Posted by: fadilarahim | March 10, 2010

Hadits Qudsi

Pengertian

Secara bahasa: Qudsi dinisbatkan pada qudsi (kesucian) penisbatan ini menunjukkan rasa ta’zhim(hormat) akan kebesaran dan kesuciannya. Seperti yang disebutkan dalam kitab Al-Misbah , hadits ini disebut qudsi karena sumbernya hanya Allah.

Secara istilah: sesuatu yang oleh rasulullah, disandarkan pada Allah SWT. Maksudnya nabi meriwayatkannya dalam posisi bahwa yang disampaikannya adalah kalam Allah. Jadi, nabi itu adalah orang yang meriwayatkan kalam Allah, tetapi redaksi lafadznya dari nabi sendiri. Jika seseorang meriwatkan satu hadits kudsi, dia berarti meriwayatkannya dari rasulullah yang dinisbatkan pada Allah. Apabila ada orang yang meriwatkan hadits ini dari rasulullah, berarti dia menyandarkan kepada Allah. Maka, hebdaknya orang itu berkata, “Rasulullah bersabda sebagaimana yang diriwayatkan dari tuhannya azza wa jalla.

Bentuk Periwayatannya

Ada dua bentuk dalam periwayatan hadits qudsi.

  1. Rasulullah bersabda yang diriwayatkan dari Rabbnya Azza Wajalla……….
  2. Rasulullah bersabda: Allah berfirman……….

Perbedaan antara hadits qudsi dan Al-Qur`an

ý  Al-Qur`an merupakan mu’jizat, sedangkan hadits qudsi bukan merupakan mu’jizat.

ý  Sholat hanya sah dengan bacaan Al-Qur`an dan tidak sah dengan bacaan hadits qudsi.

ý  Orang yang mengingkari Al-Qur`an disebut orang kafir(jahid) tapi hukum itu tidak berlaku bagi orang yang menolak hadits qudsi.

ý  Al-Qur`an diturunkan melalui perantara jibril, berbeda dengan hadits qudsi.

ý  Redaksi Al-Qur`an harus dari Allah, sedangkan hadits qudsi bisa disusun dengan redaksi rasulullah.

ý  Al-Qur`an hanya boleh disentuh oleh orang yang suci dari hadats, sedangkan hadits qudsi tidak mensyaratkan suci dari hadats.

ý  Al-Qur`an dari Allah secara lafadz dan makna, sedangkan hadits qudsi maknanya dari Allah dan yang melafadzkan adalah rasulullah.

ý  Semua periwayatan Al-Qur`an adalah mutawatir dan disebut qot’ius tsubut, sedangkan hadits qudsi kebanyakan kabarnya ahad dan disebut dhonnius tsubut.

Perbedaan hadits qudsi dan hadits nabawi

Hadits nabawi terbagi menjadi dua:

  1. Tauqifi: yaitu sesuatu yang disampaikan rasul yang berupa wahyu kemudian dijelaskan pada seseorang melalui perkataannya,
  2. Taufiqi: sesuatu yang disimpulkan dari Al-qur`an melalui pemahamannya, karena beliau sebagai penerang bagi Al-qur`an. Atau beliau menyimpulkan dengan mengamatan dan ijtihad.

Jumlah hadits qudsi

Jumlah hadits qudsi tidak banyak dibandingkan hadits nabawi, jumlahnya hanya lebih dari seratus hadits.

Beberapa syubhat mengenai hal ini

Dalam hal ini, ada beberapa syubhat yang harus dijawab, diantaranya sebagai berikut,

Pertama: Hadits nabawi ini secara maknawi juga wahyu, lafadz pun dari Rasulullah, tetapi mengapa juga tidak kita namakan hadits qudsi?

Jawabannya adalah: kita memastikan bahwa hadits qudsi itu maknanya diturunkan dari Allah, karena adanya nash syar’i yang menisbatkannya kepada Allah, yaitu kata-kata Rasulullah; Allah ta’ala telah berfirman atau kata-kata Allah ta’ala berfirman. Itu sebabnya hadits itu hadits qudsi, berbeda dengan hadits nabawi, karena hadits nabawi itu tidak memut nash seperti ini.

Namum disini ada beberapa klasifikasi dilihat dari keagungannya, diantaranya:

  1. Yang paling mulia adalah al-qur`an karena ia memiliki spesefikasi khusus, yaitu sebagai mukzijat yang abadi hingga akhir zaman, terjaga dari perubahan dan revesi, haram disentuh oleh orang yang berhadats.
  2. Kitab-kitab suci yang diturunkan kepada pada Nabi sebelumnya, sebelum terjadi destorsi makna dan redaksinya.
  3. Hadits qudsi, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Rasulullah dari tuhannya secara ahad(oleh satu perawi).

Kedua: Apabila lafadz hadits qudsi itu dari rasulullah, maka  dengan alasan apakah hadits itu dinisbatkan kepada Allah dengan kata-kata nabi seperti,”Allah Ta’ala telah berfirman” atau ” Allah ta’ala berfirman?”

Jawabnya adalah: Hal seperti ini biasa terjadi dalam bahasa arab, yang mana suatu ucapan disandarkan berdasarkan kandungannya, bukan lafadznya. Misalnya: ketika menggubah satu ba’it syair, kita mengatakan “sipenya’ir berkata demikian.” Juga ketika kita menceritakan apa yang kita dengar dari seseoang, kita pun mengatakan “si fulan berkata demikian.” Begitu juga Al-Qur`an menceritakan tentang Musa, fir`aun dan lainnya denagan lafadz yang bukan lafadz yang mereka ucapkan dan dengan gaya bahasa yang bukan pula gaya bahasa mereka, tetapi tetap juga disandarkan pada mereka. Allahu a’lam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: