Posted by: fadilarahim | April 16, 2010

Bagian Dari Syirik, Seseorang Yang Bernadzar Pada Selain Allah

I. Definisi Nadzar

Menurut Arraghib Nadzar adalah: Engkau mewajibkan pada dirimu sesuatu yang wajib karena adanya sesuatu kejadian.[1]

Sedangka secara syar’i adalah Suatu tindakan mewajibkan diri sendiri, yang mana hal itu sebetulnya tidak diwajibkan syariat kepadanya.[2]

Majsudnya yaitu: Seorang muslim mewajibkan sesuatu kepada dirinya karena ingin taat kepada Allah Ta’ala dan ia tidak mewajibkannya tanpa nadzar tersebut.[3]

II. Pensyariatan Nadzar

Nadzar itu telah disyariatkan baik di dalam Al Qur’an maupun dalam hadits Rusulillah Shalallahu ‘Alai wa Sallam.

  1. Al Qur’an:

وَمَا أَنفَقْتُم مِّن نَّفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُم مِّن نَّذْرٍ فَإِنَّ اللّهَ يَعْلَمُهُ

“Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS Al Baqarah: 270)

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْماً كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيراً

“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. (QS. Al Insan: 7)

  1. Hadits Rusulillah Shalallahu ‘Alai wa Sallam:

من نذر أن يطيع الله فليطعه ( رواه البخاري )

“Barangsiapa bernadzar untuk mentaati Allah, maka hendaknya dia berbuat taat kepada-Nya” (HR. Imam Al Bukhari)

III. Rukun Nadzar:

Rukun Nadzar ada tiga Macam:[4]

  1. Nadzir (orang yang bernadzar) , Yaitu setiap orang muslim yang sudah mukallaf, maka, Nadzar tidak berlaku bagi anak kecil, orang gila dan non muslim.
  2. Almandzur (Yang dinadzar), ada dua macam:
    1. Mubham (samar), yaitu Sesuatu yang tidak dijelaskan bentuknya. Seperti ucapan seseorang, ‘demi allah aku bernadzar’.
    2. Muayyan (Ditentukan):
  • Dalam rangka mendekatkan diri (ibadah). Ia wajib dipenuhi/ dilaksanakan.
  • Dalam kemaksiatan, haram untuk dipenuhi/dilaksanakan.
  • Dalam hal yang makruh, dimakruhkan untuk dipenuhi/ dilaksanakan.
  • Dalam hal yang mubah, diperbolehkan untuk dilaksanakan atau ditinggalkan. Bagi orang yang meninggalkannya tidak mendapat dosa.
  1. Shighah Nadzar:
    1. Mutlak, yaitu dalam rangka mensyukuri nikmat Allah atau tanpa ada sebab. Menurut Malikiyyah, madzar seperti ini mustahab. Misalnya; “saya akan berpuasa tiga hari atau shalat dhuha.”
    2. Muqayyad, yaitu yang terikat dengan syarat. Nadzar ini wajib dilaksanakan jika syaratnya terpenuhi. Misalnya; “kalau si fulan datang atau kalau Allah menyembuhka penyakitku, akun akan melakukan ini dan itu”

IV. Nadzar Untuk Selain Allah

Nadzar adalah bagian dari ibadah, maka barangsiapa melaksanakan nadzar  untuk selain Allah adalah dia telah berbuat syirik. Apabila ia bernadzar untuk taat kepada Allah, maka ia wajib melaksanakannya, dan itu menjadi amal ibadahnya dan taqarrubnya kepaa Allah. Oleh karena itu Allah memuji orang yang menyempurnakan nandzar seperti ini. Dan apabila ia bernadzar untuk mahluk dalam rangka bertaqarrub kepadanya supaya ia memberi syafaat kepadanya di sisi Allah, menghilangkan kesusahannya atau yang semisalnya, dia telah berbuat syirik (mensekutukan Allah dengan yang lainnya) dalam urusan ibadah kepada Allah. Sebagaimana orang yang melaksanakan shalat untuk Allah dan untuk yang lainnya.[5]

Allah Ta’ala berfirman:

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْماً كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيراً

“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. (QS. Al Insan: 7)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala memuji orang-orang yang menunaikan nadzarnya. Dan Allah tidak memuji terhadap seseorang kecuali dia telah melaksanakan hal yang wajib atau sunnah, atau dia meninggalkan hal yang diharamkan. Inilah yang disebut dengan ibadah, maka barang siapa melaksanakannya untuk selain Allah dan mendekatkan diri kepadanya berarti dia telah berbuat syirik.[6]

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَنفَقْتُم مِّن نَّفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُم مِّن نَّذْرٍ فَإِنَّ اللّهَ يَعْلَمُهُ

“Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Al Baqarah: 270)

Ibnu Katsir berrkata: “Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia mengetahui kebaikan-kebaikan yang dilakukan orang-orang berupa memberikan nafkah dan menunaikan nadzar. Ini mengandung makna: Allah akan memberi pahala yang besar bagi orang yang melakukannya untuk mencari wajah-Nya.”[7]

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah; orang yang bernadzar untuk selain Allah, seperti bernadzar untuk berhala, matahari, bulan , kuburan dan yang semisalnya, kedudukannya seperti orang yang bersumpah dengan selain Allah. Dan orang yang bersumpah dengan mahluk, tidak wajib dilaksanakan dan tidak ada kafarat, begitu juga orang yang bernadzar kepada mahluk. Kedua-duanya adalah perbuatan syirik. Dan kesyirikan tidak boleh dipelihara (dihormati) akan tetapi ia harus minta ampun kepada Allah dari semua ini dan mengucapkan apa yang telah disabdakan Nabi Shalallahu ‘Alai wa Sallam : “Barangsiapa yang bersumpah,dan didalamnya ia menyebut ‘demi Laata, demi Uzza’, hendaknya ia mengucapkan ‘LA ILAHA ILLALLAH’.” (HR. Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan yang lainnya dari Abi Hurairah)[8]

Telah jelas dari perkataan Syaikhul Islam di atas bahwa nadzar untuk selain Allah adalah syirik sebagaimana bersumpah dengan selain nama Allah, yang berarti ini termasuk bagian dari syirik kecil. Bahkan beliau menambahkan bahwa nadzar lebih besar (dosanya) dibandingkan sumpah dengan selain nama Allah.[9]

IV. Nadar Dalam Rangka Maksiat

Nadzar maksiat adalah nadzar untuk mengerjakan hal-hal yang diharamkan oleh Allah Ta’ala atau nadzar untuk tidak mengerjakan hal-hal yang diperintahkan. Ini adalah salah satu bentuk nadzar yang tidak diperbolehkan.[10]

Hukum Nadzar seperti ini adalah wajib tidak dilaksanakan, karena Rasulullah Shalallahu ‘Alai wa Sallam bersabda: “Barangsiapa bernadzar untuk taat kepada Allah, hendaknya ia taat kepada-Nya. Dan barangsiapa bernadzar untuk bermaksiat kepada-Nya, ia jangan bermaksiat kepada-Nya.” (HR. Al Bukhari dalam Shahihnya)

Batas nadzar yang tidak diperbolehkan Allah itu adalah garis yang berbatasan dengan nadzar yang diperbolehkan-Nya. Yaitu, nadzar untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan juga nadzar yang dimaksudkan untuk mencari keridhaan-Nya. Wallahu ‘alam.


[1] Al Fiqhul Islamiy wa Adillatuhu, Prof. DR. Whbah Az Zuhailiy, Juz IV/ 2552

[2] Fiqih Wanita (tarjamahan dari Al-Jami’ fii Fiqhi An Nisa’), Syaikh Kamil Muhammad ‘Uwaidah, hlm; 561

[3] Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazaairi, hlm: 529

[4] Al Fiqhul Islamiy wa Adillatuhu, Prof. DR. Whbah Az Zuhailiy, Juz IV/ 2552-2553.

[5] Taisirul ‘Azizil Hamid, Syaikh Sulaiman Bin Abdillah Bin Muhammad Bin Abdul Wahab, hlm: 203.

[6] Ad Durrun Nadhid, Syaikh Sulaiman Bin Abdirahman Himdan, hlm: 92.

[7] Tafsirul Qur’anil ‘Adzim, Syaikh Imadudin Ibnu Katsir, juz I/ 420.

[8] Fathul Majid, Syaikh Abdur Rahman Bin Hasan Alus Syaikh, hlm:189-190.

[9] Ad Durrun Nadhid, Syaihk Sulaiman Bin Abdirahman Himdan, hlm: 92.

[10] Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazaairi, hlm: 531


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: