Posted by: fadilarahim | March 10, 2010

Sebab Ditolaknya Do’a

Dalam kitab Jamiu Bayaanil Ilmi Wa Fadhlihi, karya Ibnu Abdil Barr rahimahullah.(w. 463 H) menyebutkan[1].

قال رجل لإبراهيم بن أدهم رضي الله عنه : قال الله تعالى ادعوني أستجب لكم [2] فما بالنا ندعو فلا يستجاب لنا ؟ فقال له إبراهيم : من أجل خمسة أشياء قال : وما هي ؟ قال : عرفتم الله فلم تؤدوا حقه ، وقرأتم القرآن فلم تعملوا بما فيه ، وقلتم نحب الرسول صلى الله عليه وسلم وتركتم سنته ، وقلتم نلعن إبليس وأطعتموه ، والخامسة تركتم عيوبكم وأخذتم في عيوب الناس »

Seorang laki-laki bertanya kepada Ibrahim bin Adham rahimahullah (w. 162 H) “wahai Ibrahim, Allah Ta’ala berfirman, ‘berdo’alah kalian kepada-Ku, niscaya akan aku kabulkan do’a kalian’, ( gofir: 60 ) tapi kenapa do’a kami tidak dikabulkan? “Ibrahim bin Adham menjawab, “Hal itu dikarenakan lima hal. “Orang tersebut berkata, “Apa itu? Ibrahim berkata, “Kalian mengenal Allah tetapi kalian tidak menunaikan hak-Nya. Kalian membaca Al-Qur’an, tetapi kalian tidak mengamalkan isinya. Kalian mengaku mencintai Rasul-Nya, tetapi kalian meninggalkan sunnahnya. Kalian mengaku melaknat iblis, namun kalian mena’atinya. Dan kelima, kalian lupa pada kekurangan kalian sendiri, namun kalian malah sibuk mengoreksi kekurangan orang lain.”

Dalam hal ini ada lima faktor yang menyebabkan titolaknya do’a, diantaranya adalah:

  1. 1. Mengenal Allah, tapi tidak memenuhi hak-hak-Nya.

Jama’ah yang dimuliakan oleh Allah, berapa banyak orang yang mengenal Allah, terkhusus kaum muslimin tidak sedikit yang mengetahui bahwa Allah maha esa, Allah Maha pemberi, Allah Maha penyayang, Allah Maha perkasa dan lain-lain. Akan tetapi sedikit diantara mereka yang memenuhi hak-hak Allah, diantaranya adalah sebagaimana yang disabdakan oleh rasulullah SAW. Yang bunyinya:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ كُنْتُ رِدْفَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ قَالَ فَقَالَ « يَا مُعَاذُ أتَدْرِى مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ ». قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ أُبَشِّرُ النَّاسَ قَالَ « لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا ».

Mu’adz bin Jabal menuturkan, “Aku pernah dibonceng oleh Nabi SAW di atas seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku, ‘Hai Mu’adz, tahukan kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh hamba-Nya dan apa hak para hambanya yang pasti dipenuhi oleh Allah? ‘Aku menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya saja yang lebih mengetahui. ‘beliau pun bersabda, ‘hak Allah yang wajib dipenuhi oleh hamba-Nya ialah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya.; sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah, bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya.’ Aku bertanya, “Ya Rasulullah, tidak perlukan aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?’ beliau menjawab, ‘janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, yang karenanya mereka akan mengandalkan itu (tanpa berbuat).HR. (Bukhari dan Muslim)

  1. 2. Membaca Al-Qur’an, tetapi tidak mengamalkan isinya.

Tidak mengamalkan apa yang ada dalam Al-Qur’an merupakan sebab ditolaknya do’a. sebenarnya tujuan diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk diamalkan sebagaimana perkataan ulama’ tabi’in Fudhail bin iyyad: “Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan hanyalah untuk diamalkan, maka orang-orang menjadikan bacaannya sebagai pengamalan.”

Kalau kita menengok para sahabat Nabi SAW, sungguh mereka mempelajari Al-Qur’an dari Rasulullah SAW sepulu ayat, maka mereka tidak menambah sepuluh ayat lain sehingga merek mengetahui tentang ilmu dan amal yang terkandung di dalamnya.

  1. 3. Mengaku mencintai Rasul-Nya, tetapi meninggalkan sunnahnya.

Ikhwan sekalian, kalau kita perhatikan umat islam saat ini, banyak dari mereka yang mengaku mencintai Rasulullah SAW, akan tetapi sedikit diantara mereka yang mengikuti atau mengamalkan sunnahnya. Padahal Rasulullah SAW adalah diutud sebagai suri tauladan bagi ummatnya.

Dr. khalid bin Abdul karim al-lahim menyebutkan bahwa ciri orang yang mencintai sunnah adalah sebagai berikut:

  1. 1. Banyak membacanya dan menela’ah
  2. 2. Menghafalnya
  3. 3. Merasa senang dalam majelisnya
  4. 4. Merasa rindu apabila lama tidak ada
  5. 5. Mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Beliau juga menyebutkan bahwa tingkatan mengikuti sunnah Nabi itu ada empat, diantaranya adalah:

  1. Membaca dan mendengarkan hadits.
  2. Menghafalkan lafadz hadits.
  3. Mengetahui fiqhul hadits serta makna-maknanya.
  4. Mengamalkan hadits.
  1. 4. Mengaku melaknat iblis, namun mena’atinya.

Kita (kaum muslimin) semua tahu bahwa iblis adalah makhluq yang dilaknat olleh Allah, akan tetapi masih banyak yang mengikuti langkah-langkah iblis dan bujukan-bujukannya. Padahal Allah SWT telah melarang sebagaimana dalam surat An-Nur ayat 21, yang bunyinya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَداً وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Kaum muslimin mutlaq ketaatannya hanya pada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنتُمْ تَسْمَعُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)( QS. Al-Anfal: 20)

  1. 5. lupa pada kekurangan diri sendiri, namun malah sibuk mengoreksi kekurangan orang lain.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُو ا

Hai orang-orang yang beriman jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain”(Al-Hujurat: 12)

Berkata Abu Hatim bin Hibban Al Busty dalam kitabnya Raudhatul Uqola, halaman (131) :

قال أبو حاتم رضى الله عنه الواجب على العاقل لزوم السلامة بترك التجسس عن عيوب الناس مع الإشتغال بإصلاح عيوب نفسه فإن من اشتغل بعيوبه عن عيوب غيره أراح بدنه ولم يتعب قلبه فكلما اطلع على عيب لنفسه هان عليه ما يرى مثله من أخيه وأن من اشتغل بعيوب الناس عن عيوب نفسه عمى قلبه وتعب بدنه وتعذر عليه ترك عيوب نفسه وإن من أعجز الناس من عاب الناس بما فيهم وأعجز منه من عابهم بما فيه من عاب الناس عابوه

“Keharusan bagi orang yang punya akal untuk tetap berada dalam keadaan selamat dari mencari-cari tentang kejelekan (ayib) orang lain, hendaklah ia sibuk memperbaiki kejelekan dirinya, sesungguhnya orang yang sibuk dengan kejelekannya sendiri dari pada mencari kejelekan orang lain, badannya akan tentram dan jiwanya akan tenang, maka setiap ia melihat kejelekan dirinya, maka akan semakin hina dihadapannya apabila ia melihat kejelekan tersebut pada saudaranya, sesungguhnya orang yang sibuk dengan kejelekan orang lain dari memperhatikan kejelekan dirinya, hatinya akan buta, badannya akan letih, dan akan sulit baginya untuk meninggalkan kejelekan dirinya sendiri”.

Ia (Ibnu Hibban berkata lagi) masih dalam kitab tersebut, halaman (133):

قال أبو حاتم رضى الله عنه التجسس من شعب النفاق كما أن حسن الظن من شعب الإيمان والعاقل يحسن الظن بإخوانه وينفرد بغمومه وأحزانه كما أن الجاهل يسيء الظن بإخوانه ولا يفكر في جناياته وأشجانه

“Mencari-cari kejelekan orang lain adalah salah satu cabang dari sifat kemunafikkan, sebagaimana berbaik sangka adalah salah satu dari cabang keimanan, orang berakal sehat selalu berbaik sangka dengan saudaranya, dan menyendiri dengan kesusahan dan kesedihannya, orang yang jahil (tolol) selalu berburuk sangka dengan saudaranya, dan tidak mau berfikir tentang kesalahan dan penderitaannya”.

Ikhwan sekalian, inilah beberapa sebab yang disebutkan oleh Ibrahim bin Adham. Yang intinya adalah dikarenakan kebanyakan dari yang berdo’a masih tidak menta’ati apa yang sudah diperintahkan oleh Allah dan melanggal apa yang sudah dilarang oleh Allah.

Demikianlah semoga bermanfaat, dan kita dapat mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Apabila ada kesalahan penulis minta maaf, karena itu dari keterbatasan ilmu kami dan apabila ada benarnya itu dari Allah.


[1] Maktabah syamilah. Juz 2/ hal 349/ poin no: 797.

[2] Gofir : 60


Categories

%d bloggers like this: