Posted by: fadilarahim | April 13, 2010

HUKUM MEMINTA TOLONG PADA JIN

Oleh: Fadila Rahim

Siapakah Jin?

Al-jinnu berasal dari kata janna syai`un yajunnuhu yang bermakna satarahu (menutupi sesuatu).   Maka segala sesuatu yang tertutup berarti tersembunyi. Jadi, jin itu disebut dengan jin karena   keadaannya yang tersembunyi atau tertutup (ijtina’). Jin adalah makhluk yang berakal yang mempunyai kemampuan untuk memilih jalan kebaikan dan keburukan. Jin memiliki alam tersendiri dan bukan alam malaikat atau alam manusia. Jin adalah makhluk yang diciptakan dari api sebagaimana yang terdapat dalam surat Ar-Rahman ayat 15.

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

“Dan dia menciptakan jin dari nyala api”

Ibnu Abd Al-Barr t mengatakan bahwa menurut para ahli ilmu kalam dan bahasa, Jin memiliki tiga jenis sebutan:

  1. Bila yang mereka maksudkan adalah Jin secara murni, maka mereka dipanggil Jinni.
  2. Bila yang mereka maksudkan Jin yang tinggal bersama manusia, maka mereka dipanggil Amir, jamaknya Imar.
  3. Jika yang dimaksud Jin yang nampak pada anak-anak kecil, maka mereka dipanggil Arwah.
  4. Jika ia jahat dan mengganggu, maka ia dipanggil Syaitan.
  5. Jika kejahatannya lebih daripada syaitan dan pengaruhnya lebih kuat, maka disebut Afrit.

Kemudian mengenai kelompok Jin Rasuulullah bersabda:

Jin ada tiga kelompok: satu kelompok terbang melayang diudara. Satu kelompok lagi berupa ular dan anjing. Dan satu kelompok lagi diam dilumpur dan berjalan.”

(HR. Thabrani, Al-Hakim dan Al-Baihaqi dengan isnad shahih, Shahih Al-Jami’ 3/85)

Minta Tolong Pada Jin

Syekh ‘Utsaimin ditanya tentang hukum seseorang meminta tolong pada jin, beliau menjawab sebagaimana jawaban ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa. Bahwasanya meminta tolong pada jin itu berada dalam tiga keadaan, diantaranya adalah:

Pertama: ia meminta tolong dalam rangka ketaatan pada Allah, seperti memerintahkan untuk berdakwah. Misalnya seseorang memiliki teman dari kalangan jin yang mukmin, jin mukmin ini mengambil darinya sebuah ilmu untuk disampaikan pada teman-temannya yang lain, atau dimintai pertolongan dalam perkara yang dituntut secara syar’e, maka yang seperti ini suatu hal yang terpuji bahkan diperintahkan karena didalamnya menyangkut dakwah pada Allah.

Nabi juga pernah mendatangi mereka, beliau membacakan pada mereka al-Qur’an, sebagaimana sabda Nabi yang berbunyi:

Muslim meriwayatkan di dalam shahihnya dari Ibn Mas’ud, ia berkata: “Kami pernah bersama-sama Rasulullah n pada suatu malam, lalu kami kehilangan beliau sehingga kami mencarinya ke beberapa lembah dan perkampungan. Kemudian kami berkata, dia dibawa terbang atau terbunuh. Kemudian malam itu kami bermalam dengan keadaan yang buruk bersama orang-orang. Pada pagi harinya tiba-tiba beliau datang dari arah Hira`. Ibn Mas’ud berkata, ‘Lalu kami berkata: “Wahai Rasulullah n, kami kehilangan engkau lalu kami mencarimu, tetapi kami tidak menemukanmu sehingga kami bermalam dengan keadaan yang buruk bersama orang-orang.” Rasulullah n berkata: “Telah datang kepadaku da’i dari bangsa jin, lalu aku pergi bersama mereka kemudian aku bacakan Al Qur`an kepada mereka.” Ibn Mas’ud berkata, ‘Kemudian Rasulullah n pergi bersama kami lalu memperlihatkan kepada kami bekas-bekas mereka dan bekas-bekas api mereka. Mereka bertanya kepadanya tentang bekal (makanan) mereka, lalu Nabi n berkata, “Bagi kalian setiap tulang yang disebutkan nama Allah l padanya (ketika menyembelihnya), ia jatuh ke tangan kalian menjadi makanan dan setiap kotoran dari binatang kalian.” Kemudian Rasulullah n berkata, “Karena itu, janganlah kalian beristinja` dengan kedua benda tersebut karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian.”[1]

Dan mewakili terhadap kaumnya sebagai peringatan, dari kalangan jin juga banyak yang sholeh, hamba Allah, zuhud, ulama’, dikarenakan seorang yang pemberi peringatan hendaknya orang yang pintar dan alim dalam memperingatkan.

Kedua: meminta pertolongan dalam perkara yang mubah, ini juga diperbolehkan dengan syarat menggunakan cara yang mubah pula, apabila dengan cara yang haram maka hal ini haram juga, seperti ia tidak menyuruhnya kecuali menserikatkan Allah, sebagai contoh menyembelih sembelihan untuk jin, rukuk dan sujud pada jin atau yang lainnya.

Ketiga: memintai pertolongan dalam perkara yang haram seperti mengambil harta milik orang lain, atau yang lainnya. Ini merupakan perkara yang haram karena didalamnya timbul permusuhan dan tindak kedholiman, kemudian apabila caranya ditempuh dengan cara yang haram dan mengandung kesyirikan kepada Allah maka hukumnya akan lebih besar dan berbahaya.[2]

Namun Memohon perlindungan kepada jin adalah haram, seperti minta perlindungan terhadap dirinya, kesehatannya, keselamatannya, hartanya, rumahnya, kantornya, kebunnya, kenadaraannya, jabatannya, usahanya, agamanya, dsb.

Allah l berfirman:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً

“Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” [Qs. Al-Jin: 6].

Menundukkan Jin Untuk Sulaiman

Allah telah menundukkan untuk Nabi-Nya, Sulaiman sekelompok jin dan syaitan sehingga mereka mengerjakan apa saja yang diperintahkan kepada mereka dan akan dihukum jika melanggar. Firman Allah l:

Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya)  syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu.” (Shad: 36-38).

Dan Allah berfirman dalam surat Saba`: 12-13:

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tung-ku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.

Hal ini sebagai  bukti dikabulkannya do`a Sulaiman dimana beliau pernah berdo`a:

Ya Tuhanku,  ampunilah aku  dan  anugerahkanlah kepadaku  kerajaan  yang   tidak   dimiliki  oleh seorang  juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi“. (Shaad:35).

Do`a inilah yang kemudian mencegah Nabi ` untuk mengikat seorang jin yang datang kepada beliau dengan membawa panah api yang akan dilemparkannya ke muka beliau.


[1] HR. Muslim, 4/170, Imam An-Nawawi.

[2] Syekh ‘Utsaimin, Majmu’ Fatawa, juz. 1, hal. 291.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: