Posted by: fadilarahim | March 10, 2010

ISTILAH MURJI’ATUL FOQOHA’

Secara garis besar kelompok murji’ah terbagi menjadi tiga bagian bagian[1], diantaranya adalah:

Pertama: Murjiah mahdhoh(asli) atau yang terkenal dengan berlebih-lebihan, mereka adalah termasuk golongan jahmiyyah pendirinya adalah Jahm bin Shofwan. Adapun Jahm bin Shofwan terkenal memiliki empat keyakinan(aqidah) yang bid’ah, diantaranya adalah:

1)      Aqidah yang menafikan sifat, kemudian diambil oleh jahmiyyah.

2)      Aqidah irja’, kemudian diambil oleh murji’ah.

3)      Aqidah jabar, kemudian diambil oleh jabariyah.

4)      Aqidah yang mengatakan bahwa surga dan neraka itu akan fana dan tidak kekal.[2]

Inilah empat keyakinan buruk shofwan bin jahm yang sudah terkenal, adapun murji’ah mahdhoh ini, aqidah mereka dalam keimanan hanya sebatas pengetahuan, maksudnya adalah hanya mengenal rabb di hati saja, mereka meyakini bahwa barangsiapa yang mengenal rabbnya dalam hatinya cukup dikatakan mukmin, dan ia tidak kafir kecuali hatinya tidak mengenal rabbnya. Oleh karena itu ulama’ membantah hal ini, seandainya demikian maka iblis juga mukmin, dikarenakan ia mengenal rabbnya, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Kalau begitu juga fir’aun mukmin karena ia mengetahui rabbnya dalam hatinya sebagaimana firman Allah:

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

Kedua: murjiah karamiyah

Mereka adalah Muhammad bin Karam dan para pengikutnya. Mereka berkeyakinan bahwa iman hanya sebatas pembenaran lisan semata. Maksudnya, barangsiapa yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka ia dianggap seorang mukmin yang sempurna imannya. Tidak peduli kepada keadaan hati dan amalan anggota badannya. Ia dianggap mukmin, sekalipun hatinya mengingkari adanya Allah, atau meyakini adanya dzat selain Allah yang berhak diibadahi. Bahkan, sekalipun ia menyembah berhala, matahari, atau pohon yang dikeramatkan, ia tetap dianggap seorang mukmin selama mengucapkan dua kalimat syahadat. Keyakinan kelompok ini sangat jelas kerusakannya dan kesesatannya. Akidah ini menyamakan orang munafik dan musyrik dengan seorang mukmin. Kesesatan kelompok ini lebih parah dari kesesatan kelompok murjiah fuqoha’.[3]

Ketiga: Murjiatul Fuqoha’. (Istilah ini yang sebenarnya ingin penulis bahas pada makalah yang singkat ini)

Pengertian

Murji’atul fuqaha’ adalah sebuah golongan yang meyakini bahwasanya iman menurut mereka adalah hanya sebatas pengucapan dengan lisan dan meyakini dengan hati, dan perbuatan dengan anggota badan tidak termasuk pada keimanan, keimanan menurut mereka tidak berkurang dan tidak bertambah.

kelomok ini kebanyakan pengikutnya adalah ahli kufah, seperti Abu Hanifah rahimahullah beserta pengikutnya. Dan pertama kali yang mengatakan bahwasanya amal (perbuatan ) itu tidak termasuk pada iman adalah Hamad bin abi sulaiman gurunya imam abu hanifah, dalam hal ini abu hanifah memiliki dua riwayat pada pengertian iman:

1-      Bahwasanya iman adalah menyakini dengan hati dan pengucapan dengan lisan, pendapat ini yang kebanyakan dianut oleh pengikutnya.

2-      Bahwasanya iman adalah menyakini dengan hati saja, adapun pengucapan dengan lisan merupakan rukun penyempurna diluar dari pengertian iman. Riwayat ini sependapat dengan perkataan maturidiyah yang mengatakan bahwa iman itu meyakini dengan hati saja.

Sebab dinamakannya murji’atul fuqaha’

Penurut ahli hadits dan ahli atsar sebenarnya mereka sama dengan Ahlis Sunnah wal Jama’ah dalam banyak masalah, akan tetapi mereka berbeda dalam hal yang pokok dalam masalah agama ini, diantaranya adalah dalam masalah iman, inilah penyebab disandarkannya panggilan murji’atul fuqaha’.[4]

Dipahami murji’ah dikarenakan perkataan mereka mengenai iman seperti perkataan murji’ah, mereka tidak memasukkan amal dalam keimanan, mereka mengatakan (adapun pada hakekatnya pengikutnya sama). Dan dinamakan murji’atul fuqaha’ dikarenakan mereka kalangan fuqaha’ dan dikenal demikian.

Perbedaannya dengan ahlus sunnah

  1. Ahlus sunnah meyakini bahwa perbuatan itu termasuk pada iman, ia merupakan amal yang wajib dan bagian dari iman. Sedangkan murji’atul fuqaha’ meyakini bahwa berbuatan( amal ) yang wajib itu bukan termasuk pada iman.
  2. Ahlus sunnah wal jama’ah menyetujui dengan al-Qur’an dan sunnah baik secara lafadz dan makna akan tetapi murji’atul fuqaha’ tidak demikian, ia hanya menyetujui secara makna saja tidak dengan lafadz. Padahal tidak diperbolehkan bagi setiap muslim menyelisihi nash-nash baik secara lafadz maupun makna.
  3. Perbedaannya juga dengan Ahlus Sunnah adalah dalam permasalahan amalan dhohir, seperti sholat, puasa, haji, mereka mengatakan bahwa ini semua tidak termasuk pada iman, akan tetapi ia hanya masuk pada syarat bagi iman, baik itu syarat sahnya atau syarat sempurnanya, ini merupakan perkataan yang bathil.

Ada yang mengatakan bahwa perbedaannya adalah secara lafdzi bukan secara maknawi, seperti perkataan penyarah kitab akidah thohawiyyah akan tetapi yang benar adalah tidak demikian.

Berikut ini penjelasan Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajihiy dalam kitab beliau As`ilah wa Ajwibah fi al-Imaan wa al-kufr pertanyaan ke-5:[5]

sebagian ulama’ berpendapat bahwa perbedaan antara Murji`ah Fuqaha dan Ahlus Sunnah adalah perbedaan secara lafazh, yang berpendapat dengan pendapat ini pensyarah kitab Al-‘Aqiidah Ath-Thahaawiyyah, Ibnu Abil ‘Izz –rahimahullaah-. Beliau berkata: “Sesungguhnya perbedaan antara Jumhur Ahlus Sunnah dengan Abu Hanifah dan murid-muridnya adalah perbedaan secara lafazh dan perselisihannya adalah perselisihan dalam perkara nama secara lafazh, yang tidak mengakibatkan kerusakan atasnya.” Selanjutnya beliau mengatakan: “Sesungguhnya dalil yang menunjukkan bahwasanya perbedaan di antara mereka itu secara lafazh saja adalah bahwa kedua kelompok tersebut sama-sama mengatakan: Amalan-amalan adalah kewajiban-kewajiban dan keduanya juga mengatakan: Sesungguhnya seorang muslim apabila mengerjakan kewajiban-kewajiban maka akan diberi pahala atasnya dan sebaliknya barangsiapa meninggalkan sesuatu dari kewajiban-kewajiban atau mengerjakan keharaman-keharaman maka sesungguhnya ia akan disiksa dan ditegakkan hukum had atasnya. Akan tetapi perselisihan di antara mereka adalah dalam permasalahan apakah kewajiban ini termasuk dari iman atau bukan? Jumhur Ahlus Sunnah berpendapat dengan pendapat yang pertama sedangkan Abu Hanifah dan murid-muridnya berpendapat dengan pendapat yang kedua.”

Akan tetapi, ketika diperhatikan dan diteliti dengan seksama maka seorang penuntut ilmu tidak akan mendapatkan bahwa perbedaan mereka adalah secara lafazh, dari semua sisi. Memang benar bahwasanya perbedaan tersebut tidak akan mengakibatkan kerusakan dalam keyakinan, akan tetapi perbedaan tersebut mempunyai dampak-dampak (yang tidak bisa dianggap sepele bahkan bisa mengantarkan kepada penyimpangan dan kesesatan yang lebih parah). Di antara dampak-dampaknya adalah:

1. Sesungguhnya Jumhur Ahlus Sunnah mencocoki Al-Kitab dan As-Sunnah dalam masalah lafazh dan makna lalu mereka beradab terhadap nash-nash (dalil-dalil) tersebut, sedangkan Murji`ah Fuqaha hanya mencocoki Al-Kitab dan As-Sunnah secara makna saja dan mereka menyelisihi keduanya secara lafazh.

Tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyelisihi nash-nash baik lafazh maupun maknanya. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” (Al-Anfaal:2-4)

Allah Ta’ala menjelaskan bahwa amalan-amalan ini seluruhnya (bagian) dari iman, maka gemetarnya hati ketika mengingat Allah adalah amalan hati, dan bertambahnya iman ketika membaca Al-Qur`an adalah amalan hati serta dalam firman-Nya: “dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,” adalah amalan hati. Iman juga mencakup amalan-amalan anggota badan dari mengerjakan sebab-sebab dan menafkahkan rizki yang Allah berikan kepada mereka. Semuanya ini, Allah namakan dengan iman.

Allah Ta’ala juga berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hujuraat:15)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisaa`:65)

Dan telah tetap dalam Ash-Shahiihain (Al-Bukhari no.9 dan Muslim no.35 dari Abu Hurairah) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

اَلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْمَانِ

“Iman itu terdiri dari 73 sampai 79 cabang atau 63 sampai 69 cabang, maka yang paling utamanya atau yang paling tingginya adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallaah’ dan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, sedangkan malu adalah satu cabang dari iman.” (Lafazh hadits ini milik Al-Imam Muslim)

Maka hadits ini adalah di antara dalil yang paling kuat dalam membantah golongan Murji`ah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan iman itu 73 sampai 79 cabang lalu mencontohkan untuk ucapan lisan dengan kalimat tauhid yang menunjukkan bahwasanya kalimat tauhid tersebut termasuk dari ucapan lisan. Kemudian beliau juga mencontohkan untuk amalan anggota badan dengan menyingkirkan gangguan dari jalan dan mencontohkan untuk amalan hati dengan rasa malu, karena sesungguhnya malu adalah akhlak bathin yang akan membawa manusia untuk mengerjakan perbuatan yang terpuji dan meninggalkan kejelekan.

Cabang iman yang paling tinggi adalah kalimat tauhid sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan dan di antara keduanya terdapat cabang-cabang yang berbeda-beda. Di antaranya ada yang lebih dekat kepada cabang syahadat dan di antaranya juga ada yang lebih dekat kepada cabang menyingkirkan gangguan dari jalan.

Maka shalat adalah cabang, demikian juga haji, zakat, puasa, berbakti kepada orang tua, menyambung shilaturrahmi, jihad fii sabiilillaah, amar ma’ruf nahi munkar, berbuat baik kepada tetangga dan yang lainnya adalah cabang dari cabang-cabang iman.

Semuanya ini oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dinamakan sebagai iman. Maka bagaimana dikatakan bahwasanya amalan-amalan itu keluar dari penamaan (definisi) iman???

Demikian pula di antara dalil yang paling kuat yang menunjukkan bahwa amalan-amalan masuk dalam penamaan iman adalah hadits tentang utusan ‘Abdul Qais dalam Ash-Shahiihain (Al-Bukhariy no.53 dan Muslim no.17 dari Ibnu ‘Abbas). Bahwasanya utusan ‘Abdul Qais mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mereka mengatakan: “Ya Rasulullah, sesungguhnya antara kami dengan Engkau terdapat satu kampung orang-orang kafir Mudhar dan kami tidak dapat menjumpai Engkau kecuali pada bulan haram, maka perintahkanlah kami dengan suatu perkara yang akan memutuskan (urusan kami), yang kami akan beramal dengannya dan akan kami beritahukan kepada orang-orang di kampung kami!” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku perintahkan kalian dengan empat perkara dan aku larang kalian dengan empat perkara (pula): Aku perintahkan kalian agar beriman kepada Allah semata! Tahukah kalian, apakah yang dimaksud dengan beriman kepada Allah semata? Yaitu bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan mengeluarkan seperlima dari harta ghanimah (rampasan perang) kalian.”

Lihatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan iman dengan amalan-amalan anggota badan dan ini adalah dalil yang jelas dan gamblang yang menunjukkan bahwa amalan-amalan itu masuk dalam penamaan iman. Maka Jumhur Ahlus Sunnah beradab terhadap nash-nash dan memasukkan amalan-amalan dalam definisi iman. Sedangkan Murji`ah Fuqaha mencocoki nash-nash dalam makna saja akan tetapi menyelisihinya dalam lafazh. Dan tidak boleh bagi seorang pun menyelisihi nash-nash baik lafazhnya maupun maknanya bahkan wajib mencocoki nash-nash secara lafazh dan makna.

2. Bahwasanya perbedaan Murji`ah Fuqaha dengan Jumhur Ahlus Sunnah telah membuka satu pintu bagi Murji`ah murni dan ekstrim. Ketika Murji`ah Fuqaha mengatakan: “Sesungguhnya amalan-amalan bukan (bagian) dari iman walaupun termasuk kewajiban.”, maka hal ini telah membuka satu pintu (kesesatan) bagi Murji`ah murni sehingga mereka mengatakan: “Amalan-amalan bukan kewajiban dan tidaklah dituntut.” Dan karena inilah Murji`ah murni mengatakan: “Shalat, puasa, zakat, dan haji, ini semuanya bukan kewajiban dan barangsiapa telah mengenal Rabbnya dengan hatinya maka dia seorang mukmin yang sempurna imannya dan akan masuk surga dari awal perkaranya, sedangkan amalan-amalan bukan sesuatu yang dituntut.”

Dengan demikian, berarti yang membuka pintu kesesatan bagi Murji`ah murni tersebut adalah Murji`ah Fuqaha.

3. Bahwasanya Murji`ah Fuqaha dengan perbedaannya dengan Jumhur Ahlus Sunnah telah membuka pula satu pintu (kesesatan) bagi orang-orang fasik dan ahli maksiat sehingga mereka pun masuk bersamanya. Ketika Murji`ah Fuqaha mengatakan: “Sesungguhnya iman itu adalah sesuatu yang satu, tidak bertambah dan tidak berkurang yaitu semata-mata pembenaran (dalam hati), imannya penduduk bumi dan penduduk langit itu satu.” Maka masuklah orang-orang fasik (mengikuti pemahaman tersebut), lalu datanglah seorang yang fasik, yang pemabuk lagi jelek akhlaknya dan mengatakan: “Saya seorang mukmin yang sempurna imannya, imanku seperti imannya Jibril dan Mika`il serta seperti imannya Abu Bakr dan ‘Umar.”

Maka apabila dikatakan kepadanya: “Bagaimana kamu mengatakan bahwa imanmu seperti imannya Abu Bakr dan ‘Umar sementara Abu Bakr mempunyai amalan-amalan yang agung?” Ia menjawab: “Amalan-amalan tidak termasuk dalam definisi iman, saya adalah orang yang membenarkan, Abu Bakr orang yang membenarkan, Jibril juga membenarkan, saya juga orang yang membenarkan, maka imanku seperti imannya mereka.” Dan ini adalah dari sebathil-bathilnya perkara yang bathil.

Karena inilah (permasalahan amalan), telah disebutkan di dalam hadits: “Seandainya imannya Abu Bakr ditimbang dengan imannya penduduk bumi niscaya (imannya Abu Bakr) akan mengalahkan (imannya penduduk langit).” Dan yang dimaksud adalah selain para rasul (dan para nabi) ‘alaihimush shalaatu wassalaam, maka bagaimana dikatakan bahwa iman itu satu dan imannya penduduk langit dan penduduk bumi itu satu???

4. Murji`ah Fuqaha menolak adanya istitsnaa` (pengecualian dengan mengatakan: Insya Allah) dalam iman, karena (menurut mereka) bahwasanya iman itu satu yaitu pembenaran, maka mereka mengatakan: “Kamu tahu bahwasanya kamu adalah orang yang membenarkan dengan hati maka bagaimana kamu mengatakan: “Saya mukmin Insya Allah”, kalau begitu kamu ragu dalam imanmu.”

Dan karena hal inilah, mereka menjuluki/menamai orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang mengecualikan dalam keimanan mereka dengan adanya keragu-raguan. “Kamu tahu pada dirimu bahwasanya kamu adalah orang yang membenarkan sebagaimana kamu tahu bahwa kamu telah membaca Al-Faatihah dan sebagaimana kamu tahu bahwa kamu mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta membenci Yahudi, maka bagaimana kamu mengatakan: “Insya Allah”, bahkan katakanlah: “Saya mukmin!”, pastikan dan jangan kamu ragu dalam imanmu!”

Itulah ucapan mereka. Adapun Jumhur Ahlus Sunnah maka mereka memperincinya lalu mengatakan: “Jika seseorang mengatakan: “Saya mukmin Insya Allah”, dia maksudkan keraguan dalam pokok imannya maka ini dilarang, karena pokok iman adalah pembenaran. Adapun jika dilihat kepada amalan-amalan dan kewajiban-kewajiban yang telah Allah wajibkan dan keharaman-keharaman yang telah Allah haramkan serta melihat bahwa cabang-cabang iman itu bermacam-macam dan kewajiban-kewajiban sangat banyak maka seorang manusia tidak akan mensucikan dirinya dan tidak akan mengatakan bahwa dia telah menunaikan apa-apa yang diwajibkan kepadanya, bahkan dia harus menuduh dirinya dengan pengurangan yaitu dia merasa masih banyak kekurangan dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban dan dia juga harus menganggap banyak aib pada dirinya.

Maka apabila dia berkata: “Saya mukmin Insya Allah”, maka istitsnaa` di sini kembalinya kepada amalan-amalan, maka hal ini tidak mengapa bahkan baik untuk mengatakan: “Insya Allah.” Demikian juga apabila dia memaksudkan: tidak adanya pengetahuan dia tentang akibat (di akhir hidupnya) karena sesungguhnya akibat itu tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah maka tidak mengapa mengucapkan istitsnaa`, demikian pula bila dia memaksudkan untuk bertabarruk dengan menyebut nama Allah maka tidak mengapa.

Dalam masalah istitsnaa`, memang para ‘ulama berbeda pendapat menjadi tiga golongan. Ada yang mewajibkan, ada yang melarangnya, ada juga yang membolehkan kedua-duanya sesuai dengan maksudnya. Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah merajihkan pendapat yang ketiga ini. Yaitu seseorang boleh mengatakan: “Saya mukmin Insya Allah.” Kalimat Insya Allah kembalinya kepada amalan-amalan. Boleh juga mengatakan: “Saya mukmin, dengan pengertian saya beriman kepada Allah, malaikat-Nya, dan apa-apa yang Allah wajibkan untuk beriman kepadanya dan saya berusaha untuk menyempurnakan iman saya dengan amalan-amalan dan keimanan seseorang itu berbeda-beda.” Tapi kita tidak boleh mengatakan bahwa iman kita sempurna karena iman itu terdiri dari keyakinan, ucapan dan amalan sementara kita tidak boleh mensucikan diri kita sendiri dengan mengatakan bahwa kita telah melaksanakan tiga rukun iman tersebut dengan sempurna. (Permasalahan istitsnaa` bisa dilihat dalam Kitaabul iimaan hal.368-394 cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah -pent.)

Inilah, di antara dampak-dampak dari perbedaan Ahlus Sunnah dengan Murji`ah Fuqaha walaupun tidak mengakibatkan kerusakan dalam ‘aqidah akan tetapi dampak-dampak (yang berbahaya ini) menunjukkan bahwa perbedaan mereka bukan secara lafazh (tetapi benar-benar perbedaan mereka secara hakiki). Artinya Murji`ah Fuqaha benar-benar berbeda dengan Ahlus Sunnah dalam masalah pendefinisian iman.

Pandangan ulama’ atas kelompok ini

Kelompok yang memiliki keyakinan diatas mendapat bantahan dan kecaman yang sagat keras dari ulama’ ahlus sunnah, terutama ulama’ yang semasa dengan mereka. Dua ulama’ seneor generasi tabi’in, imam Ibrahim An-Nakhar’I dan said bin jubair membantah aqidah mereka dengan keras dan tidak mau menjawab salam Dzar bin Abdullah Al-Hamdani.

Imam Ibrahim An-Nakha’i berkata: “Murjiah itu lebih aku takutkan dari fitnah Azariqah (satu sekte sempalan khawarij).”

Imam Muslim bin Syihab Az-Zuhri berkata: Tidak ada bidah yang lebih berbahaya dari dalam Islam ketimbang bid’ah irja’.

Imam Al-Auza’I berkata: “Yahya bin Abi Katsir dan Qatadah mengatakan bahwa tiada yang lebih dikhawatirkan (akan menyesatkan) ummat ke dalam hawa nafsu (pemahaman sesat) melebihi kekhawatiran kepada Murjiah.

Imam syuraik berkata: “Mereka adalah sejelek-jelek kaum. Kaum Rafidhah adalah kaum yang sangat jelek, akan tetapi Murjiah lebih jelek lagi, karena mereka mendustakan Allah.


[1] Abu laila, Abu Fatiah al Adnani, Mizanul Muslim, (Solo: Pustaka Cordova, 2009), cet. Ke-1, Hal. 180

[2] Abdul ‘Aziz Bin ‘Abdullah Ar’rajihi, As ilah wa ujubah fi al-Iman wal kufur,  hal.13.

[3] Abu laila, Abu Fatiah al Adnani, op. cit., Hal. 181

[4] Sholeh Bin Abdul ‘Aziz, Syarah Aqidah Thohawiyyah, Hal. 8

[5] Abdul ‘Aziz Bin ‘Abdullah Ar’rajihi, op. cit., Hal. 13


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: