Posted by: fadilarahim | April 13, 2010

HAKEKAT IMAN (2)

Kelompok Yang Menyeleweng Dan Jawabannya

Kelompok yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam permasalahan ini ada tiga golongan, diantaranya adalah:

Kelompok pertama: Murji’ah

Secara bahasa, al-Irja’ memiliki dua makna[1]:

Pertama, bermakna ta’khir (mengahirkan atau menunda), sebagaimana firman Allah:

قَالُواْ أَرْجِهْ وَأَخَاهُ وَأَرْسِلْ فِي الْمَدَآئِنِ حَاشِرِينَ

“Pemuka-pemuka itu menjawab: “Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir)”. (QS. Al-A’raf: 111)

Kedua, memberikan harapan (kebalikan dari putus asa), sebagaimana firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أُوْلَـئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللّهِ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Baqarah: 218)

Sedangkan menurut istilah, Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Adapun Murji’ah mengatakan, iman adalah pengakuan tanpa dibarengi dengan perbuatan. Barangsiapa mengatakan: Aku bersaksi, tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Allah dan aku bersaksi, Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, maka ia Mukmin yang sempurna imannya. Imannya seperti imannya jibril dan mala’ikat. Meski ia melakukan pembunuhan terhadap ini dan itu, ia tetap Mukmin, meskipun ia tidak mandi junub dan meninggalkan shalat. Mereka berpendapat boleh memerangi ahli kiblat.

Kelompok ini dalam memaknai iman ada empat golongan, diantaranya adalah:

  • Pertama: Murji’ah Jahmiyyah

Kelompok ini meyakini bahwa iman itu hanya sebatas pembenaran hati, pendirinya adalah Jahm bin Shofwan, Adapun Jahm bin Shofwan terkenal memiliki empat keyakinan(aqidah) yang bid’ah, diantaranya adalah:

1)      Aqidah yang menafikan sifat, kemudian diambil oleh jahmiyyah.

2)      Aqidah irja’, kemudian diambil oleh murji’ah.

3)      Aqidah jabar, kemudian diambil oleh jabariyah.

4)      Aqidah yang mengatakan bahwa surga dan neraka itu akan fana dan tidak kekal.[2]

Inilah empat keyakinan buruk shofwan bin jahm yang sudah terkenal, adapun murji’ah mahdhoh ini, aqidah mereka dalam keimanan hanya sebatas pengetahuan, maksudnya adalah hanya mengenal rabb di hati saja, mereka meyakini bahwa barangsiapa yang mengenal rabbnya dalam hatinya cukup dikatakan mukmin, dan ia tidak kafir kecuali hatinya tidak mengenal rabbnya. Oleh karena itu ulama’ membantah hal ini, seandainya demikian maka iblis juga mukmin, dikarenakan ia mengenal rabbnya, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. (QS. al-A’raf: 14)

Kalau begitu juga fir’aun mukmin karena ia mengetahui rabbnya dalam hatinya sebagaimana firman Allah:

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan”. (QS. An-Naml: 14)

  • Kedua: Murji’ah Karamiyah

Mereka adalah Muhammad bin Karam dan para pengikutnya. Mereka berkeyakinan bahwa iman hanya sebatas pembenaran lisan semata. Maksudnya, barangsiapa yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka ia dianggap seorang mukmin yang sempurna imannya. Tidak peduli kepada keadaan hati dan amalan anggota badannya. Ia dianggap mukmin, sekalipun hatinya mengingkari adanya Allah, atau meyakini adanya dzat selain Allah yang berhak diibadahi. Bahkan, sekalipun ia menyembah berhala, matahari, atau pohon yang dikeramatkan, ia tetap dianggap seorang mukmin selama mengucapkan dua kalimat syahadat. Keyakinan kelompok ini sangat jelas kerusakannya dan kesesatannya. Akidah ini menyamakan orang munafik dan musyrik dengan seorang mukmin. Kesesatan kelompok ini lebih parah dari kesesatan kelompok murjiah fuqoha’.[3]

Menurut mereka orang Munafik itu beriman, hal ini bertentangan dengan firman Allah yang berbunyi:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian ,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Baqarah: 8)

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لاَ يَحْزُنكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُواْ آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِن قُلُوبُهُمْ

“Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:”Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman”. (QS. Al-Maidah: 41)

  • Ketiga: Murji’ah Asya’irah

Kelompok ini meyakini bahwa iman itu hanya sebatas keyakinan dalam hati adapun perbuatan hati tidak masuk pada keimanan, yang melopori keyakinan ini adalah Abu Hasan al-Asy’ari dan inilah perkataan yang sangat terkenal darinya. Ia hanya memaknai iman dari segi bahasa saja tanpa mengambil istilah yang syar’e.

  • Keempat: Murji’atul Fuqaha’

Kelompok ini meyakini bahwasanya iman menurut mereka adalah hanya sebatas pengucapan dengan lisan dan meyakini dengan hati, dan perbuatan dengan anggota badan tidak termasuk pada keimanan, keimanan menurut mereka tidak berkurang dan tidak bertambah.

Mereka tidak mengatakan bahwa iman itu akan bertambah sebagian dan berkurang sebagian, sebagaimana sabda Rasul SAW yang berbunyi:

أَخْرِجُوا مِنْ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ

“Keluarkan dari neraka siapa yang didalam hatinya ada iman sebesar biji sawi”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Yang pertama kali mengadopsi pemikiran ini adalah Dzar bin Abdullah al-Marhibi, Hamad bin Sulaiman (gurunya imam Abu Hanifah), dan Amru bin Marra al-maraadi. Oleh karena itu imam Abu Hanifah kebawa oleh gurunya kemudian ia berpemahaman demikian, ia mengatakan bahwa iman itu tidak bertambah dan berkurang (dalam kitabnya Fiqhul Akbar).

Penurut ahli hadits dan ahli atsar sebenarnya mereka sama dengan Ahlis Sunnah wal Jama’ah dalam banyak masalah, akan tetapi mereka berbeda dalam hal yang pokok dalam masalah agama ini, diantaranya adalah dalam masalah iman, inilah penyebab disandarkannya panggilan murji’atul fuqaha’.[4]

Dipahami murji’ah dikarenakan perkataan mereka mengenai iman seperti perkataan murji’ah, mereka tidak memasukkan amal dalam keimanan, mereka mengatakan (adapun pada hakekatnya pengikutnya sama). Dan dinamakan murji’atul fuqaha’ dikarenakan mereka kalangan fuqaha’ dan dikenal demikian.

Yang banyak dipermasalahkan oleh kebanyakan ulama’ pada saat ini adalah apakah berbedaan pendapat antara MURJI’AH FUQAHA’ dengan AHLUS SUNNAH itu perbedaan secara lafdzi atau maknawi?

Dalam hal ini kebanyakan Ulama’ menjawab bahwa berbedaan ini bukan hanya perbedaan secara lafdzi, akan tetapi ini merupakan perbedaan maknawi, inilah pendapat yang dirojihkan juga oleh Syaikh Nashiruddin Al-Bani dan Ulama’ yang lain.

Kelompok kedua: Khawarij dan Mu’tazilah

Secara khusus khawarij adalah sebuah kelompok yang keluar dari Ali bin Abi Tholib setelah peperangan shiffin dan setelah menerima tahkim, mereka mengkafirkannya dan juga mengkafirkan Mu’awiyah, dan mengkafirkan kedua belah pihak yang melakukan tahkim serta mengkafirkan orang yang ridho atas tahkim, ia juga mengkafirkan Utsman dan kaum Muslimin yang mengikuti perang Jamal.

Namun pengertian secara umum khawarij adalah sebuah kelompok yang memiliki dua sifat sebagaiberikut, diantaranya adalah:

  1. Kelompok yang keluar dari imam yang adil.
  2. Mengkafirkan belaku dosa besar, dan bertentangan dengan akal.

Sedangkan Mu’tazilah berasal dari kata ‘azala–ya’taziluhu ‘azlan wa’azalahu fa’tazala wa-in’azala wa-ta’azzala yang artinya menyingkir atau memisahkan diri. [Lisanul Arab 11/440].

Secara istilah Mu’tazilah berarti sebuah sekte sempalan yang mempunyai keyakinan lima pokok keyakinan (al ushul   al-khamsah), meyakini dirinya merupakan kelompok moderat  di antara dua kelompok ekstrim yaitu Murjiah yang menganggap pelaku dosa besar tetap sempurna imannya dan Khowarij yang menganggap pelaku dosa besar telah kafir.[Al Milal Wa Nihal: 47-48].

Mu’tazilah adalah firqah dari ahli kalam yang menyelisihi ahli sunnah terhadap sebagian keyakinan, tokohnya adalah washil bin atha’ yang mengasingkan diri dari halaqah hasan al basyri.

Kedua kelompok di atas dalam mengartikan iman, sama dengan apa yang diartikan oleh ahlus sunnah wal jama’ah, yaitu iman itu berdasarkan ucapan, perbuatan dan keyakinan. Akan tetapi yang berbeda mereka menyakini bahwa iman itu adalah suatu yang satu tidak bercabang, apabila sebagian tiada maka tiadalah semuanya dan apabila sebagian ada maka semuanya ada.

Kelompok khawarij berkeyakinan bahwa apabila seseorang keluar dari iman, misalnya denan melaksanakan dosa besar atau melakukan maksiat, maka ia kafir dan pada hari kiamat ia kekal dalam Neraka. Sedangkan kelompok mu’tazilah berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar itu keluar dari iman namun ia tidak kafir (Al Manzilah Baina al Manzilatain), akan tetapi pada hari kiamat ia kekal di Neraka.


[1] Asy-Syahrastani, Al-Milal wa an-Nihal, (Beirut: Daar al-Fikr, 1428-1429 H), hal. 112.

[2] Abdul ‘Aziz Bin ‘Abdullah Ar’rajihi, As ilah wa ujubah fi al-Iman wal kufur,  hal.13.

[3] Abu laila, Abu Fatiah al Adnani, Mizanul Muslim, (Solo: Pustaka Cordova, 2009), cet. Ke-III, Hal. 170-171.

[4] Sholeh Bin Abdul ‘Aziz, Syarah Aqidah Thohawiyyah, Hal. 8


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: