Posted by: fadilarahim | April 20, 2010

BIOGRAFI IBNU ABIL ‘IZZ

Beliau  adalah Al-Imam Al-‘Allamah Shadruddin Abul Hasan Ali bin ‘Ala’uddien Ali bin Muhammad bin Abil Izz Al-Hanafi Al-Adzru’i Ash-Shalihi Ad-Dimasyqi. Dilahirkan tahun 731 H.

Beliau dibesarkan di tengah keluarga yang terhormat, penuh kemuliaan. Ayahnya pernah menjadi seorang Qadhi. Demikian juga kakeknya adalah penghulunya para Qadhi.

Pertama kali beliau berguru kepada Al-Hafidz Abul Fida’ Imaduddin Ibn Katsir, sebagaimana disebutkan dalam beberapa tempat dalam buku ini. Beliau mengemban tugas mengajar pada beberapa perguruan di Damaskus. Lalu ia bertugas sebagai Qadhi, juga di Damaskus.

Di antara karya beliau adalah syarah kitab ini. Juga kitab “Al-Ittiba” yang ditulis sebagai bantahan atas mereka yang mengharuskan bertaqlid kepada Abu Hanifah.

Beliau disiksa karena menyanggah sya’ir gubahan Ibn Aibak, yang  di dalamnya Ibn Aibak memuji-muji Rasul r, namun ia terjerumus ke dalam beberapa kekeliruan. Seperti ucapannya, “Cukup bagiku Rasulullah r”, dan lain-lain. Maka karena sanggahan beliau terhadap semua itu, beliau disiksa dan dikurung dalam penjara. Beliau wafat pada bulan Dzulqa’dah tahun 792 H dan dikebumikan di Qasiyun.

Ibnu Abi Izz dalam syarahnya mengikuti kaidah-kaidah berikut:

  1. Al-Qur’an merupakan sumber dalil-dalil naqli dan aqli
  2. Mengikuti salafus shalih dalam menafsirkan nash-nash.
  3. Beriman kepada masalah-masalah ghaib terbatas pada berita yang benar (khabar shadiq).
  4. Pembagian tauhid kepada tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah dan kewajiban meyakini keduanya serta tauhid asma wa sifat.
  5. Menetapkan asma dan sifat dan mengakui maknanya tanpa menanyakan kaifiyahnya
  6. Memadukan antara isbat dan tanzih (penetapan dan penyucian)
  7. Menolak ta’wil dan ahlul kalam.
  8. Membatasi akal dari memikirkan perkara yang bukan bidangnya
  9. Mengambil qiyas aula dalam menetapkan dan menafikan hak Allah I.
  10. Membatasi lafadz-lafadz yang diperselisihkan dan menetapkan pengertian yang dimaksud.
  11. Membatasi makna mutasyabih dan menjelaskan bahwa Al-Qur’an itu seluruhnya jelas dan dapat ditafsirkan.
  12. Mendahulukan pengaruh sebab-sebab alami bagi akibat yang ditimbulkannya dengan izin allah I.
  13. Baik dan buruk dalam af’al (perbuatan) adalah berdasarkan aqli dan syar’i.
  14. Menetapkan aqidah dengan hadits ahad yang diterima dengan pengamalan dan pengakuan.
  15. Relevansi shahihul manqul (nash /riwayat kutipan yang shahih) dengan sharihul ma’qul (jelasnya yang masuk logika).
  16. Tidak mengkafirkan seorang muslim karena perbuatan dosa yang diperselisihkan dan bukan dosa syirik besar karena kesalahan.

WALLAHU A’LAM BISH SHOWAB


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: