perantara
  3. Orang yang tidak mau mengkafirkan orang-orang musyrik dan masih ragu terhadap kekafiran mereka.
  4. Orang yang meyekini bahwa selain petunjuk Nabi lebih lebih sempurna dari petunjuk beliau.
  5. Siapa yang membenci sesuatu yangdari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah sekalipun dia juga mengamalkannya.
  6. Siapa yang menghina sesuatu dari agama Rasul  atau pahala maupun siksanya.
  7. Sihir.
  8. Mendukung kaum musyrikin dan menolong mereka dalam memusuhi umat islam.
  9. Siapa yang meyekini bahwa sebagian manusia boleh keluar dari syare’at Nabi Muhammad.

10.  Berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak juga mengamalkannya.


[1] . al-Wala’ wal Baro’ fie Islam, karya Muhammad bin sa’id al Qohthon, hal, 16.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: