Posted by: fadilarahim | April 16, 2010

APAKAH AL-QODIM SALAH SATU NAMA DARI NAMA-NAMA ALLAH?

Sementara ini, yang penulis dapatkan berkaitan dengan permasalahan ini sebagai berikut:

Diantara salah satu amalan yang diwajibkan dalan perguruan pagar nusa adalah berdzikir dengan lafadz “ Ya Allah ya Qodim”, amalan ini dilaksanakan setelah sholat fardhu dan pada saat istighosah.

Kemudian yang penulis dapatkan juga, terdapat dalam matan Aqidah As-safaraniyah yang berbunyi sebagai berikut:

الحمد لله القديم الباقي

Segala puji bagi Allah Yang pertama dan Yang terahir,

Mungkin yang dimaksud penulis dalam tulisannya adalah “Yang pertama” atau yang tidak ada mendahuluinya. Hal ini berdasarkan Firman Allah yang berbunyi:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin ; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 3)

Syaikh ‘Utsaimin menanggapi penamaan al-Qodim ini, bahwa penamaan ini tidak ada dalam al-Qur’an dan sunnah, apabila tidak ada dalam al-Qur’an dam sunnah maka kita tidak boleh menamakan atas Allah dengan penamaan tersebut. Apabila kita menamakan sesuatu pada Allah dengan penamaan yang belum Ia namakan, maka kita telah bertindak sesuatu yang tidak didasari dengan ilmu atau mengatakan sesuatu tanpa ilmu, dengan firman Allah:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 33)

Allah berfirman juga:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isra’: 36)

Jika kita menamai Allah dengan penamaan yang tidak dinamai oleh diri-Nya. Maka ini sebuah tindak kejahatan dan permusuhan. Coba kita bayangkan, jika ada seseorang menamai diri kita dengan nama yang bukan nama kita, tentu kita menganggap itu sebuah tindak kejahatan, begitu juga jika menamai Allah dengan nama yang tidak dinamai oleh Allah sendiri, tentu ini sebuah tindak kejahatan dan permusuhan pada hak-hak Allah SWT, tentu ini tidak layak bagi kita.

Jadi kesimpulannya adalah kita tidak diperbolehkan menamai Allah dengan nama al-Qodim, dikarenakan dua sebab. Diantaranya adalah:

Pertama: Tidak ada dalam al-Qur’an dan al-Hadits.

Kedua:  Dikarenakan al-Qodim, bukan dari nama Allah yang Husna, Allah SWT berfirman:

وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna”. (QS. Al-a’raf: 180)

Sedangkan al-Qodim itu bukan dari nama yang baik, dikarenakan menunjukkan sesuatu yang sempurna, dikarenakan al-Qodim menunjukkan lebih dahulu dari yang lainnya, baik itu yang baru maupun yang terdahulu, sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ

“Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua .(QS. Yasin: 39)

Dalam ayat ini “kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua” merupakan perkara yang baru, karena artinya adalah mengembalikan tabi’at yang sebelumnya telah dijanjikan, tidak diragukan lagi bahwa itu merupakan perkara yang baru, dan setiap perkara yang baru itu sebuah kekurangan, sedangkan nama-nama Allah itu semua Husna tidak ada kekurangan ditinjau dari berbagai segi.

Namun meskipun tadi kami dapati nama al-Qodim itu dari kitab aqidah as-safaraniah, kami tetap meyakini bahwa kitab tersebut masih dalam katagori ahlus sunnah wal jama’ah namun masih ada beberapa yang perlu di perbaiki. Wallahu a’lam bis showab.

About these ads

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: