Posted by: fadilarahim | April 13, 2010

HAKEKAT IMAN (1)

Iman Itu Berdasarkan Ucapan Dan Perbuatan, Ia Bertambah Dan Berkurang

OLEH: FADILA RAHIM

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin atas segala limpahan hidayah, rahmat, dan hidayah-Nya. Shalawat dan salam senantiasa kita panjatkan kepada Rasulullah SAW, keluarga, shahabat dan ummatnya yang istiqomah menempuh syari’atnya hingga akhir zaman.

Pembahasan masalah iman merupakan perkara yang sangat unrgen dalam agama islam, dikarenakan masalah iman ada kaitannya dengan agama itu sendiri. Artinya apabila iman seseorang itu benar maka benarlah ia dalam beragama, sebaliknya apabila iman seseorang itu rusak, maka rusaklah agamanya.

Namun sebaliknya dewasa ini, kebanyakan kaum muslimin tidak mengerti bahkan jauh dari pemahaman yang benar akan hal ini. Jarang dari mereka yang ingin mempelajarinya dengan serius, bahkan ada sebagian dari mereka pobi apabila mendengarkan istilah iman atau aqidah, mereka malah cenderung pada amalan-amalan serta keyakinan yang baru (bid’ah) padahal perbuatan ini jauh-jauh hari dilarang oleh Rasulullah, karena akan menyesatkan pelakunya,

Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengangkat sebuah tema yang sudah merupakan kesepakatan ulama’ salaf dan ini merupakan keyakinan ahlus sunnah wal jama’ah, yaitu (الإيمان قول وعمل يزيد وينقص) iman itu perkataan dan berbuatan, ia bertambah dan berkuran.

Dalam makalah ini penulis membagikan dengan dua pembahasan, diantaranya adalah: pertama; iman itu berdasarkan ucapan dan perbuatan. Kedua; iman itu bertambah dan berkurang.

Pertama: Iman itu berdasarkan ucapan dan perbuatan (الإيمان قول وعمل)

Pengertian

Maksud dari qaulun(ucapan) adalah qaulul qalbi wa lisan(ucapan hati dan lisan), sedangkan maksud dari ‘amalun(perbuatan) adalah amalul qolbi wal jawaarih (berbuatan hati dan anggota badan).[1]

Ibnu taimiyyah berpendapat bahwa maksud dari qaulun(ucapan) adalah qaulul qalbi wa lisan(ucapan hati dan lisan) sedangkan yang dimaksud amalun(perbuatan) yaitu amalul qalbi wa lisan wa al-jawarih(berbuatan hati, lisan dan anggota badan.[2]

Penjelasan Ringkas

Sedangkan maksud dari pengertian di atas adalah sebagai berikut:

a) Qoulul Qolbi (ucapan hati)

Maksud dari qaulul qalbi adalah membenarkannya dan meyakininya, sebagaimana firman Allah SWT:

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ # لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ

Artinya, “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Robb mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Az Zumar:33-34).

Firman Allah juga:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

Artinya; “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu” (QS. Al-Hujurat: 15)

Maksud dari ayat ini adalah ia membenarkan kemudian ia tidak ragu.

Rasulullah bersabda:

الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ

“Iman adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari berbangkit”. (HR. Bukhari)

b) Qaulul lisan (ucapan lisan)

Maksudnya adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan menetapkan sebagaimana lazimnya. Sebagaimana firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS. Al-ahkaf: 13)

Rasulullah bersabda:

أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi; tidak ada ilah kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. (HR. Bukhari)

c) Amalul Qalbi (perbuatan hati)

Yaitu niat, ikhlas, cinta, berserah diri, menerima atas Allah SWT dan bertawakkal kepadanya serta melaziminya dan mengikutinya. Sebagaimana firman Allah:

وَلاَ تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya.” (QS. Al-an’am: 52)

Juga firmanNya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”(QS. Al-anfal: 2)

Sabda Rasul yang berbunyi:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Juga sabda Nabi SAW:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya”.(HR. Bukhari dan Muslim)

d) Amalul Lisan Wal Jawarih (perbuatan lisan dan anggota badan)

Yang dimaksud dengan amalul lisan (perbuatan lisan) adalah sesuatu yang tidak akan terlaksana kecuali dengannya, seperti membaca al-Qur’an dan seluruh dzikir seperti tasbih, tahmid, tahlil, takbir, do’a, istigfar, dan lain sebagainya.

Sedangkan yang dimaksud dengan amalul jawaarih (perbuatan anggota badan) yaitu sesuatu yang tidak akan terjadi kecuali dengannya, berdiri, ruku’, sujud, berjalan dalam rangka mencari ridho Allah, amar ma’ruf nahi mungkar dan lain sebagainya dari cabang keimanan.

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. (QS. Fatir: 29)

Juga firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (111) التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآَمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah. lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar (111) Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat , yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu.” (QS. At-Taubah: 111-112)

Semua pembagian ini telah terkumpul pada Sabda Nabi SAW yang berbunyi:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Iman itu ada tujuh puluh tiga sampai tujuh puluh sembilan, atau enam puluh tiga sampai enam puluh sembilan cabang. Yang paling utama adalah perkataan, LAA ILAAHA ILLALLAHU (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah sebagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksud dari ucapan LAA ILAAHA ILLALLAH (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah keyakinan dan ucapan hati.

Maksud dari “Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan” adalah perbuatan anggota badan.

Maksud dari “Dan malu itu adalah sebagian dari iman” ini adalah amalan hati.[3]

Perkataan Salaf

Perkataan ulama’ yang berkenaan dengan iman, bahwa iman itu ucapan dan perbuatan, Diantaranya adalah:

Imam al-Lika’i berkata, “Imam Bukhari berkata, ‘Saya telah berjumpa dengan lebih dari seribu ulama di segala penjuru saya tidak mendapatkan perbedaan pendapat dikalangan mereka bahwa; iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang[4].”

Iman adalah; ”Qoulun wa amalun wa niyatun. (Perkataan, perbuatan dan niat)” Menurut Ibnu Taimiyah  dan Imam Al-lalika’iy pendapat ini dinukil oleh Imam Asy-Syafi’ie dalam al-Umm-nya. Bahkan ada yang menukil ijma’ tentang definisi iman yang ini.[5]

Ada juga yang mengatakan bahwa iman adalah, “Qoulun wa amalun wa niyatun wa ittiba’us sunnah.’ (Perkataan, perbuatan niat dan mengikuti sunnah)[6].

Abdullah bin Mubarak berkata: Iman adalah ucapan dan perbuatan, dan ia bertingkat-tingkat.[7]

Syufyan bin ‘Uyainah berkata: Iman adalah ucapan dan perbuatan, ia bertambah dan berkurang.[8]


[1] Abu ‘Ashim, Mukhtashor Ma’arijul Qabul,(Mesir: Daar as-shofwah, 1427 H), cet. Ke-XI, hal. 177

[2] Syeikh Utsaimin, Syarh Aqidah Al-Washitiyyah, (Beirut: Maktabah Hikam ad-Diniyah, 1424 H), cet. Ke-II, hal. 386

[3] Syaikh ‘Utsaimin, Syarah Aqidah as-Safaraniah, (Kairo: Daar al-Aqidah, 1427 H), cet. Ke-I, hal. 357.

[4] Al-Lalika’I, Syarah Usulu I’tiqaadi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, (Kairo: Daar al-Hadits, 1425 H), cet. Ke-I, juz. 1, hal. 135.

[5] Ibnu Taimiyyah, Majmu’ al-Fatawa, juz. VII, hal. 308.

[6] Ibid, hal. 505.

[7] Abdullah bin Hamid al-Atsari, al-Imanu Haqiqatuhu Hawarimuhu Nawaqiduhu ‘Inda Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 27.

[8] Ibid.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: