Posted by: fadilarahim | April 13, 2010

HAKEKAT IMAN (3)

Kedua: Iman Itu Bertambah Dan Berkurang (يزيد وينقص)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa ucapan dan perbuatan itu masuk dalam katagori Iman. Adapun iman itu bertambah dan berkurang ia akan bertambah apabila dipergunakan ta’at pada Allah dan ia akan berkurang apabila ia menta’ati syetan. Yang dijadikan dasar oleh Ahlus sunnah dalam keyakinan ini adalah:

Dari Al-Qur’an:

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَزَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira”. (QS. At-Taubah: 124)

Firman Allah juga:

لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَاناً

“supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya”. (QS. Al-Mudzatsir: 31)

Firman Allah juga:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَاناً مَّعَ إِيمَانِهِمْ

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)

Firman Allah juga:

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَاناً وَتَسْلِيماً

“Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)

Dari as-Sunnah:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Iman itu ada tujuh puluh tiga sampai tujuh puluh sembilan, atau enam puluh tiga sampai enam puluh sembilan cabang. Yang paling utama adalah perkataan, LAA ILAAHA ILLALLAHU (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah sebagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sabda Rasul juga

يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَخْرِجُوا مِنْ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ

“Ahlu surga telah masuk ke surga dan Ahlu neraka telah masuk neraka. Lalu Allah Ta’ala berfirman: “Keluarkan dari neraka siapa yang didalam hatinya ada iman sebesar biji sawi”.[1]

Sabda Rasul Juga:

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ قُلْنَ وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا

“Dan aku tidak pernah melihat dari tulang laki-laki yang akalnya lebih cepat hilang dan lemah agamanya selain kalian.” Kami bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa tanda dari kurangnya akal dan lemahnya agama?” Beliau menjawab: “Bukankah persaksian seorang wanita setengah dari persaksian laki-laki?” Kami jawab, “Benar.” Beliau berkata lagi: “Itulah kekurangan akalnya. Dan bukankah seorang wanita bila dia sedang haid dia tidak shalat dan puasa?” Kami jawab, “Benar.” Beliau berkata: “Itulah kekurangan agamanya.” (HR. Bukhari)

Perkataan Salaf

Abu Hurairah berkata: “Iman itu bertambah dan berkurang”

Berkata Imam Abdur Razzak as-Shon’ani: “Adapun Ma’mar dan Ibnu Juraij dan as-Tsauri dan Malik dan Ibnu ‘Uyainah mereka berkata: (Iman itu Ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang).”

Mujahid bin Jabar Rahimahumullah berkata: Iman adalah ucapan dan perbuatan, ia bertambah dan berkurang[2].”

Imam Malik berkata: “Iman adalah ucapan dan berbuatan[3].”

Ibnu Taimiyyah berkata dalam kitab al-Iman: Telah ditetapkan lafadz bertambah dan berkurang pada masa sahabat, dan tidak ada perbedaan diantara mereka.

Dalam Majmu’ fatawa ia berkata: Ulama’ salaf telah sepakat bahwa iman itu berdasarkan ucapan dan perbuatan ia bertambah dan berkurang.[4]

Imam Al-Bagawi dalam kitab Syarhus Sunnah berkata: Para sahabat dan Tabi’in serta ulama’ lainnya dari kalangan ahlus sunnah, bahwasanya perbuatan (amal) itu bagian dari iman…. Sampai berkataannya, sesungguhnya iman itu adalah ucapan dan perbuatan dan aqidah, ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat sebagaimana yang dikabarkan al-Qur’an dan hadits atas bertambahnya.[5]

Faktor bertambahnya iman

1)      Merealisasikan Tauhidullah (Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ dan Sifat), semakin seseorang itu bertambah pengetahuannya kepada Allah, maka akan bertambah pula keimanannya.

2)      Memperhatikan ayat-ayat Allah, baik secara kauhiyyah maupun syar’iyah

Allah berfirman:

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,(18)  Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?(19)  Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?(20)  Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?”. (QS. Al-Ghosyiah: 17-20)

Allah juga berfirman:

قُلِ انظُرُواْ مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لاَّ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa’at tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Yunus: 101)

3)      Mentadaburi al-Qur’an, mempelajari, membacanya, menghafalnya, dan mengamalkannya, dan berhukum dengannya.

4)      Mengikutin Nabi SAW, dengan mengetahui sunnahnya, sejarahnya dan akhlaknya.

5)      Meninggalkan maksiat dan perbuatan bid’ah hanya untuk mendekatkab diri kepada Allah, dan menjauhi apa-apa yang mengantarkan kesana.

Ibnu Taimiyyah berkata: “ Apabila manusia itu terjerat pada sebuah kebid’ahan dan maksiat, maka berkuranglah imannya….. oleh karena itu para sahabat radiallahu anhum mereka adalah orang yang paling jauh dari dosa dan bid’ah dikarenakan mereka memiliki ilmu dan iman kepada Allah serta apa yang di dapat dari Rasulullah SAW, dan tidak seorangpun yang melaksanakan sebuah kebid’ahan kecuali ia akan kurang dalam mengikuti sunnah secara ilmu dan perbuatan.

6)      Melaksanakan keta’atan, baik yang wajib maupun sunnah sebanyak mungkin.

7)      Menerima pada kehidupan di akhirat dan berusaha atasnya, dan berbuat zuhud di dunia.

8)      Berdo’a serta memohon sungguh-sungguh untuk mendapatkan hidayah dan keteguhan.

9)      Membaca sejarah para sahabat dan salaf serta meneladaninya.[6]

Faktor berkurangnya iman (kebalikan dari yang di atas)

1)      Enggan untuk mengenal Allah baik dari tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ dan Sifat-Nya.

2)      Enggan untuk memperhatikan ayat-ayat Allah, baik secara kauniyyah dan syar’iah.

3)      Sedikitnya amalan sholeh yang dikerjakan.

4)      Melaksanakan kemaksiatan.

Perlu kita ketahui bahwa kurangnya keimanan itu terbagi menjadi dua bagian, diantaranya adalah:

Pertama: kekurangan yang tidak perpengaruh bagi pelakunya, seperti kurangnya agama perempuan dengan meninggalkan shalat pada masa-masa haid, dikarenakan ini bukan di atas kehendaknya. Jika ada yang berkata, biarkanlah saya shalat agar iman saya tidak kurang, maka ini sebuah keharaman, justru kalau ia shalat kekuarangan bagi imannya akan bertambah banyak. Ini adalah kekurang yang tidak dicela dan tidak mengapa.

Kedua: kekurangan yang sifatnya pilihan bagi pelakunya, ini juga terbagi menjadi dua bagian:

Apabila disebabkan maksiat atau meninggalkan sebuah kewajiban maka ini berdosa dan tercela.

Apabila kekurangannya dikarenakan meninggalkan yang sunnah (yang bukan wajib) maka ini bukan suatu yang dicela dan juga tidak berdosa.

Kelompok yang menyelisihi Ahlus Sunnah dalam permasalahan ini

Kelompok yang pertama: Murji’ah

Kelompok ini berkeyakinan bahwa iman itu tidak bertambah dan berkurang; dikarenakan perbuatan (amal) menurut mereka bukan bagian dari iman, sampai bertambah dan berkurang, maka iman menurut mereka adalah hanya sebatas pengakuan saja, dan pengakuan itu tidak bertambah dan berkurang.

Pendapat ini selaras dengan perkataan Abu Hanifah dalam kitabnya Fikhul Akbar, yang berbunyi: “Iman itu tidak bertambah dan berkurang[7]”.

Bantahan atas kelompok ini

  1. Tidak memasukkan perbuatan (amal) pada keimanan ini bukan suatu yang benar, dikarenakan iman itu masuk dalam katagori keimanan, kami telah menyebutkan dalil-dalilnya pada pembahasan “iman itu berdasarkan ucapan dan perbuatan”.
  2. Jika mereka mengatakan bahwa pengakuan dalam hati itu tidak bertambah dan berkurang: ini juga tidak benar, justru pengakuan dengan hati itu juga bertingkat-tingkat. Tidak mungkin seseorang mengatakan, imanku seperti imannya Abu Bakar!! Tentu ia akan bilang, sungguh keimananku seperti imannya Rasulullah SAW.

Maka kami katakan: Bahwa pengakuan dalam hati itu bertingkat-tingkat; maka pengakuan dalam hati dari satu sumber itu tidak sama dengan yang dari dua sumber, dan pengakuan dari apa yang ia dengar tidak sama dengan pengakuannya dari yang ia lihat. Tidaklah kalian dengar perkataan Ibrahim, sebagaimana dalam firman Allah:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِـي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن قَالَ بَلَى وَلَـكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” (QS. Al-Baqarah: 260)

Maka ini adalah sebuah dalil bahwasanya keadaan iman dalam hati itu bertambah dan berkurang.

Oleh karena itu umala’ membagikan derajat yakin itu terbagi menjadi tiga bagian, diantaranya adalah: ILMU YAKIN, ‘AINUL YAKIN, HAQQUL YAKIN. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7)

“Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin[8]. (QS. At-Takatsur: 5-7)

Kemudian firman Allah juga:

وَإِنَّهُ لَحَقُّ الْيَقِينِ

“Dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini.” (QS. Al-Haqqah: 51)

Kelompok yang kedua: Khawarij dan Mu’tazilah

Kelompok khawarij berkeyakinan bahwa apabila seseorang keluar dari iman, misalnya denan melaksanakan dosa besar atau melakukan maksiat, maka ia kafir dan pada hari kiamat ia kekal dalam Neraka. Sedangkan kelompok mu’tazilah berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar itu keluar dari iman namun ia tidak kafir (Al Manzilah Baina al Manzilatain), akan tetapi pada hari kiamat ia kekal di Neraka.

Sebenarnya permasalahan ini sudah menjadi kesepakatan ulama’ salaf, diantara yang sepakat dari hal ini adalah:

perkatan Abu ‘Ubaid al-Qosim bin salam, dalam kitabnya al-iman.

Beliau mengatakan “Adapun yang menamakan bahwa iman itu atas dasar ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, adalah sebagai berikut.

Dari ahli Makkah: Ubaid bin Umair al-Laitsi, Atho’ Ibnu Abi Robah, Mujahid bin jabr, Ibnu Abi Mulaikah, Amru bin Dinar, Ibnu Abi Najih, Ubaidullah bin Umar, Abdullah bin Amr bin Utsman, Abdul Malik bin Jarih, Nafi’ bin Jubair, Daud bin Abdur Rahman al-‘Aththor, Abdullah bin Raja’.

Dari ahli Madinah: Muhammad bin syihab az-zuhri, Robi’ah Ibnu Abdir rahman, Abu Hazim al-a’raj, Sa’at bin Ibrahim bin Abdur Rahman bin Auf, Yahya bin Said al-Anshori, Hisyam bin Urwah bin Zubair, Abdullah bin Umar al-Umri, Malik bin Anas, Muhammad Ibnu Abi Dzi’bin, Sulaiman bin Bilal, Abdul Aziz bin Abdullah, Abdul Aziz bin Abi Hazim.

Dari ahli Yaman: Thawus al-Yamani, Wahb ibnu Munabbih, Ma’mar bin Rosyid, Abdur Razak bin Hammam.

Dari ahli Mesir dan Syam: Makhul al-Auza’i, Said bin Abdil Aziz, Walid bin Muslim, Yunus bin Yazid al-Aili, Yazid bin Abi Habib, Yazid bin Syareh, Said bin Abi Ayyub, Laits bin Said, Abdullah bin Abi Jakfar, Mu’awiyah bin Abi Sholih, Hiwat bin Syareh, Abdullah bin Wahab.

Yang tinggal di kota dan Negara lain: Maimun bin Mihran, Yahya bin Abdulkarim, Ma’kil bin Ubaidillah, Ubaidillah bin Amr ar-roqi, Abdul Malik bin Malik, Mu’afi bin Imran, Muhammad bin Salamah al-Harrani, Abu Ishaq al-Fazari, Mukhlid bin Husain, Ali bin Bakkar, Yusuf bin Asbat, ‘Atha’ bin Muslim, Muhammad bin Katsir, Haisyam bin Jamil.

Dari Ahli Kuffah: ‘Alqamah, Aswad bin Yazid, Abu Wail, Said bin Jubair, Rabi’ bin Husyaim, Amir as-sya’bi, Ibrahim an-Nakha’I, Hakam bin Utaibah, Tholhah bin Musarrif, Manshur bin Mu’tamir, salamah bin kuhail, Mugirah ad-dhobi, ‘Atho’ bin Saib, Isma’il bin Abi Kholid, Abu Hayyan, Yahya bin Said, Sulaiman bin Mihran, al-A’masy, Yazid bin Abi Ziyad, Syufyan bin Said as-tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Fudhail bin Iyad, Abul Miqdam, Tsabit bin ‘Ajlan, Ibnu Syabramah, Ibnu Abi Laila, Zuhair, Syarik bin Abdillah, Hasan bin Sholeh, Hafs bin Giyats, Abu Bakar bin ‘Ayyas, Abul Ahwas, Waki’ ibnu Jarrah, Abdullah bin Numair, Abu Usamah, Abdullah bin Idris, Zaid bin Khobab, Husain bin Ali al-Ja’fi, Muhammad bin Bisyr al-‘abdi, Yahya bin Adam, Muhammad, Ya’la, Amru banu Ubaid.

Dari ahli Bashrah: Hasan bin Abi Hasan, Muhammad bin Sirrin, Qotadah bin Di’amah, Bakar bin Abdillah al-Muzani, Ayyub as-syahtiyani, Yunus bin Ubaid, Abdullah bin Aun, Sulaiman at-Taimi, Hisyam bin Hassan ad-Dustuwa’i, Syu’bah bin Hajjaj, Hammad bin Salamah, Hammad bin Zaid, Abul Asyhab, Yazin bin Ibrahim, Abu ‘Awanah, Wahib bin Khalid, Abdul Waris bin Said, Mu’tamir bin Sulaiman at-Taimy, Yahya bin Said al-Qathon, Abdur Rahman bin Mahdi, Bisyr bin Mufaddhol, Yazid bin Zurai’, Mu’awwil bin Isma’il, Kholid bin Haris, Mu’ad bin Mu’ad, Abu Abdur Rahman al-Muqri.

Dari ahli Wasit: Hasyim bin Basyir, Khalid bin Abdullah, Ali bin Ashim, Yazid bin Harun, Sholeh bin Umar bin Ali bin Ashim.

Dari ahli Masyrik: Dhohhak bin Muzahim, Abu Hamzah, Nasr bin Imran, Abdullah bin Mubarak, Nadr bin Syamil, Jarir bin Abdul Hamid.

Abu Ubaid berkata bahwa mereka semua yang mengatakan bahwa “iman itu ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang”, dan inilah yang dipilih oleh ahlus sunnah wal jama’ah yang berlaku bagi kami.[9]

penutup

Demikianlah tadi sekilas pembahasan tentang makna Iman, sebenarnya masih banyak kekurangan akan tetapi karena keterbatasan maraji’ dan pengetahuan kami, akhirnya sampai disini saja.

Kesimpulan dari makalah ini adalah Ulama’ telah sepakat, baik yang salaf maupun yang khalaf bahwa iman itu berdasarkan ucapan maupun perbuatan, yang dimaksud ucapan adalah ucapan hati dan lisan, dan yang dimaksud dengan perbuatan adalah perbuatan hati dan anggota badan. Ia bertambah dengan ketaatan dan banyak ibadah, dan ia berkurang dengan maksiat dan kelalaian. Inilah yang membedakan perkataan ahlus sunnah wal jama’ah denga kelompok ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu serta kelompok sesat lainnya.

Kami bermohon, semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala memberi pahala terhadap setitik yang benar dari tulisan ini dan mengampuni terhadap segala kesalahan dan kekeliruan.

Akhir kalam kami memanjatkan puji dan syukur kehadirat Illaahi Robbi, bahwasannya kami dapat menyelesaikan tulisan ini walaupun masih sangat sederhana dan perlu penyempurnaan. Oleh karena itu kami sebagai seorang penulis (dalam tahap pembelajaran) membutuhkan saran dan kritik kepada para pembaca khususnya pembimbing kami yang kami hormati Ust. Farid Ahmad Oqbah guna menyempurnakan kekurangan  dalam penulisan Makalah ini.

Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala senantiasa menunjukkan kita semua kepada jalan yang Ia ridhoi dan diselamatkan dari hal-hal yang keliru, Amin.


[1] HR. Bukhari(44), Muslim(193), Ahmad(3/173).

[2] Abdullah bin Hamid al-Atsari, al-Imanu Haqiqatuhu Hawarimuhu Nawaqiduhu ‘Inda Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 26.

[3] Ibid, hal.27.

[4] Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Gunaiman, Ali bin Nafi’ al-‘Ulyani, Aqwalut Tabi’in fie Masa’ilit Tauhid wal Iman, (Riyad: Daar at-Tauhid, 1424 H), cet. Ke-I, hal. 1204.

[5] Ibid.

[6] Dr. Muhammad bin Musa al Nashr, al-Intishor Bisyarhi ‘Aqidati ‘Aimmatil Amshor, (daar al-atsariyah), hal. 52-53.

[7] Muhammad bin ‘Abdirrahman al-Khumayyiz, I’tiqadul ‘Aimmah al-Arba’ah, (Riyad: Daar al-‘Ashimah, 1412 H), cet. Ke-I, hal. 19.

[8] ‘Ainul yaqin artinya melihat dengan mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat.

[9] Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Fatawa, hal. 309-311.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: