Posted by: fadilarahim | March 10, 2010

RIYA’ (Penjelasan ringkas, seputar amalan hati yang dapat menghapus pahala)

  1. PENDAHULUAN

Ikhlas merupakan sesuatu yang sangat pokok dalam agama, dan dia juga merupakan sumber tauhid dan ibadah, yaitu menujukan seluruh amal ibadahnya hanya pada Allah demi meraih pahala darinya. Ibadah dalam islam tidak bisa diterima kecuali memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas hanya pada Allah dan ittiba’ (mengikuti) contoh dari nabi`. Sehingga, tanpa dipenuhinya kedua syarat ini, maka ibadah seorang muslim akan sia-sia dan tertolak.

Perlu kita ketahui bersama bahwa diantara salah satu perbuatan yang merusak amal seorang hamba adalah riya’. Yang mana dari yang awalnya kita mengharapkan sebuah pahala, malah justru sebaliknya malah mendapatkan dosa dasi Allah. Secara hukum ulama’ sepakat bahwa riya’ adalah termasuk syirik kecil, akan tetapi bisa berubah menjadi kufur akbar tergantung dengan situasi pelakunya. Berangkat dari sinilah, dikarenakan pembahasan ini sangat penting (orgen) demi menjaga kemurnian ibadah kita, agar supaya diterima oleh Allah, kami ingin sedikit menbahas dengan ilmu yang sangat sedikit, kami manukil beberapa kitab yang dikarang oleh ulama’ terdahulu kita.

  1. DEFINISI RIYA’

Riya’ secara bahasa adalah pecahan dari الرؤية (melihat) secara istilah yaitu melakukan suatu amal tertentu untuk mendekatkan diri pada Allah, tetapi dia ingin mendapatkan pujian manusia, misalnya dengan membaikkan sholatnya atau memperpanjang ruku’,sujud dan bacaannya tidak sebagaimana biasanya, dengan tujuan supaya dilihat manusia. Atau melakukan sholat malam supaya ada yang mengatakan orang itu sholat malam. Dan lain sebagainya.[1]

  1. RIYA’ ADALAH SYIRIK KECIL

Diantara salah satu bagian dari syirik kecil adalah riya’, sebagai mana sabda rasullah`.

« أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر » ، فسئل عنه ؟ فقال : « الرياء » (رواه الطبراني و أحمد والبغاوي في الشرح السنة)

Rasulullah` bersabdah: yang paling aku takuti atas kalian adalah syirik kecil. Mereka bertanya, ‘wahai rasulullah, apakah syirik kecil itu ? ‘beliau menjawab,’yaitu riya’.”(HR. Ahmad,Ath-Thabrani, dan Baghawi dalam syarhus-sunnah)

Dalam riwayat Imam Ahmad, ketika manusia sedang dikasih pahala, Allah berkata pada pelaku ria’: pergilag kalian pada orang yang dulu di dunia melihatmu, maka lihatlah apakah kamu mendapatkan balasan darinya.[2]

Akan tetapi riya’  suatu sa’at bisa menjadi kufur akbar tergantung kondisi pelakunya. Riya’ bisa jadi kufur akbar apabila seseorang itu masuk agama atas dasar riya’ dan nifak, dia masuk islam bukan dilandasi dengan keimanan dan kecintaan, maka hukumnya berubah menjadi munafik, yang hukumnya adalah kufrun akbar.

  1. BAHAYA RIYA’

Diantara salah satu bahaya yang paling menunjol adalah riya’ bisa menghapus amalan seorang hamba apabila dia mencampurkan dengan amal yang ia kerjakan, demikianlah diantara beberapa dalil yang berkenaan dengannya.

Di dalam Al-qur`an terdapat celaan terhadap riya’, di antaranya firman Allah:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7)

Maka kecelakanlah bagi orang-orang yang sholat, yaitu orang lalai dalam sholatnya, orang-orang berbuat riya’, dan enggan menolong dengan barang berguna.“(QS.Al-maaun: 4-7)

Allah berfirman:

(…..كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ)

“…seperti orang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka. Perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka  tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk baga orang-orang kafir.”(QS. Al-Baqarah: 264)

Allah berfirman :

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.(Al-Kahfi: 110)

Atinya dalam ayat ini, ia tidak berbuat riya’ dengan amalannya. Dari Abi hurairah radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa rasulullah` bersabda,

“sesungguhnya orang pertama kali diadili pada hari kiamat seseorang yang syahid di jalan Allah. Orang itu didatangkan dan diperlihatkan kepadanya nikamat-nikmat (yang telah diberikan kepadanya) maka iapun mengetahuinya. Ditanyakan kepadanya, apa yang kamu perbuat dengannya? Ia menjawab,’aku berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid.’Allah berfirman,’kamu bohong, akan tetapi kamu berperang agar kamu dikatakan sebagai pemberani.’lalu ia diperintahkan untuk diseret dengan wajah tertelungkup dan dicampakkan kedalam neraka. Dan seorang lagi yang Allah berikan kemudahan kepadanya, dikaruniakan padanya harta yang melimpah, lalu orang itu didatangkan kepadanya dan dipertunjukkan nikmat (yang pernah diberikan kepadanya), ia pun mengenalinya. Ditanyakan kepadanya,’apa yang kamu lakukan dengan itu semua?’ia menjawab,’tidaklah aku biarkan suatu jalan yang kamu suka kalau padanya diinfakkan (suatu harta) kecuali aku berinfak,’Allah menyangkal, bohong, akan tetapi kamu berinfak agar kamu dijuluki sebagai dermawan dan hal itu sudah dikatakan untukmu’, lalu ia diperintahkan untuk diseret dengan posisi tengkurap dan dilemparkan keneraka. Kemudian seseorang lagi yang dulunya mempelajari ilmu dan mengamalkannya, ia juga mempelajari al-qur`an kemudian orang itu juga didatangkan dan diperkenalkan kepadanya segala nikmat yang pernah diberikan kepadanya dan iapun mengenalinya. Ditanyakan kepadanya apa yang kamu lakukan dengan ini semua?’ ia menjawab,’Aku mempelajari ilmu dan mengaharjannya serta membaca al-qur`an karena engkau.’Allah menyangkal lagi, bohong, akan tetapi kamu belajar agar dibilang sebagai orang pandai dan membaca al-qur`an agar dibilang seorang qoi’ dan itupun sudah dikatakan untukmu.’ Kemudian ia diperintahkan untuk diseret dengan posisi tengkurap lalu dilemparkan keneraka.”(HR. Muslim)

Bahkan syirik kecil yang tersembunyi ini lebih rasullah takutkan daripada kedatangannya dajjal, sebagaimana sabdanya:

وعن أبي سعيد مرفوعا : «  ألا أخبركم بما هو أخوف عليكم عندي من المسيح الدجال ؟ ” قالوا : بلى يا رسول الله قال : ” الشرك الخفي : يقوم الرجل فيصلي فيزين صلاته ، لما يرى من نظر رجل » رواه أحمد

Dari abi said rasulullah bersabda : maukah kuberitahukan padamu tentang sesuatu yang paling aku takutkan dari fitnah dajjal? Para shahabat menjawab,iya wahai rasulullah. Rasulullah bersabda:” syirik yang tersembunyi, seseorang bangkit untuk melaksanakan sholatnya karena ia tahu ada seseorang yang memperhatikannya. (HR, Ahmad)

Akan tetapi dalam pembahasan ini ada beberapa penjelasan atau perincian hususnya mengenai penghapusan amal tadi.

ý  Apabila seorang hamba beramal hanya ingin dilihat manusia, kemudian dia melaksanakannya maka amalannya terhapus, dan ini termasuk pada syirik kecik ditakutkan akan nerubah menjadi syirik besar.

ý  Apabila seorang hamba beramal ingin mengharap Allah dan supaya dilihat manusia, dan dia tidak ingin melepas perasaan riayak dalam hatinya maka amalannya akan batal.

ý  Yang terakhir, apabila seorang hamba beramal ingin mengharap Allah saja, kemudian dia mencampuri riya’ dalam pertengahan amalnya, maka keikhlasannya tidak akan rusak dia tetap mendapatkan pahala, akan tetapi dia dinamakan lemah iman, dikarenakan dalam hatinya masih timbul rasa riya’.

  1. KOMENTAR ULAMA’ MENGENAI RIYA’

Berikut adalah beberapa komentar ulama’ mengenai riya’[3]:

Al-Khithabi berkata, “barangsiapa melakukan suatu amalan tanpa ada keikhlasan bahkan ia hanya ingin dilihat dan didengar manusia ia akan dibalas dengan dijadikannya ia terkenal lalu diperlihatkan aibnya. Setelah itu nampaklah apa yang selama ini disembunyikan dan dirahasiakan,”

Hasan al-basri berkata, “seorang mura’i ingin sebenarnya mengalahkan takdir Allah terhadap dirinya, maka ia adalah orang jahat. Ia menghendaki agar orang lain mengtakan bahwa ia orang sholeh. Bagaimana mungkin mereka mengatakan seperti itu sedangkan orang tersebut telah menempati tempat terhina di sisi Tuhannya. Seharusnya hati kaum muslimin telah mengetahui hal ini.

Qotadah berkata, “jika seorang hamba melakukan riya’ Allah ta’ala berkata,”lihatkah hamba-Ku ini, bagaimana ia bisa menghinaku.

Muhammad bin Al-Mubarak Ash-Shuri berkata, “Nampakkanlah ketaatan di malam hari karena itu lebih mulia daripada dinampakkan di siang hari. Ketaatan di siang hari untuk makhluk; sedangkan ketaatan di malam hari untuk tuhan semesta alam.

Ali bin Abi Tholibz berkata, “terdapat tiga tanda bagi pelaku riya’: malas jika sendirian dan rajin jika bersama orang banyak, bertambah semangat jika dipuji, dan berkurang jika dicela.

Fudhail bin Iyadhv betkata, “meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah jika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.

  1. PENUTUP

Demikianlah beberapa penjelasan dari kami mengenai riya’, semoga bermanfaat bagi kita untuk menjaga amalan-amalan kita supaya tidak hilang begitu saja. karena sedikitnya wawasan yang ada pada kami, akan tetapi sebelum makalah ini kami tutup, kami ingin mengasih beberapa saran pada pembaca sekalian:

Hendaklah saudara sekalian waspada terhadap riya’, karena dia adalah bencana buruk yang menghilangkan bencana amal dan menjadikannya hancur lebur. Ketahuilah bahwa orang yang riya’ adalah orang yang pertana kali dibakar oleh api neraka, karena mereka telah menikmati hasil amalannya dalam kehidupan dunia.

Larilah kalian dari riya’ sebagaimana kalian lari dari singa, karena riya’ adalah syahwat yang tersembunyi, para ulama’ besar saja merasa tidak sanggup menghadapi kerusakan nya, lebih-lebih orang awam, karena riya’ itu menghinggapi para ulama’, ahli ibadah dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk meniti jalan akhirat.

Ya Allah Rabb langit dan bumi, bersihkanlah hati kami dari nifaq dan amalan kami dari riya’, dan tetap kuatkanlah kami diatas jalan-Mu yang lurus sampai datang kematian.


1. Ath-Tamhid syarah kitab tauhil.Sholeh bin Abdul Aziz bin Ibrahim bin Hasan.45

2. Ushulul Iman fi dau’l kitab wa sunnah, nugbatul ulama’. Hal 81

[3] . Al-Kaba’ir, Imam Adz-Dzahabi. Hal:197


Responses

  1. Alhamdulillah dengan banyak membaca situs ini semakin bertambah pula pengetahuan agamaku dan semoga menjadikan kita untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT………

    • Allahumma Amin..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: