Posted by: fadilarahim | April 16, 2010

IMAN DAN ISTIQOMAH

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وأبو كريب قالا حدثنا ابن نمير وحدثنا قتيبة بن سعيد وإسحاق بن إبراهيم جميعا عن جرير وحدثنا أبو كريب حدثنا أبو أسامة كلهم عن هشام بن عروة عن أبيه عن سفيان بن عبدالله الثقفي قال قلت يا رسول الله قل لي في الإسلام قولا لا أسأل عنه أحدا بعدك ( وفي حديث أبي أسامة غيرك )

: قال قل آمنت بالله فاستقم

“Diriwayatkan dari abu amru ada yang memanggilnya abu amrah syufyan bin abdillah berkata: wahai Rasulullah katakanlah kepadaku ungkapan tentang islam, dimana aku tidak lagi menanyakannya kepada seorangpun selain engkau.”beliau kemudian bersabda:”katakanlah:”aku beriman kepada Allah. Kemudian beristiqomahlah” (HR. Muslim)

Takhrijul hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh: imam muslim(84), at-Turmudzi(2410), ibnu Majah(3972), Ahmad(3/413) (4/384,385) Thoyalisi( 1231) ibnu abi ‘Ashim dalam sunnahnya (21,22) dan Hakim(4/313).

Mufradat Hadits

Islam adalah: dalam permasalahan aqidah dan syari’ah.

Perkataan adalah mencakup seluruh makna dien(agama) yang telah jelas dan tidak membutuhkan tafsir.

Katakanlah aku beriman pada Allah: sebaik baik iman pada Allah yang diyakini dengan hati dan diucapkan dengan lisan untuk memenuhi seluruh rukun-rukun iman.

Kemudian beristiqomahlah: maksudnya adalah selalu dalam ketaatan dan berlepas dari perbuatan yang menyimpang.

Arti secara Umum

Bahwasanya sabda Nabi yang berbunyi “katakanlah aku beriman pada Allah kemudian beristiqomahlah” diambil dari firman Allah yang berbunyi:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu(QS. Fushilat: 30).

Maksudnya, ketika meninggal, para malaikat itu memberi kabar gembira kapada mereka dengan firman Allah yang berbunyi:

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, Kemudian mereka tetap istiqamah[1] Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS. Fushilat: 30).

Dalam kitab tafsir disebutkan bahwa ketika mereka diberi kabar gembira dengan memperoleh surga maka mereka berkata, “Bagaimana halnya dengan anak-anak kami, apa yang mereka makan dan bagaimana pula keadaan mereka sesudah kami?” Lalu, dikatakan kepada mereka “kamilah walimu dalam kehidupan dunia dan akhirat.” (QS. Fushilat: 31) Maksudnya, kami (Allah) yang akan mengatasi urusan mereka sesudah kamu. Dengan demikian, hati mereka menjadi tenang.

Maksud kedua ayat di atas adalah beristiqomah dalam tauhid yang sempurna.

Istiqhomah adalah sebuah tingkatan yang paling sempurna, barangsiapa yang merainya maka akan mendapatkan kebaikan, barangsiapa yang tidak istiqomah maka akan hilanglah tujuannya. Istiqomah merupakan jalan menuju siratal mustaqim, ia merupakan agama yang lurus dan tidak bengkok kekiri dan ke kanan, ia akan selalu ta’at baik lahir maupun bathin, dan menjauhi semua yang telah dilarang.

Istiqomah terbagi menjadi dua, diantaranya adalah:

  1. 1. Istiqomah Hati.

Pokok istiqomah adalah istiqomah hati terhadap tauhid, selama hatinya mengingat Allah dan takut kepadanya, mengagungkannya dan mencintainya, mengharap kepadanya dan berdo’a kepadanya, dan bertawakkal hanya kepadanya dan menolak yang lain. Istiqomahnya seluruh anggota badan atas kehendaknya, dikarenakan hati merupakan raja dan anggota badan merupakan tentaranya, apabila rajanya sudah istiqomah maka tentara dan penduduknya akan ikut, sebagaimana sabda rasulullah SAW.

Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”.(Hr: Bukhari dan Muslim)

  1. 2. Istiqomah lisan.

Sesuatu yang paling besar untuk dijaga keistiqomahannya dari amalah badan setelah hati adalah lisan, karena ialah yang menerjemahkan dan mengungkapkan apa yang ada dalam hati. Hal ini dikuatkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam atz-tirmidzi. “aku berkata wahai rasulullah apa yang harus aku takutkan sesuatu yang menimpa diriku? Maka rasul memegang lidahnya”. Dan sebagaimana juga yang diriwayatkan oleh imam ahmad dalam musnadnya dari Nabi SAW bersabda: “ tidaklah lurus keimanan seorang hamba sampai lurus juga hatinya, dan tidak lurus hatinya sampai lurus juga lisannya”.

Penjelasan Hadits

Kalimat “katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu”, maksudnya adalah ajarkanlah kepadaku satu kalimat yang pendek, padat berisi tentang pengertian Islam yang mudah saya mengerti, sehingga saya tidak lagi perlu penjelasan orang lain untuk menjadi dasar saya beramal. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab : “Katakanlah : ‘Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamalah kamu’ “. Ini adalah kalimat pendek, padat berisi yang Allah berikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Dalam dua kalimat ini telah terpenuhi pengertian iman dan Islam secara utuh. Beliau menyuruh orang tersebut untuk selalu memperbarui imannya dengan ucapan lisan dan mengingat di dalam hati, serta menyuruh dia secara teguh melaksanakan amal-amal shalih dan menjauhi semua dosa. Hal ini karena seseorang tidak dikatakan istiqamah jika ia menyimpang walaupun hanya sebentar. Hal ini sejalan dengan firman Allah : “Sesungguhnya mereka yang berkata : Allah adalah Tuhan kami kemudian mereka istiqamah……”.(QS. Fushshilat : 30)

yaitu iman kepada Allah semata-mata kemudian hatinya tetap teguh pada keyakinannya itu dan taat kepada Allah sampai mati.

‘Umar bin khaththab berkata : “Mereka (para sahabat) istiqamah demi Allah dalam menaati Allah dan tidak sedikit pun mereka itu berpaling, sekalipun seperti berpalingnya musang”. Maksudnya, mereka lurus dan teguh dalam melaksanakan sebagian besar ketaatannya kepada Allah, baik dalam keyakinan, ucapan, maupun perbuatan dan mereka terus-menerus berbuat begitu (sampai mati). Demikianlah pendapat sebagian besar para musafir. Inilah makna hadits tersebut, Insya Allah.

Begitu pula firman Allah : “Maka hendaklah kamu beristiqamah seperti yang diperintahkan kepadamu”.(QS. Hud : 112)

Menurut Ibnu ‘Abbas, tidak satu pun ayat Al Qur’an yang turun kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang dirasakan lebih berat dari ayat ini. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda :

“Aku menjadi beruban karena turunnya Surat Hud dan sejenisnya”.[2]

Abul Qasim Al Qusyairi berkata : “Istiqamah adalah satu tingkatan yang menjadi penyempurna dan pelengkap semua urusan. Dengan istiqamah, segala kebaikan dengan semua aturannya dapat diwujudkan. Orang yang tidak istiqamah di dalam melakukan usahanya, pasti sia-sia dan gagal”. Ia berkata pula : “Ada yang berpendapat bahwa istiqamah itu hanyalah bisa dijalankan oleh orang-orang besar, karena istiqamah adalah menyimpang dari kebiasaan, menyalahi adat dan kebiasaan sehari-hari, teguh di hadapan Allah dengan kesungguhan dan kejujuran. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : ‘Istiqamahlah, sekalipun kalian tetap tidak akan mampu.”[3]

Al Washiti berkata : “Istiqamah adalah sifat yang dapat menyempurnakan kepribadian seseorang dan tidak adanya sifat ini rusaklah kepribadian seseorang”.[4]

Syaikh abdurrahman as-sa’di berkata: Buah dari iman dan istiqamah adalah keselamatan dari segala bentuk keburukan serta meraih segala hal yang dicintai.

Nash-nash dan sunnah cukup banyak yang menunjukkan bahwa iman itu meliputi akidah yang benar (lurus) di dalam hati dan meliputi seluruh amalan hati, seperti cinta kebaikan, takut pada keburukan, menginginkan kebaikan dan membenci keburukan, dan seluruh amalan anggota badan. Semua itu tidak akan terwujud secara sempurna, kecuali dengan tetap teguh di atasnya.

Beberapa yang dalapat diambil dalam hadits di atas

  1. Iman kepada Allah ta’ala harus mendahului ketaatan .
  2. Iman kepada Allah saja tidak cukup tanpa istiqamah, iman kepada Allah harus diberengi dengan keistiqamahan di atas agama-Nya.
  3. Amal saleh dapat menjaga keimanan.
  4. Iman dan amal saleh keduanya harus dilaksanakan .
  5. Istiqomahj merupakan derajat yang tinggi.
  6. Keinginan yang kuat dari para shahabat dalam menjaga agamanya dan merawat keimanannya .
  7. Perintah untuk istiqomah dalam tauhid dan ikhlas beribadah hanya kepada Allah semata hingga mati.
  8. Bahwa wasiat yang paling menyeluruh dan paling bermanfaat adalah wasiat yang termuat di dalam hadits ini. Yaitu, iman kepada Allah kemudian istiqamah di atas iman. Dalam hal ini Nabi besabda, “ katakan, ‘Aku beriman kepada Allah, kemudian beristikaqamahlah!” Wallahu a’lam.

[1] . Istiqamah ialah teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang saleh.

[2] Hadits shahih yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (3297) dan Al-Hakim (II/374). Al-Albani menshahihkan hadits ini di dalam Shahih Al-Jami’ (3723).

[3] Hadits shahih; diriwayatkan oleh Ahmad (V/276), Al-Hakim (I/220), Al-Baihaqi (I/82), dan Ath-Thabrani dalam Al-Awsath (VII/116).

[4] Lihat: Syarh An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim (II/9).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: